Sering Bunyiin Leher Pas Pegal? Dokter Ingatkan Risiko Kelumpuhan Hingga Stroke

republika.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.IDJAKARTA -- Kebiasaan menggerakkan leher hingga berbunyi "krek" (neck cracking) sering dilakukan banyak orang saat merasa pegal di area leher. Gerakan ini sering dianggap aman, padahal kebiasaan neck cracking bisa berbahaya terutama jika dilakukan terlalu sering atau berlebihan.

Dokter spesialis anestesiologi dan interventional pain dr Kunal Sood menjelaskan bahwa meski bunyi "krek" saat neck cracking umumnya tidak berbahaya. Namun cara dan frekuensi melakukannya dapat memicu risiko cedera serius.

Baca Juga
  • Ini Alasan Gen Z Selalu Merasa Lelah Secara Mental, Bukan karena Malas
  • Muncul Memar di Kaki Padahal Enggak Kepentok? Ini Penjelasan Medisnya
  • Mengenal Roby Tremonti dan 'Hitung-hitungan' yang Kini Viral

Menurut dr Sood, gerakan berulang dan agresif dapat menyebabkan ligamen di leher menjadi longgar dan mengganggu stabilitas tulang leher atau tulang servikal. "Masalah muncul ketika leher berulang kali dipaksa bergerak di luar rentang gerak normalnya. Seiring waktu, ligamen dapat menjadi longgar dan membuat tulang leher tidak stabil," ujar Sood seperti dilansir laman Hindustan Times, Ahad (18/1/2026).

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko cedera pada struktur penting di leher. Gerakan leher yang tajam atau kuat berpotensi memberikan tekanan geser yang tidak normal pada arteri vertebralis dan karotis, yaitu pembuluh darah utama yang menyuplai darah ke otak.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Dalam kasus langka, tekanan ini dapat menyebabkan robekan pada lapisan dalam pembuluh darah, kondisi yang dikenal sebagai diseksi arteri servikal. Robekan tersebut memungkinkan darah berkumpul dan membentuk gumpalan, yang kemudian dapat mengalir ke otak dan memicu stroke.

Meski demikian, dr Sood mengatakan kejadian tersebut tergolong langka. Sebagian besar orang yang melakukan neck cracking tidak akan mengalami komplikasi serius. "Sebagian besar orang yang neck cracking tidak akan mengalami ini. Namun, mekanisme terjadinya telah terdokumentasi dengan baik. Karena itu, manipulasi leher yang berulang dan kuat, terutama yang dilakukan sendiri, tidak dianjurkan," kata dia. Sebagai alternatif yang lebih aman untuk mengatasi rasa pegal atau kaku di area leher, dr Sood menyarankan beberapa metode seperti latihan mobilitas ringan, memperbaiki postur tubuh, latihan penguatan otot yang terarah, serta terapi yang dipandu oleh tenaga profesional.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dandim Pangkep: Warga Temukan Salinan KTP Diduga Milik Penumpang ATR Hilang
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Sinopsis Film Unexpected Family, Aksi Komedi Jackie Chan Berakting Emosional
• 16 jam lalumerahputih.com
thumb
Usai Makan Malam Bareng, Dua Dokter Ditembak Mati
• 12 menit lalurealita.co
thumb
Keyzha Queen Wakili Indonesia di Ajang Junior World 2026
• 7 jam laluinsertlive.com
thumb
Trump Beberkan Alasan Ngotot Kuasai Greenland, Singgung Serangan AS ke Venezuela-Iran
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.