FAJAR.CO.ID, MAROS — Tim SAR gabungan masih terus berupaya menemukan lokasi jatuhnya pesawat patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dilaporkan hilang kontak di sekitar kawasan Gunung Bulusaraung, Maros.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah operasi kemanusiaan berupa pencarian dan penyelamatan korban, sebelum nantinya mengambil alih proses investigasi penyebab kecelakaan.
Ketua KNKT, Suryanto, mengatakan hingga kini pihaknya belum dapat memastikan apa pun terkait penyebab hilangnya pesawat tersebut.
Pasalnya, proses pengumpulan data masih berlangsung dan bukti di lapangan masih sangat terbatas.
“Kami belum bisa mengonfirmasi apa pun karena saat ini masih dalam tahap pengumpulan data. Konsentrasi KNKT saat ini adalah membantu menemukan lokasi jatuhnya pesawat,” ujar Suryanto kepada awak media, Minggu (18/1/2026).
Ia menambahkan, untuk sementara KNKT akan mendukung Basarnas dalam operasi SAR. Penyelidikan resmi baru akan dilakukan setelah operasi kemanusiaan dinyatakan selesai.
“Untuk sementara, KNKT akan membantu Basarnas terlebih dahulu. Setelah operasi kemanusiaan selesai, barulah KNKT akan mengambil alih. Jadi saat ini prioritas utama adalah operasi SAR,” jelasnya.
Suryanto menegaskan bahwa pihaknya juga belum sampai pada tahap analisis kemungkinan penyebab kecelakaan, termasuk faktor cuaca maupun aspek teknis lainnya.
“Kami belum sampai pada analisis apakah ada pengaruh cuaca atau faktor lainnya,” katanya.
Terkait perangkat perekam data penerbangan atau black box, Suryanto menyebut KNKT telah melakukan koordinasi dan briefing dengan Panglima serta tim terkait.
Ia berharap jika black box ditemukan, dapat segera diamankan untuk kepentingan investigasi.
“Terkait black box, kami sudah melakukan briefing dengan Panglima dan tim. Apabila ditemukan, kami sangat berharap black box tersebut dapat segera diamankan,” ungkapnya.
Hingga kini, KNKT juga belum dapat memastikan apakah pesawat tersebut menabrak tebing atau gunung.
Bukti yang ditemukan di lapangan baru sebatas sejumlah kertas yang diduga berasal dari pesawat.
“Kami juga belum bisa memastikan apakah pesawat menabrak tebing atau bagaimana, karena sejauh ini bukti yang kami miliki baru berupa kertas-kertas yang ditemukan,” terang Suryanto.
Ia menjelaskan, pesawat sebenarnya dilengkapi dengan Emergency Locator Transmitter (ELT) sebagai sinyal darurat. Namun, hingga saat ini sinyal ELT belum terdeteksi.
“Pesawat sebenarnya memiliki ELT, namun apabila benar terjadi tabrakan dengan gunung, biasanya perangkat tersebut ikut hancur sehingga tidak dapat memancarkan sinyal,” jelasnya.
Terpisah, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, membenarkan bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat sewaan yang digunakan KKP untuk kegiatan pengawasan rutin melalui jalur udara.
“Pesawat tersebut merupakan pesawat yang disewa oleh KKP untuk melakukan pengawasan rutin melalui udara, selain pengawasan yang kami lakukan menggunakan kapal laut,” ucap Haeru.
Ia menyebut pesawat tersebut telah lama digunakan dalam mendukung aktivitas pengawasan kelautan dan perikanan.
“Pesawat tersebut sudah lama kami sewa,” tambahnya.
Terkait penumpang, Haeru memastikan terdapat tiga personel KKP di dalam pesawat yang telah teridentifikasi. Sementara penumpang lainnya merupakan kru penerbangan.
“Untuk penumpang, terdapat personel dari KKP sebanyak tiga orang yang sudah teridentifikasi. Selebihnya merupakan kru pesawat,” tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pencarian masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan menyisir jalur darat maupun udara di sekitar kawasan Bulusaraung.
(Muhsin/Fajar)




