Belajar dari Broken String Aurelie Moeremans: Mengapa Korban Sulit Lepas dari Jerat Pelaku?

suara.com
20 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Aktris Aurelie Moeremans mengungkap luka masa kecilnya sebagai korban child grooming melalui buku viral berjudul The Broken String.
  • Psikolog menjelaskan bahwa keterlambatan korban bersuara disebabkan oleh jebakan emosional kompleks seperti trauma bonding dan intermittent reinforcement.
  • Kasus ini menjadi alarm bagi industri hiburan mengenai normalisasi kekerasan dan perlunya sistem perlindungan anak yang lebih konkret.

Suara.com - Senar yang putus tidak selalu langsung terlihat rusak. Kadang ia masih tergantung di gitar, masih tampak utuh, bahkan masih dipaksa berbunyi. Tapi nadanya sumbang—dan rasa sakitnya tersembunyi. Itulah Broken String, metafora yang dipilih Aurelie Moeremans untuk menceritakan luka masa kecilnya.

Bukan sekadar kisah sedih, melainkan pengakuan tentang bagaimana seorang anak bisa dirusak perlahan, dibungkam sistem, lalu dipertanyakan saat akhirnya berani bersuara.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi Aurelie Moeremans untuk membuka pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming.

Lewat buku The Broken String yang viral, aktris yang tumbuh di industri hiburan sejak usia belia itu mengungkap relasi kuasa yang manipulatif, melukai, dan membentuk luka jangka panjang.

Pertanyaannya kemudian bergeser: mengapa korban sering terlambat bersuara? 

Broken String Bukan Sekadar Kiasan Kesedihan

Dalam pengakuannya, Aurelie tidak menulis tentang satu peristiwa tunggal. Ia menulis tentang proses panjang kehilangan rasa aman, kehilangan batas, dan kehilangan suara.

Bagi penyintas child grooming, broken string bukan metafora puitis. Ia adalah deskripsi akurat tentang instrumen jiwa yang dipaksa rusak bahkan sebelum sempat berbunyi indah.

Psikolog Mira Amir menjelaskan, keterlambatan korban untuk bersuara bukan soal kurangnya keberanian. Dalam banyak kasus, korban justru berada dalam kondisi psikologis yang sangat kompleks.

Baca Juga: Diancam Sosok Bobby? Hesti Purwadinata Tak Takut Bela Aurelie Moeremans

“Child grooming ini nggak berdiri sendiri,” kata Mira.

“Nggak pernah ada satu faktor. Pasti multifaktor,” tegasnya.

Menurutnya, publik kerap menyederhanakan kasus semacam ini seolah hanya soal satu orang jahat. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.

Relasi yang terbentuk sejak korban masih anak-anak menciptakan jebakan emosional yang tidak sederhana. Terlebih ketika pengalaman itu terjadi di usia 14–15 tahun—fase remaja yang secara psikologis belum matang, tapi sering dianggap sudah “cukup dewasa” oleh lingkungan.

“Dia mengalami itu waktu usia 14-15 tahun, itu usia remaja yang masih fase sulut dikasih tahu," ucap Mira.

Dalam kondisi seperti itu, keputusan korban tidak pernah sesederhana mau atau tidak mau.

Infografis child grooming. (Suara.com/Ema)

“Kenapa Tidak Lari Saja?”

Pertanyaan ini kerap muncul, dan sering melukai. Jawabannya, bukan karena korban tidak ingin pergi. Tetapi karena secara neurologis, ia sedang diikat.

Dalam relasi kuasa yang timpang seperti yang dialami Aurelie, terjadi fenomena trauma bonding. Pelaku tidak selalu bersikap jahat. Justru sebaliknya, mereka kerap memulai dengan love bombing: perhatian berlebihan, validasi emosional, dan rasa “dipilih”.

Kekerasan lalu diselingi momen manis—pola yang dalam psikologi disebut intermittent reinforcement atau penguatan berselang. Otak korban terjebak dalam siklus harap–takut, mirip mekanisme kecanduan judi.

Korban bertahan bukan karena nyaman, tapi karena terus mengejar momen manis berikutnya.

Ketika Industri Ikut Menormalkan

Kasus Aurelie juga membuka percakapan yang lebih besar: bagaimana industri hiburan sering kali ikut menormalisasi kondisi berbahaya.

  • Kultus kedewasaan dini: Artis remaja dituntut tampil matang demi peran. Batas antara profesionalisme dan eksploitasi menjadi kabur.
  • Relasi kuasa yang bias: Hubungan senior–junior atau mentor–anak didik sering dianggap suci. Perhatian berlebih dari figur dewasa kerap dibaca sebagai “bimbingan”, padahal bisa menjadi tahap awal grooming.
  • Bystander effect: Di lokasi syuting atau manajemen, banyak orang melihat ada yang tidak beres, tetapi memilih diam demi kelancaran produksi atau menganggapnya urusan pribadi.

Saat semua orang diam, predator merasa aman.

Ketika Korban Terlihat “Baik-Baik Saja”

Salah satu bagian paling menyakitkan dari kasus seperti ini adalah bagaimana korban sering tampak setuju, tersenyum, bahkan terlihat menjalani hidup normal.

Dalam psikologi, respons ini dikenal sebagai fawn response—upaya korban untuk menyenangkan pelaku demi meminimalisir ancaman. Bukan karena setuju, melainkan karena bertahan hidup.

Bagi publik, ini sering disalahartikan sebagai konsensus. Padahal, dalam konteks anak di bawah umur, konsensus itu tidak pernah ada.

Komisioner KPAI Dian Sasmita menegaskan, dalam relasi yang melibatkan anak dan orang dewasa, tidak ada konsep suka sama suka.

“Dalam konteks anak tidak ada juga consent. Karena anak belum cukup usia dan kematangan psikisnya,” ujarnya.

Infografis child grooming. (Suara.com/Ema)

Alarm untuk Industri Hiburan

Pengakuan Aurelie seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan nostalgia luka. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyebut child grooming sebagai ancaman nyata yang sering terjadi secara tersembunyi—di keluarga, komunitas, pendidikan, hingga ruang digital.

Teknologi bahkan memperluas medan kejahatan ini, dari media sosial hingga gim daring.

Karena itu, perubahan tidak bisa berhenti di empati. Ia harus menjadi sistem.

Beberapa langkah konkret yang mendesak:

  • Intimacy coordinator di lokasi syuting untuk menjaga batas fisik dan emosional.
  • SOP perlindungan anak di manajemen artis, termasuk aturan interaksi di luar jam kerja.
  • Literasi grooming bagi kru, orang tua, dan anak, agar tanda-tanda awal tidak lagi diabaikan, karena Aurelie Moeremans telah menunjukkan lukanya.

Tugas kita sekarang bukan hanya menonton, tapi memastikan tidak ada lagi anak yang dirusak oleh sistem yang memilih diam.

Bagi Mira, pengakuan Aurelie lewat Broken String seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar kisah masa lalu.

Ia menekankan bahwa child grooming adalah akibat dari banyak faktor yang saling terkait, mulai dari keluarga, lingkungan, relasi kuasa, dan sistem yang gagal melindungi anak.

"Child grooming ini bisa jadi akibat,” kata Mira.

Dan ketika publik hanya mencari satu pihak untuk disalahkan, yang terjadi justru pengulangan kekerasan yang sama.

Mengalami Hal Serupa?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami kekerasan terhadap anak atau perempuan, kamu tidak sendirian.

Kamu bisa menghubungi Layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA 129):

  • Telepon: 129
  • WhatsApp: 08111-129-129

SAPA 129 adalah hotline resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk pengaduan, pendampingan, dan perlindungan korban kekerasan.

Berani bersuara memang tidak mudah. Tapi setiap suara yang didengar adalah satu senar yang tidak lagi dibiarkan putus sendirian.

Aurelie Moeremans telah membuka luka yang selama ini disimpan. Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa ia terlambat bersuara, melainkan apakah sistem, terutama industri hiburan, bersedia mendengar, belajar, dan berubah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
1.000 Pelajar SLTA se-Indonesia Angkat Peran Ibu sebagai Pahlawan Keluarga lewat MVP PNM
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
DPN Lantik 12 Tenaga Ahli, Salah Satunya Anak Emha Ainun Nadjib
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri WEF 2026 di Davos
• 16 jam laluidntimes.com
thumb
Mobil BYD Buatan Indonesia Segera Jadi Kenyataan
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal Salat Makassar 17 Januari 2026
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.