Riset BRIN: Faktor emisi karbon Jawa-Sumatra tertinggi di Indonesia

antaranews.com
14 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa faktor emisi karbon dari ekosistem lamun di Indonesia tidak seragam, dengan wilayah Jawa dan sebagian Sumatra menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya.

Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN Aan Johan Wahyudi melalui keterangan di Jakarta, Sabtu menerangkan degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan wilayah lain.

"Kalau kita bicara karbon biru, selama ini fokusnya selalu pada penyerapan. Padahal, dalam carbon accounting, yang dihitung bukan hanya yang diserap, tetapi juga yang diemisikan," kata Aan.

Ia menggunakan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun. Faktor emisi adalah angka yang menggambarkan seberapa besar karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan.

"Dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun, dan berpotensi juga mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir," ujarnya.

Aan juga menggunakan pendekatan chronosequence modeling, dengan membandingkan kondisi padang lamun yang masih relatif baik dengan yang telah terdegradasi, untuk memperkirakan perubahan kondisi karbon dari waktu ke waktu.

Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir tinggi, terutama Jawa dan sebagian Sumatra.

Sebaliknya, wilayah seperti Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan nilai faktor emisi yang lebih rendah.

"Tekanan antropogenik di wilayah padat penduduk membuat potensi emisinya lebih besar," ungkapnya.

Aan menjelaskan fungsi penyimpanan karbon tersebut dapat berubah ketika lamun mengalami gangguan. Aktivitas manusia di wilayah pesisir, seperti reklamasi, pengerukan, maupun peningkatan sedimentasi, dapat menghambat pertumbuhan lamun dan memicu degradasi ekosistem, serta menyebabkan pelepasan atau emisi karbon.

Ia menambahkan lamun memang memiliki kemampuan menyaring sedimen, tetapi kemampuan tersebut tetap memiliki batas. Jika jumlah sedimen yang masuk terlalu besar, keseimbangan ekosistem akan terganggu.

"Sederhananya, ketika lamun sehat, karbon diserap dan disimpan. Namun, ketika rusak misalnya karena reklamasi atau pengerukan (maka) daun, akar, dan bagian lamun lainnya mengalami pembusukan. Proses dekomposisi inilah yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer," ucap Aan Johan Wahyudi.

Baca juga: Pengelolaan karbon biru turut melibatkan masyarakat adat

Baca juga: Pemerintah siapkan 17 lokasi untuk kawasan cadangan karbon biru

Baca juga: KKP: Padang lamun ekosistem karbon biru siap diperdagangkan


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Babak Baru Kasus Eggi Sudjana Terkait Tudingan Ijazah Palsu Jokowi
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Mobil BYD Buatan Indonesia Segera Jadi Kenyataan
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Trump Ancam Tarif kepada Negara-Negara yang Menolak Rencana AS Kuasai Greenland
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Polda Metro Pastikan Kasus Eggi Sudjana Belum SP3 Meskipun Permohonan Restorative Justice Telah Diterima
• 16 jam laludisway.id
thumb
India Open 2026: Jonatan Christie ke Semifinal, Ungkap Kunci Kemenangannya
• 18 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.