FAJAR, TEHERAN– Demo besar-besaran antipemerintah selama sepekan terakhir ini di Iran sudah menewaskan kisaran3.428 orang. Saat ini, gelombang unjuk rasa sudah mulai mereda. Pemerintah Iran melakukan Tindakan tegas dengan memutus akses internet sehingga membuat lebih dari 85 juta warga Iran terisolasi dari dunia luar.
Aksi tersebut dipicu oleh keluhan kondisi ekonomi yang semakin sulit ini mulai terjadi pada akhir Desember seiring melemahnya mata uang setempat, rial Iran. Para pengunjuk rasa memprotes fluktuasi tajam nilai tukar dan dampaknya terhadap harga di tingkat grosir maupun eceran.
Dalam beberapa demonstrasi, terdengar teriakan dukungan terhadap sistem monarki, sesuatu yang pada masa lalu bisa berujung hukuman mati, namun kini mencerminkan besarnya kemarahan publik.
Lalu, berkembang menjadi gerakan massa yang lebih luas menuntut penghapusan sistem ulama yang telah memerintah Iran sejak revolusi tahun 1979 silam.
Orang-orang mulai turun ke jalanan di kota-kota besar Iran pada 8 Januari lalu, tetapi otoritas setempat segera memberlakukan pemadaman akses internet yang telah berlangsung selama lebih dari seminggu dan menurut para aktivis, bertujuan menutupi skala penindasan yang terjadi.
Institut Studi Perang yang berbasis di Amerika Serikat (AS), yang memantau unjuk rasa di Iran, menilai penindasan “brutal” tersebut kemungkinan telah menekan gerakan protes untuk saat ini.
“Pengerahan pasukan keamanan yang meluas oleh rezim dilakukan tidak berkelanjutan, yang memungkinkan aksi protes dapat berlanjut,” sebut Institut Studi Perang dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Sabtu 17 Januari 2026.
Sementara itu, laporan kelompok HAM yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), menyebut sedikitnya 3.428 demonstran telah dipastikan tewas akibat penindakan keras pasukan keamanan Iran. Namun IHR memperingatkan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya bisa beberapa kali lipat lebih tinggi.
Perkiraan lainnya, sebut IHR, menyebut jumlah korban tewas mencapai lebih dari 5.000 orang — dan mungkin setinggi 20.000 orang — dengan adanya pemadaman akses internet yang sangat menghambat verifikasi independen.
Saluran oposisi berbahasa Persia, Iran Internasional, yang berbasis di luar negeri dan mengutip sumber senior dalam pemerintah dan otoritas keamanan Iran, melaporkan sedikitnya 12.000 orang tewas selama unjuk rasa.
Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam mengutip kesaksian mengerikan dari para saksi mata yang diterima IHR tentang para demonstran yang ditembak mati saat berusaha melarikan diri, kemudian soal penggunaan senjata kelas militer, dan eksekusi mati di jalanan terhadap demonstran yang terluka.
Laporan terpisah Human Rights Activists in Iran (HRANA), yang berbasis di AS, menyebutkan bahwa berdasarkan data pada 15 Januari, sedikitnya 2.677 orang dikonformasi tewas dan sebanyak 1.693 dugaan kematian lainnya masih diselidiki.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, dalam tanggapannya saat berbicara kepada Fox News menyebut jumlah korban tewas adalah ratusan orang.
Araghchi menyangkal angka yang dilaporkan oleh kelompok-kelompok di luar negeri sebagai berlebihan dan kampanye disinformasi untuk memancing Presiden AS Donald Trump agar menepati ancamannya untuk menyerang Iran jika para demonstran terbunuh.Otoritas Iran terakhir kali melaporkan puluhan kematian anggota pasukan keamanan mereka, tetapi belum ada angka total terbaru.
Sebelumnya, Pemerintah Teheran menyalahkan Washington karena telah memicu aksi unjuk rasa dan mendorong terjadinya ketidakstabilan di negara tersebut, demikian disampaikan Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani dalam suratnya kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Dalam surat itu, Iravani menegaskan bahwa Iran mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) yang terus berlangsung, melanggar hukum, dan tidak bertanggung jawab, yang dilakukan bersama dengan rezim Israel, dalam mencampuri urusan dalam negeri Iran melalui ancaman, hasutan, serta dorongan yang disengaja terhadap ketidakstabilan dan kekerasan.
Ia juga menyinggung perubahan aksi unjuk rasa damai di Iran menjadi kerusuhan disertai aksi vandalisme. Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman terhadap otoritas Iran di tengah gelombang protes tersebut.
Pada Jumat 9 Januari 2026 waktu setempat, Trump mengatakan Washington akan turun tangan dan akan “memukul mereka sangat keras di titik yang paling menyakitkan” jika para pengunjuk rasa terbunuh dalam kerusuhan di Iran. (bs)




