Ketika Dunia Menjadi Tuhan: Ambisi, Jabatan, & Kerusakan Nurani di Ruang Publik

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita
Tiga Mahkota yang Menghipnotis

Kekayaan, jabatan, dan keturunan sering tampil seperti tiga mahkota yang membuat manusia merasa “selesai.” Siapa yang punya harta dianggap berhasil, siapa yang punya jabatan dianggap benar, siapa yang punya nama besar dianggap layak dihormati. Padahal sejarah manusia—melampaui agama, bangsa, dan zaman—selalu mengulang satu pelajaran yang sama: yang paling cepat merusak manusia bukan kemiskinan, melainkan kuasa tanpa kendali moral.

Masalahnya bukan karena kekayaan itu ada, jabatan itu dibutuhkan, atau keturunan itu dianugerahkan. Semua itu bisa menjadi nikmat. Masalah muncul ketika nikmat bergeser menjadi pusat identitas. Harta tidak lagi sarana, tetapi standar harga diri. Jabatan tidak lagi amanah, tetapi puncak eksistensi. Keturunan tidak lagi titipan, tetapi alasan untuk merasa kebal. Sejak itu, pertanyaan hidup pun berganti: bukan lagi “apa yang benar?”, melainkan “apa yang menguntungkan?”

Di sinilah kompas mulai bergeser. Manusia tidak selalu menjadi jahat karena niat buruk, tetapi sering karena kehilangan orientasi. Dunia yang seharusnya ditempatkan proporsional justru didudukkan sebagai tujuan akhir.

Ambisi: Dari Energi Menjadi Pembenaran

Ambisi pada dirinya bukan dosa. Dalam banyak hal, ambisi adalah bahan bakar perubahan. Ia mendorong orang belajar, bekerja keras, dan melampaui batas nyaman. Namun ambisi hanya sehat jika berjalan di atas rel nilai. Ketika ambisi dilepas tanpa pagar moral, ia akan mencari jalan pintas. Akal sehat tidak hilang karena tidak ada, melainkan dibisukan karena dianggap mengganggu rencana.

Pada tahap awal, kerusakan moral sering muncul sebagai kompromi kecil. Sekali dimaafkan, lalu diulang. Diulang, lalu dinormalisasi. Dari sini kita menyaksikan pola yang makin akrab di ruang publik: kompetensi dipinggirkan, integritas dianggap aksesori, rekam jejak dipoles, citra menggantikan kenyataan. Orang yang lebih pantas berubah status dari kawan menjadi ancaman.

Dalam banyak peristiwa kontemporer—tanpa perlu menyebut nama—kita melihat orang yang berprestasi justru tersingkir, sementara mereka yang piawai “bermain” bertahan. Bukan karena yang pertama salah, melainkan karena yang kedua lebih mudah dikendalikan. Inilah saat ambisi tidak lagi mendorong kebaikan, tetapi mulai memproduksi kerusakan.

Fitnah dan Industri Persepsi

Ketika ambisi bertemu teknologi, lahirlah industri persepsi. Kebohongan tidak lagi tampil kasar, tetapi rapi dan sistematis. Ia memanfaatkan satu fakta psikologis: emosi menyebar lebih cepat daripada data. Ia memanfaatkan satu realitas digital: algoritma lebih peduli pada keramaian daripada kebenaran.

Akibatnya, fitnah menjadi murah dan efektif. Ia tidak memerlukan bukti kuat, cukup pengulangan. Ia tidak memerlukan nalar jernih, cukup kemarahan. Kebohongan sering naik lift; kebenaran masih mencari tangga darurat.

Kebohongan yang dibiarkan lama-kelamaan tidak lagi ditelan karena diyakini, tetapi karena publik lelah melawan arus. Inilah titik berbahaya ketika masyarakat berubah sinis. Sinisme kolektif merusak lebih cepat daripada kebijakan yang buruk, sebab sinisme membuat orang berhenti peduli. Ketika publik tidak lagi percaya pada apa pun, ruang kuasa menjadi semakin liar.

Bagi yang beriman, peringatan ini keras. Namun dibaca secara universal, pesannya sederhana: kebohongan publik selalu meninggalkan jejak kerusakan—meski pelakunya merasa aman.

Jabatan yang Berubah Menjadi Berhala

Masalah tidak berhenti ketika ambisi berhasil mencapai jabatan. Justru di sinilah sering kali masalah baru dimulai. Jabatan yang seharusnya menjadi alat pelayanan berubah menjadi pusat kepentingan. Kekuasaan yang semula diamanahkan untuk mengatur berubah menjadi sarana untuk mengamankan.

Dalam banyak kasus, jabatan diperlakukan seperti investasi. Ada mental “balik modal.” Wewenang dianggap komoditas. Publik dilihat sebagai objek. Dari sini lahir penyalahgunaan kewenangan yang sistematis. Standar ganda menjadi kebiasaan. Kawan diberi toleransi, lawan diberi stigma. Yang benar dinilai berdasarkan kedekatan, bukan kebenaran. Keadilan tidak lagi berdiri di atas prinsip, tetapi di atas hubungan.

Ketika uang dan kuasa menyetir keputusan, hukum kehilangan jiwa. Dampaknya bukan hanya kerugian material, tetapi kerusakan kepercayaan. Masyarakat tidak lagi yakin bahwa keadilan bisa dicari dengan cara yang sah. Ini jauh lebih berbahaya daripada satu kasus pelanggaran, karena ia merusak fondasi bersama.

Tuli, Buta, dan Bisu Secara Moral

Kerusakan terburuk bukan saat orang berbuat salah, melainkan saat orang tidak lagi merasa salah. Inilah fase runtuhnya fungsi batin. Orang bisa melihat fakta, tetapi menolak mengakuinya. Bisa mendengar kebenaran, tetapi menutup telinga. Bisa berbicara tentang nilai, tetapi nilai itu tidak pernah turun menjadi tindakan.

Pada fase ini, keburukan dinormalisasi. Fitnah disebut strategi komunikasi. Suap disebut biaya. Kolusi disebut jaringan. Ketidakadilan disebut konsekuensi politik. Batas benar–salah tidak hilang; batas itu sengaja dihapus.

Firaun yang Bermetamorfosis

Di sinilah pola lama muncul dengan wajah baru. Kisah Firaun bukan sekadar cerita masa lalu; ia adalah arketipe kekuasaan tanpa Tuhan. Zaman berganti, bentuk berubah, tetapi esensi sama: merasa tidak bisa salah, alergi pada koreksi, memusuhi kritik.

Firaun modern tidak berteriak mengaku Tuhan. Ia tampil lebih halus. Ia membangun ekosistem loyalis. Orang jujur disingkirkan karena sulit dikendalikan. Orang bermasalah dipelihara karena mudah diikat. Lingkaran kekuasaan diisi oleh mereka yang berutang budi. Kebenaran tidak masuk bukan karena tidak ada, melainkan karena pintunya dijaga kepentingan.

Pada tahap inilah penyakit itu bernama terang: keinginan tidak lagi dikendalikan, justru dipertuhankan. Hasrat menjadi pusat. Akal berubah menjadi pengacara pembenaran. Nurani menjadi formalitas.

Jalan Sunyi yang Menyelamatkan

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengutuk, apalagi membuat putus asa. Ia adalah ajakan mengembalikan kompas. Jalan pulang sering sunyi karena tidak semua orang berani jujur. Namun justru di situlah kehormatan moral berdiri.

Perubahan besar jarang dimulai dari pidato besar. Ia dimulai dari disiplin kecil yang konsisten: menolak menyebar fitnah, memeriksa fakta, menahan prasangka, menjaga adab berbeda pendapat, dan berani benar meski tidak populer. Bangsa yang kuat bukan bangsa yang bebas kritik, melainkan bangsa yang mampu mengolah kritik menjadi koreksi.

Dunia boleh dicari, tetapi tidak disembah. Jabatan boleh diraih, tetapi tidak dipertuhankan. Nama baik boleh dijaga, tetapi tidak dibangun dengan merusak orang lain. Kehormatan sejati lahir dari integritas, bukan dari panggung.

Pada akhirnya, apa pun yang kita genggam akan lepas. Yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban—di hadapan Tuhan bagi yang beriman, di hadapan sejarah bagi siapa pun, dan di hadapan nurani bagi yang masih punya nurani.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rumah Rusak Berat Banjir Sumatera Dapat Bantuan Stimulan Rp 60 Juta
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Anggota Brimob Polda Aceh Gabung Militer Rusia Sudah Dipecat Tidak Hormat
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
MU Tekuk Manchester City 2-0: Dorgu jadi Bintang, Dalot Hampir Diusir Wasit
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
ATR Aircraft Lost Contact in Maros, Search and Rescue Operation are Underway
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menkop Lepas Ekspor 96 Ton Kopi Robusta asal Subang
• 9 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.