Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya penguatan nilai cinta, toleransi, dan persaudaraan lintas iman dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut disampaikan saat memberikan arahan pada Temu Tokoh Lintas Agama Provinsi Maluku, pada Jumat, 16 Januari 2026.
Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa kurikulum cinta harus menjadi pendekatan pendidikan nilai yang diterapkan sejak dini. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga harus membangun karakter, empati, dan kepedulian sosial, khususnya di daerah dengan keberagaman tinggi seperti Maluku.
"Seharusnya lebih mudah bagi kita menemukan persamaan dan titik temu dari keragaman agama kita, daripada perbedaannya. Karena pada dasarnya semua agama itu mengajarkan tentang cinta," ujar Nasaruddin dalam keterangan tertulis, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menag juga mengibaratkan agama seperti energi nuklir yang memiliki kekuatan luar biasa. Jika dipahami dan dikelola dengan bijak, agama dapat menjadi sumber kedamaian dan kesejahteraan. Namun sebaliknya, jika disalahpahami, agama berpotensi menimbulkan konflik sosial.
"Agama itu seperti nuklir, bisa menjadi kekuatan positif yang luar biasa. Namun jika salah, bisa menjadi kekuatan negatif yang dahsyat pula," tegasnya.
Kemudian, Menag mengajak para tokoh agama dan masyarakat untuk terus memupuk persaudaraan lintas iman. Ia menegaskan bahwa persaudaraan sejati tidak dibatasi oleh perbedaan agama, melainkan dibangun atas dasar kemanusiaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Dalam ajaran agama, setiap orang beriman itu bersaudara. Bukan hanya dalam satu agama, tetapi dalam semangat kemanusiaan," ucapnya.
Pada kesempatan tersebut, Menag juga menandatangani enam plakat peresmian sarana keagamaan dan layanan publik di Maluku, di antaranya Masjid Ashabul Yamin Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu Kankemenag Kota Ambon, serta sejumlah gedung madrasah dan balai nikah di Maluku Tenggara dan Leihitu.
Melalui kegiatan ini, ia berharap para tokoh agama dapat menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat, menyebarkan nilai cinta kasih, toleransi, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup sesuai semangat ekoteologi.
Temu tokoh lintas agama ini juga diharapkan memperkuat sinergi antarumat beragama dalam menjaga stabilitas sosial dan persatuan bangsa, khususnya di Provinsi Maluku.
Editor: Redaksi TVRINews




