Pernahkah kita terpikir bahwa menikmati setangkai bunga bisa turut menjaga kesehatan mental? Bisa jadi sebagian kita tidak yakin dengan hal itu. Padahal, riset menunjukkan, setangkai bunga bisa menghadirkan emosi positif.
Kamis (15/1/2026) sore, di antara rintik gerimis di Jalan Raya Sumber Brantas, Kota Batu, Jawa Timur, kios bunga segar Rory Grove Florist ramai pengunjung. Seorang pemuda tampak memesan satu buket mawar merah besar untuk kekasihnya yang ikut datang ke kios itu.
Begitu buket bunga itu dirangkai oleh penjaga kios lalu diserahkan ke sang pembeli, senyum semringah merekah di wajah pasangan kekasih tersebut. Tak lama kemudian, keduanya berlalu di antara rintik hujan dengan tetap tersenyum sambil bergandengan tangan.
Sementara itu, dua perempuan berhijab terlihat memilih beberapa bunga yang ditata cantik di bagian depan kios. Sambil berfoto bergantian di antara bunga segar warna-warni, senyum dan tawa lebar keduanya sesekali memecah sore sendu nan tenang.
Kios bunga Rory Grove Florist berukuran mungil dan terletak di pinggir jalan raya. Tempat itu hanya dijaga oleh seorang penjaga. Bunga-bunga di sana disusun sesuai warna dan jenis.
Ada bunga kecil seperti peacock putih, aster ungu, mawar aneka warna, berbagai macam bunga gerbera, krisan dengan beberapa warna, hingga bunga matahari. Sangat memanjakan mata dan menghangatkan jiwa.
Sore itu, warna merah dari mawar dan gerbera sangat dominan. Warna lain seperti ungu, pink, dan putih, bisa jadi dominan di hari lain, bergantung pada stok bunga yang tersedia. Harga jual setangkai bunga rata-rata Rp 5000 per tangkai. Untuk mawar, harganya lebih murah, yakni Rp 10.000 per tiga tangkai.
Warna-warni bunga itu kontras dengan lingkungan di sekitar kios yang terdapat lahan pertanian berisi tanaman sayur dan buah-buahan, seperti apel dan stroberi. Sore itu, turun gerimis yang membawa hawa dingin dari lembah pegunungan Welirang-Anjasmoro.
“Kios ini sudah setahun berdiri. Pembelinya dari mana-mana, baik dalam dan luar kota. Permintaan mereka pun bisa macam-macam,” kata Andrea (20), penjaga kios tersebut. Menurutnya, akhir pekan adalah hari paling sibuk karena pembeli biasanya membeludak.
Mahasiswi Universitas Brawijaya, Malang, itu pun melayani beragam permintaan pelanggan dengan ramah. Mulai dari permintaan memilih dan merangkai bunga, ngobrol, hingga diminta tolong untuk memotret atau memvideokan pelanggan.
“Rata-rata mereka kadang susah memilih mau bunga apa karena saking banyaknya bunga di sini. Cuma memang selalu saya sarankan pelanggan memilih sendiri bunga yang disukai, lalu nanti saya bantu rangkai dan sesuaikan agar tampak indah saat dibawa pulang,” kata perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu sambil tersenyum.
Sore itu, tanpa bukti ilmiah pun, bunga-bunga di kios tersebut menghadirkan kebahagian di antara rintik hujan. Membawa kehangatan senyuman, meski di antara pelanggan tak saling kenal.
Secara ilmiah, sejumlah penelitian menyebut bunga bisa membawa emosi positif. Hal itu antara lain dipaparkan dalam riset Jeannette Haviland-Jones dari Departemen Psikologi Rutgers-The State University of New Jersey, Amerika Serikat (AS), beserta empat temannya dari beberapa kampus di AS.
Para peneliti itu membuat kesimpulan tersebut berdasarkan tiga penelitian berbeda. Penelitian pertama menunjukkan, saat bunga diberikan kepada wanita, hal itu selalu memicu senyum Duchenne atau senyum sejati. Wanita yang jadi penerima bunga pun melaporkan suasana hati lebih positif tiga hari kemudian.
Dalam penelitian kedua, bunga diberikan kepada pria atau wanita di dalam lift. Hal itu memicu perilaku sosial lebih positif. Adapun dalam penelitian ketiga, bunga diberikan kepada orang lanjut usia atau umur 55 tahun ke atas. Hasilnya, bunga dilaporkan memicu suasana hati lebih positif dan meningkatkan memori episodik, yakni memori jangka panjang yang membuat kita mengingat pengalaman di masa lalu.
“Bunga memiliki efek langsung dan jangka panjang pada reaksi emosional, suasana hati, perilaku sosial, dan bahkan memori baik bagi pria maupun wanita,” kata Jones dalam artikelnya.
Dalam risetnya, Jones dan tim memilih sejumlah responden untuk dikirim paket stimulus. Setiap pembawa stimulus mengenakan kotak tertutup setengah badannya sehingga dimungkinkan tidak bisa memberikan isyarat mengenai paket stimulus kiriman tersebut.
Setiap responden direkam responsnya sesaat setelah membuka atau mengetahui paket stimulus kiriman dari tim peneliti. Respons 3-5 detik pertama dinilai paling penting.
Stimulus yang diberikan itu berupa kotak berisi buah dan manisan, kotak berisi bunga, dan kotak berisi lilin hias. Selanjutnya, dua sampai empat hari kemudian, tim peneliti melakukan wawancara kepada para responden tersebut.
Hasil riset itu menunjukkan, semua peserta yang mendapat bunga merespons dengan senyum Duchenne yang menunjukkan kebahagiaan. Sedangkan 10 persen peserta penerima buah dan 23 persen peserta penerima lilin tidak merespons dengan senyum Duchenne.
Senyum Duchene adalah ekspresi kebahagiaan paling tulus yang dapat ditampilkan manusia. Istilah Duchene diambil dari nama ahli neurologi Perancis abad ke-19, yaitu Guillaume Duchenne.
Setelah itu, responden penerima bunga meletakkan bunga di ruang umum seperti ruang tamu, ruang keluarga, lobi, atau ruang terbuka lain. Mereka pun rata-rata menjalin kontak dan pembicaraan dengan orang lain setelah menerima kiriman bunga itu.
Oleh karena itu, disimpulkan bahwa bunga membawa dampak perilaku sosio-emosional para responden. Hal ini sedikit berbeda dengan responden penerima buah, makanan, atau lilin.
Bunga memiliki efek langsung dan jangka panjang pada reaksi emosional, suasana hati, perilaku sosial, dan bahkan memori baik bagi pria maupun wanita
Lebih jauh, setiap bunga pun dipercaya memiliki makna berbeda-beda. Hal ini dibahas dalam artikel berjudul ”The Impact of different Flowers on Human Psychology: A Comprehensive Review” karya Abhishek Subedi dan Sangita Hamal dari Institute of Agriculture and Animal Science, yang dipublikasikan dalam Malaysian Mental Health Journal.
Bunga mawar, misalnya, secara umum diakui sebagai simbol cinta dan kasih sayang. Penelitian menunjukkan, pemandangan dan aroma mawar dapat membangkitkan perasaan gembira, kekaguman, dan ketertarikan romantis. Warna mawar juga berperan dalam memengaruhi respons emosional, dengan mawar merah dikaitkan dengan gairah dan keinginan.
Bunga lavender dikenal karena sifatnya yang menenangkan dan menenteramkan. Aroma lavender telah terbukti mengurangi stres dan kecemasan sehingga menjadikannya pilihan populer untuk aromaterapi. Bunga lavender sering dikaitkan dengan relaksasi dan peningkatan kualitas tidur.
Bunga matahari dikenal karena penampilannya yang cerah serta memiliki simbolisme positif dan optimisme. Pemandangan bunga matahari dapat meningkatkan suasana hati, membangkitkan perasaan bahagia, dan mengingatkan pada keindahan hidup.
Sementara itu, bunga melati yang mungil disukai karena aromanya mempesona dan terbukti memiliki efek meningkatkan suasana hati dan mengurangi kecemasan. Aroma melati dapat menimbulkan rasa tenang dan damai.
Adapun bunga krisan atau chrysanthemum sering dikaitkan dengan umur panjang dan kebahagiaan. Krisan dipercaya memancarkan energi positif dan membangkitkan semangat. Dalam beberapa budaya, krisan melambangkan kebahagiaan dan kelimpahan.
Menurut informasi di laman threebouquets.com, bunga gerbera juga punya makna baik. Gerbera dipercaya mampu menciptakan rasa nyaman dan menjadi simbol cinta sejati. Bunga ini juga cocok menjadi tanaman hias di rumah karena mampu memproduksi oksigen cukup banyak terutama di malam hari.
Masih banyak makna bunga yang dikaitkan dengan kehidupan. Yang jelas, sebagian besar maknanya membawa kebaikan. Nah, bunga apa paling Anda sukai?



