Moms, seringkali kita lalai akan kesehatan ginjal akibat terlalu sering mengonsumsi obat-obatan tertentu dan makan makanan tak sehat dan kanker ginjal bisa dialami oleh wanita maupun pria.
Sayangnya, kanker ginjal tahap awal tak menunjukkan adanya gejala serius, kecuali pasien sudah memasuki tahap lanjut. Dijelaskan oleh Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, Sp.U (K) Onk, FICRS Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono," kanker ginjal berbeda dengan gagal ginjal kronis yang banyak orang salah paham".
Dilanjutkan oleh Prof. Agus," kanker ginjal adalah pertumbuhan sel-sel ginjal yang abnormal hingga menjadi ganas. Sedangkan gagal ginjal kronis merupakan kegagalan fungsi ginjal dalam menyaring darah secara sempurna," ujarnya saat sesi tanya jawab.
Seperti kanker pada umumnya, kanker ginjal muncul akibat berbagai faktor. Prof. Agus menyebut sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari kebiasaan merokok, obesitas, hipertensi, hingga metabolic syndrome.
Kondisi metabolic syndrome biasanya ditandai dengan kadar gula darah dan kolesterol yang tinggi. Faktor genetik juga turut berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengidap kanker ginjal.
Soal usia, kanker ginjal tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Meski prevalensinya memang lebih tinggi pada orang tua, kanker ini juga bisa muncul sejak usia muda, terutama pada individu yang memiliki kerentanan genetik.
"Kalau seseorang punya faktor genetik, kanker ginjal bisa muncul sejak usia muda," ujar Prof. Agus.
Untuk penanganan kanker ginjal bergantung pada stadium dan luas penyebaran tumor. Jika kanker masih terbatas di area ginjal, dokter dapat melakukan operasi pengangkatan tumor saja. Namun, jika ukuran tumor sudah besar, pengangkatan ginjal secara keseluruhan mungkin diperlukan.
Sementara itu, jika kanker telah menyebar ke organ lain, pasien umumnya memerlukan terapi lanjutan berupa imunoterapi.
Prof. Agus menegaskan bahwa kemoterapi kini bukan lagi pilihan utama dalam pengobatan kanker ginjal. Meski telah menjalani operasi, risiko kekambuhan juga tetap ada. "Saat operasi bisa saja ada sel tumor yang tertinggal dan kemudian tumbuh kembali," ujar Prof. Agus. Prof. Agus menyarankan kelompok berisiko untuk rutin melakukan screening kesehatan.
"Pasien dengan obesitas, hipertensi, atau kebiasaan merokok sebaiknya melakukan screening jika muncul gejala. Begitu juga mereka yang punya riwayat keluarga dengan kanker ginjal," terangnya.
Namun, Moms dan Dads tak perlu khawatir, di zaman modern seperti saat ini, penyembuhan kanker ginjal bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi robotik. Eka Hospital MT Haryono kini menghadirkan teknologi bedah robotik Da Vinci XI, sistem bedah minimal invasif yang memungkinkan tindakan dilakukan dengan presisi tinggi.
Meski kerap disebut robot, Da Vinci XI tetap sepenuhnya dikendalikan oleh dokter spesialis. Teknologi ini membantu dokter menjangkau area operasi yang sulit tanpa harus membuat banyak sayatan besar. Sistem Da Vinci XI terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, sistem audiovisual yang memungkinkan dokter melihat area operasi dengan sangat jelas. Kedua, patient cart dengan empat lengan robot yang berada langsung di atas pasien. "Ketiga, surgical console, tempat dokter duduk dan mengendalikan pergerakan lengan robot secara ergonomis," ungkap Prof. Agus.
Melalui konsol ini, dokter dapat melihat kondisi organ pasien dalam tampilan tiga dimensi (3D), sehingga pergerakan alat menjadi lebih presisi dan bebas tremor.
Perbedaan utama antara operasi robotik dan laparoskopi konvensional terletak pada kestabilan dan fleksibilitas alat. Lengan robot Da Vinci XI mampu berputar dan meliuk menyerupai tangan manusia, sehingga sayatan dapat dilakukan lebih akurat tanpa risiko tremor atau kelelahan tangan.
Keunggulan lainnya, sistem ini dilengkapi empat lengan robot, memungkinkan satu dokter melakukan tindakan yang biasanya membutuhkan dua operator.
Bagi pasien, operasi robotik menawarkan masa pemulihan yang lebih cepat karena sayatan minimal dan tingkat presisi yang tinggi. Rendahnya angka komplikasi pascaoperasi juga membuat banyak pasien dapat keluar dari rumah sakit lebih cepat dibandingkan operasi konvensional.
"Teknologi robotik merupakan bagian dari masa depan dunia kedokteran. Kami berupaya terus mengadopsi kemajuan medis agar pasien di Indonesia bisa mendapatkan perawatan terbaik tanpa harus berobat ke luar negeri," tutup Prof. Agus.




