Penunggu Rumah Buto Ijo, Film Horor Keluarga dengan Sentuhan Cerita Rakyat Nusantara, Begini Kisahnya

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Perkembangan film horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang semakin beragam. Jika sebelumnya genre ini identik dengan adegan kekerasan, teror brutal, dan visual ekstrem, kini mulai muncul karya-karya yang menawarkan pendekatan berbeda. 

Horor tidak lagi semata-mata mengandalkan darah dan kejutan berlebihan, tetapi juga membangun suasana, cerita, serta kedekatan emosional dengan penonton. Tren ini membuka ruang baru bagi film horor yang bisa dinikmati lebih luas, termasuk oleh keluarga.

Di tengah arus tersebut, sineas Indonesia mulai mengeksplorasi akar budaya lokal sebagai sumber cerita. Legenda rakyat, mitos daerah, hingga kisah-kisah yang hidup di masyarakat diolah ulang dengan sentuhan modern. 

Pendekatan ini tidak hanya memperkaya narasi horor, tetapi juga menghadirkan pengalaman menonton yang lebih kontekstual dan dekat dengan keseharian penonton Indonesia. Dari sinilah film Penunggu Rumah: Buto Ijo mengambil posisi yang cukup menarik.

Melansir dari Ruangfilm dan Tix, kisah ini hadir sebagai upaya menghadirkan horor yang lebih ramah bagi anak dan keluarga, tanpa kehilangan unsur misteri dan ketegangan. 

Alih-alih menonjolkan kekerasan visual, film ini memilih membangun atmosfer mencekam secara perlahan, sehingga dapat dinikmati lintas usia. Pendekatan tersebut membuat Penunggu Rumah: Buto Ijo tampil berbeda dibandingkan kebanyakan film horor lokal yang beredar saat ini.

Horor Keluarga Berbasis Cerita Rakyat Nusantara

Diproduseri oleh Gandhi Fernando, Penunggu Rumah: Buto Ijo mengangkat cerita rakyat Nusantara yang sudah dikenal luas, lalu dikemas dalam balutan horor modern yang ringan. 

Sosok Buto Ijo yang lekat dengan dongeng tradisional dihadirkan bukan sebagai teror berdarah, melainkan sebagai sumber misteri yang membangun rasa penasaran. 

Cerita disusun agar mudah dipahami, sehingga anak-anak maupun penonton dewasa dapat mengikuti alurnya tanpa merasa terintimidasi.

Sejak awal pengembangannya, film ini memang dirancang sebagai horor yang aman ditonton bersama keluarga. Tidak ada eksploitasi adegan sadis atau kekerasan keji. Fokus utama diletakkan pada suasana, permainan bunyi, serta visual yang membangun ketegangan secara halus. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kunjungan Wisatawan ke KEK Mandalika Tembus 1,4 Juta Sepanjang 2025
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
KP2MI Siap Salurkan KUR Pekerja Migran, Wamen Christina Ungkap Hal Ini
• 19 jam laludisway.id
thumb
Menkomdigi: PP TUNAS Perkuat Peran Orang Tua Lindungi Anak dari Penipuan Digital
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Piche Kota Indonesian Idol 2025 Diduga Terlibat Kasus Pemerkosaan Siswi SMA
• 19 jam laluinsertlive.com
thumb
Disdik Kaget Kasus Adu Jotos Guru Vs Siswa di Jambi Berujung Saling Lapor
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.