REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir berharap peringatan Isra Miraj menjadi titik tolak untuk menggali keteladanan Nabi Muhammad SAW. Ia menilai saat ini bangsa Indonesia, termasuk umat beragama dan para pemimpin atau elite, tengah mengalami krisis keteladanan.
Pernyataan itu disampaikan Prof Haedar dalam refleksi Isra Miraj 1447 Hijriah. Ia mengatakan momen Isra Miraj tidak boleh dilepaskan dari konteks kehidupan nyata dan berhenti sebatas perayaan seremonial.
Baca Juga
Iwan Koswara: Isra Miraj Momentum Penguatan Karakter Generasi Muda
Makna Isra Miraj bagi Kehidupan Kita
Selain Spiritual, Menag: Isra Miraj Mengingatkan Pentingnya Menjaga Bumi
"Isra Miraj, merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Sebab, peristiwa ini menjadi mukjizat 'di luar nalar' manusia pada umumnya, sehingga menuntut keyakinan penuh kepada kekuasaan Allah SWT," kata dia, Jumat (16/1/2026).
Haedar menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa agung tersebut harus diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan serta spiritualitas pribadi yang lebih salih. Isra Miraj dapat dijadikan momentum untuk membangun relasi ketuhanan, baik oleh warga maupun para pemimpin bangsa. .rec-desc {padding: 7px !important;} Relasi tersebut diharapkan mampu menguatkan tauhid, iman, dan takwa, sehingga melahirkan jiwa yang saleh dalam kehidupan sehari-hari. Kesalihan pribadi harus menjadi rambu-rambu moral yang menghalangi manusia dari berbagai perilaku menyimpang, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, perbuatan jahat, perilaku buruk, berkata kasar, dan tindakan tidak pantas lainnya. "Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi muraqabah," katanya.