REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia kian menegaskan langkahnya untuk tampil sebagai pemain strategis dalam pengembangan kedokteran masa depan, khususnya di bidang preventive, regenerative, anti-aging medicine, stem cell, dan gene therapy. Upaya ini mengemuka melalui penguatan kolaborasi antara pemangku kepentingan nasional dan tokoh kesehatan dunia guna mendorong regulasi yang adaptif sekaligus akselerasi inovasi medis berstandar global.
Presiden World Council of Preventive Regenerative and Anti-Aging Medicine (WOCPM) serta World Council of Stem Cell and Genetic (WOCS), Prof. dr. Deby Vinski, menilai kepemimpinan Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, berhasil menempatkan Indonesia pada jalur strategis dalam tata kelola kesehatan modern.
- PT KAI Tutup 316 Perlintasan Sebidang dan Gusur 52 Area Dekat Rel
- Kepala BNPB Pastikan Bantuan pada Penanganan Darurat dan Warga Terdampak Tanah Longsor Jepara
- Tiba di Nakhon Ratchasima, Kontingen Indonesia Tancap Gas Jelang ASEAN Para Games 2025
“Di bawah kepemimpinan Prof. Taruna Ikrar, BPOM RI mampu menjaga keseimbangan yang sangat penting antara keselamatan masyarakat, integritas ilmiah, dan percepatan inovasi medis. Ini adalah fondasi utama agar Indonesia bisa menjadi pusat pengembangan stem cell dan gene therapy dunia,” ujar Prof. Deby.
Menurutnya, regulasi yang kuat namun progresif menjadi kunci agar inovasi kesehatan berbasis teknologi tinggi dapat berkembang tanpa mengorbankan aspek keselamatan pasien. Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi hub global jika didukung oleh kebijakan yang visioner dan kolaborasi internasional yang berkelanjutan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dalam konteks pembangunan nasional, Prof. Deby menyebut penguatan sektor kesehatan berbasis teknologi maju sejalan dengan visi Prabowo Subianto menuju Indonesia Emas.
“Preventive, regenerative, anti-aging medicine, termasuk stem cell dan gene therapy, adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga daya saing bangsa,” tegasnya.
Sebagai ilmuwan Indonesia yang dipercaya memimpin dua badan dunia di bidang anti-aging, stem cell, dan genetika, Prof. Deby menilai peran Indonesia semakin diperhitungkan dalam peta kedokteran global. Ia juga dikenal sebagai tokoh di balik pengembangan teknologi celltech, stem cell, dan bank tali pusat berstandar internasional yang beroperasi di Vinski Tower dan Swiss, yang turut memperkuat reputasi Indonesia di sektor bioteknologi kesehatan.
Sementara itu, Prof. Taruna Ikrar juga memiliki rekam jejak internasional sebagai Presiden International Association of Medical Regulatory Authorities (IAMRA), yang memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring regulator kesehatan dunia. Kedua tokoh sepakat membangun kolaborasi jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi medis, tetapi juga pusat pengembangan ilmu, riset, dan layanan kesehatan berteknologi tinggi.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan pengembangan health tourism berbasis anti-aging dan stem cell therapy.
Bahkan, Indonesia diusulkan menjadi Pusat Stem Cell dan Gene Therapy Dunia, dengan RSPPN Panglima Besar Soedirman sebagai kandidat utama hospital hub layanan stem cell dan gene therapy oleh WOCPM dan WOCS.
BPOM RI menyambut baik arah kebijakan tersebut dan menyatakan kesiapan memperkuat kolaborasi global, khususnya dalam pengembangan regulasi Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP), stem cell, dan gene therapy. Langkah ini dinilai krusial untuk menjamin keselamatan pasien sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri kesehatan dunia.
“Jika semua pemangku kepentingan bergerak bersama, saya yakin Indonesia bisa menjadi pusat rujukan dunia dalam stem cell dan gene therapy, bukan hanya untuk kawasan Asia, tetapi global,” pungkas Prof. Deby.
Dengan sinergi antara regulator nasional dan pakar internasional, Indonesia diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam membentuk masa depan kedokteran global sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.




