Tiga Benua, Satu Tema Kepemimpinan

republika.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Muhammad Irfanudin Kurniawan Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pekan ini kami menutup hari dengan menerima tiga tamu yang datang dari tiga penjuru dunia, dengan latar yang berbeda-beda: seorang guru besar tasawuf dari universitas pesantren di pagi hari, seorang praktisi pendidikan global dari Inggris di siang hari, dan seorang aktivis NGO dari Timur Tengah di sore hari.

Bahasa mereka tidak sama. Cara pandang mereka pun beragam. Namun setiap percakapan, entah bagaimana, selalu kembali ke satu tema yang sama, kepemimpinan.

Baca Juga
  • Reklamasi dan Arah Pembangunan Pesisir NTB
  • Persib Bandung Pinjamkan Hehanussa Bersaudara ke Persik Kediri
  • Generasi Muda Diminta Realistis Rencanakan Kebebasan Finansial Sejak Usia Produktif

Kepemimpinan sejatinya bukan tema baru. Ia adalah salah satu peran paling awal dalam sejarah manusia "one of the earliest specialized roles in human society". Dalam literatur keislaman, kepemimpinan bahkan ditempatkan pada maqam yang luhur dia adalah profesi para nabi. Prophetic leadership. Para nabi bukan sekadar pembawa ajaran, tetapi pemimpin yang menautkan visi langit dan bumi, dunia dan akhirat.

Karena itu, kepemimpinan sejak awal bukan soal jabatan. Ia adalah soal nilai. Dan nilai inilah yang tidak pernah bisa digantikan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Renungan ini membawa saya menengok pendidikan kita hari ini, termasuk pendidikan tinggi. Kita semakin sibuk mengejar peringkat, akreditasi, dan percepatan. Sistem kita rapi. Prosedur kita lengkap. Namun ada satu pertanyaan yang kadang sengaja tidak kita jawab, sebenarnya untuk apa kepemimpinan itu dijalankan?

Percakapan bersama Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan mengajak kami kembali ke pondasi awal. Ia berbicara tentang universitas sebagai amanah untuk mencetak pemimpin yang mutafaqqih fi al-din—paham ilmu sekaligus paham nilai. Dalam tradisi perguruan tinggi pesantren berbasis wakaf, universitas tidak dimiliki oleh individu atau korporasi. Ia dipercayakan. Wakaf menjadikannya milik nilai, milik Allah.

Cara pandang ini melahirkan tipe kepemimpinan yang berbeda. Pemimpin bukan pemilik institusi, melainkan penjaga amanah. Orientasinya bukan sekadar capaian jangka pendek, tetapi keberlanjutan nilai. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut adaptif terhadap zaman, melainkan bertanggung jawab memberi arah pada zaman.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramugari Esther Aprilita Jadi Korban dalam Kecelakaan Pesawat ATR 42-500, Keluarga Gerak Cepat Lakukan Ini
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Imbas Banjir Jakarta dan Semarang: 82 Perjalanan Kereta & 8.615 Tiket Dibatalkan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Hujan Tanpa Henti, Lima Kecamatan di Bekasi Terendam Banjir
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Search for ATR 400 Aircraft Hampered by Poor Weather, Low Visibility
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Banjir di Pekalongan Capai 1 Meter, Rendam Rumah Warga
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.