JAKARTA, KOMPAS.TV - Psikolog dan grafolog, Joice Manurung menjelaskan kriteria anak yang rentan menjadi target pelaku child grooming.
Child grooming sendiri menurut penjelasannya, merupakan proses bertahap dalam bentuk manipulasi psikologis oleh pelaku kepada anak.
Dalam proses tersebut, pelaku membangun sebuah relasi yang sifatnya itu dekat, nyaman, dan terasa aman bagi anak dan keluarga anak sehingga anak dan keluarganya memberikan rasa percaya dan kendali kepada si pelaku terhadap anak.
"Umumnya anak-anak yang ditargetkan adalah anak-anak yang berasal dari keluarga atau sedang mengalami kondisi rapuh," ujar Joice dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Sabtu (17/1/2026).
Ia mencontohkan, misalnya anak dari keluarga yang tidak harmonis, penuh tindakan kekerasan, atau diabaikan sehingga anak-anak tersebut umumnya merasa kesepian, tidak diperhatikan, rendah diri, cemas, ketakutan, dan sebagainya.
Baca Juga: Menkomdigi Minta Platform Digital Mulai Nonaktifkan Akun Anak
Menurut Joice, dengan kondisi-kondisi tersebut, pelaku yang manipulatif bisa berperan dan mengambil tindakan yang seakan-akan memenuhi kebutuhan afeksi (rasa kasih sayang) anak tersebut.
"Jadi kebutuhan afeksi itu dia tunjukkan melalui tindakan, misalnya membantu memberikan masukan pada anak di awal-awal proses nih, hingga misalnya mendampingi anak ketika anak mengalami tadi, ketakutan, kecemasan, ingin bicara," ujarnya.
Ia menyebut tindakan-tindakan yang dilakukan pada proses awal tersebut umumnya membuat anak-anak merasa senang karena ada orang yang mau mendengarkan atau mendampinginya.
"Di awal proses itu dipertahankan. Tidak ada barangkali perilaku-perilaku yang menyimpang di awal. Namun dengan perlahan sifatnya itu desensitisasi (pengurangan rasa sakit secara emosional saat mengalami sesuatu," ucap Joice.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- child grooming
- grooming
- anak rentan jadi korban grooming
- anak rentan grooming
- anak
- psikolog



