Tak begitu lama dari suara langkah kaki itu terdengar anak-anak seumuran sekolah dasar muncul di ujung Terminal Ciboleger, masing-masing dari mereka memanggul sekumpulan durian.
Setiap anak memanggul 12 durian. Enam durian dicencang di ujung kayu bagian depan, sisanya ditalikan di belakang. Durian yang mereka panggul itu sudah dibeli oleh pengepul yang biasanya menunggu di Terminal Ciboleger, salah satu pintu masuk menuju Baduy Luar dan Dalam. Untuk setiap durian yang dibawa, mereka diupah Rp 1.000.
Mereka adalah warga Baduy Luar, terlihat dari corak pakaian hitam-hitam yang dikenakan. Mereka tinggal di perkampungan Baduy yang berada di kawasan Perbukitan Kendeng. Warga Baduy Luar dan Dalam tersebar di sekitar 60 kampung yang berada di pegunungan tersebut. Mereka hidup selaras dan menjaga harmoni dengan alam. Urang Baduy mengandalkan hidup dengan berladang, menjual hasil kerajinan tangan seperti tenun dan tas dari kulit kayu, berkebun, serta memanen hasil hutan termasuk madu dan durian.
Durian Baduy memang tenar. Setiap akhir pekan, ketika musim durian tiba, Terminal Ciboleger yang luasnya kira-kira hanya separuh lapangan sepak bola dipenuhi oleh kendaraan bernomor polisi B.
”Tahun lalu saya bahkan harus parkir kendaraan hingga di dekat pertigaan, depan Puskesmas Cisimeut, karena Terminal Ciboleger sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan,” ungkap Iwan (50), warga Depok, Jawa Barat, yang sedang mengunjungi Baduy Luar. Adapun jarak dari pertigaan hingga ke Terminal Ciboleger sekitar 300 meter.
Biasanya selain berburu durian, para pengunjung juga akan treking mengitari kawasan perkampungan Baduy Luar hingga ke Jembatan Bambu Gazeboh yang berkontur naik turun memutari bukit dengan jarak sekitar 3 kilometer. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat berbelanja durian yang dijajakan oleh warga di setiap kampung yang dijumpai.
Suara langkah-langkah kaki berat yang berjalan dengan cepat ketika melalui turunan anak tangga lumrah terdengar ketika musim durian di Baduy tiba. Namun, musim durian kali agak beda. Setiap Januari yang biasanya menjadi musim raya durian di Baduy tak begitu terlihat vibes-nya. Tumpukan durian milik pengepul yang biasanya memenuhi sepanjang sudut di Terminal Ciboleger juga tak tampak.
”Musim ini durian kurang bagus, tidak berbuah banyak,” ujar Caikin, warga Baduy Luar yang tinggal di Kampung Leuwi Buleud, Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Hal senada juga dilontarkan oleh Sanim (40), warga Baduy Luar yang tinggal di Kampung Gajeboh.




