Inovasi teknologi migas kembali diadaptasi PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk menjawab persoalan dasar masyarakat desa, khususnya dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan infrastruktur air bersih. Melalui Program Pusaka Artha, anak usaha Pertamina Gas di bawah Pertamina Subholding Gas ini menerapkan teknologi pigging, yang lazim digunakan di industri migas, sebagai solusi efisien pembersihan pipa air desa.
Manager Communication Relation & CSR Pertagas, Imam Rismanto, menjelaskan bahwa penerapan teknologi pigging merupakan wujud komitmen perusahaan untuk menghadirkan inovasi yang relevan dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Pertagas membawa teknologi yang biasa diterapkan di industri migas sebagai solusi bagi masyarakat desa dalam membersihkan jaringan pipa air yang efisien dan berkelanjutan,” ujar Imam.
Baca juga : Masih Jadi Kendala, Penyediaan Infrastruktur Gas Harus Digenjot
Ia menambahkan, sebagai perusahaan yang mengelola jaringan infrastruktur energi terintegrasi, Pertagas terus mendorong transfer teknologi agar manfaat keunggulan industri dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sebagai proyek percontohan, Pertagas menurunkan teknisi untuk menerapkan teknologi pigging di Desa Sidomulyo, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. Program ini dilengkapi dengan Workshop Pengenalan Inovasi Sistem Pigging yang digelar langsung di area Pamsimas RT 05, sehingga warga dapat menyaksikan dan memahami praktik penerapan teknologi secara langsung.
Dalam uji coba teknis yang dipandu teknisi Pertagas, Deka, metode pigging terbukti mampu memberikan perubahan signifikan. Dengan memanfaatkan tekanan air pompa untuk mendorong alat sikat khusus (pig), pembersihan pipa dapat dilakukan secara in-situ tanpa perlu bongkar pasang. Waktu pengerjaan pun terpangkas drastis menjadi hanya 1-2 jam dengan kebutuhan tenaga kerja 1-2 orang.
Baca juga : Progres Baru 33%, Kilang Balikpapan Ditargetkan Beroperasi 2024
Sebelum inovasi ini diterapkan, pengurus Pamsimas Desa Sidomulyo menghadapi kendala efisiensi serius. Ketua Paguyuban Pamsimas RT 05, Santo, menjelaskan bahwa metode manual sebelumnya mengharuskan pengangkatan seluruh unit pompa dan pipa ke permukaan, dengan durasi pengerjaan mencapai 6–8 jam dan melibatkan 3–5 orang.
“Perbedaannya sangat terasa. Dulu, servis pipa terasa berat karena butuh gotong royong seharian. Sekarang prosesnya jauh lebih ringan dan cepat. Karena mudah, kami bisa membersihkan pipa seminggu sekali, membuat air yang sampai ke warga jauh lebih lancar dan jernih,” ungkap Santo.
Imam Rismanto menegaskan bahwa Pertagas akan terus mengembangkan pemanfaatan teknologi migas untuk menjawab persoalan riil di masyarakat.
“Kami berharap inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pemeliharaan, tetapi juga memastikan keberlanjutan akses air bersih bagi warga,” katanya.
Program Pusaka Artha juga sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) Pertagas. Inisiatif ini mendukung SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan kualitas infrastruktur air, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat transfer teknologi yang memperkuat efisiensi dan kemandirian masyarakat pedesaan. (E-3)





