TIM SAR gabungan masih berupaya menemukan lokasi jatuhnya pesawat patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang hilang kontak di sekitar Bukit Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan konsentrasi utama saat ini adalah operasi kemanusiaan penyelamatan dan pencarian korban, sebelum nantinya mengambil alih penyelidikan penyebab kecelakaan. Sinyal darurat (ELT) pesawat hingga kini belum terdeteksi, diduga karena mengalami kerusakan parah jika pesawat menabrak gunung.
Terkait hilangnya pesawat jenis ATR 52-400 yang disewa KKP, menurut Kepala KNKT Suryanto, timnya belum dapat mengonfirmasi penyebab insiden. Semua upaya masih terfokus pada membantu Badan SAR Nasional (Basarnas) dalam pencarian.
"Konsentrasi kami, KNKT, adalah menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Kami akan membantu Basarnas dulu, setelah operasi kemanusiaan selesai baru KNKT akan take over," jelas Suryanto.
Baca juga : Serpihan Diduga dari Pesawat ATR yang Hilang Kontak Ditemukan Pendaki Gunung Bulusaraung
Ia mengaku belum dapat memastikan apakah cuaca buruk menjadi faktor. KNKT juga berharap kotak hitam (black box) pesawat dapat ditemukan saat proses evakuasi berlangsung. ELT Diduga Tak Berfungsi Suryanto mengungkapkan, alat pemancar sinyal darurat pesawat (Emergency Locator Transmitter/ELT) pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air kemungkinan tidak bekerja. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada sinyal ELT yang tertangkap.
"Dengan kejadian kalau benar dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga. Jadi tidak bisa memancarkan sinyal," ujarnya, meski belum memastikan hal itu.
Sementara itu, pihak TNI AU yang terlibat dalam pencarian, akan dipusatkan di sekitar Bukit Bulusaraung berdasarkan indikasi awal. Rencananya, helikopter Caracal akan diterbangkan untuk mempercepat pencarian dan evakuasi jika cuaca memungkinkan.
Baca juga : Cek Temuan Diduga Serpihan Pesawat ATR yang Hilang Kontak, Tim Gabungan Bergerak Malam Ini
"Perjalanan dari landasan ke TKP hanya sekitar 6 menit. Sehingga apabila ditemukan korban, segera pada kesempatan pertama kita evakuasi ke Pangkalan Udara Hasanuddin," kata Kepala Kantor Basarnas Makassar, M Arif.
Sebelumnya, beredar informasi temuan sejumlah potongan kertas berisi prosedur pesawat oleh warga pendaki. Dirjen Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, mengonfirmasi bahwa kertas tersebut telah dikonfirmasi ke maskapai sebagai milik pesawat yang hilang.
"Tinggal pemastiannya saja," katanya.
Haeru menjelaskan, pesawat tersebut disewa KKP lebih dari 2-3 tahun untuk kegiatan airborne surveillance atau pengawasan udara rutin, guna mendeteksi aktivitas illegal fishing. (LN/E-4)




