Pantau - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas gelombang kerusuhan yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025, menyebabkan ratusan korban jiwa dan kerugian besar.
Khamenei menyatakan bahwa Trump secara langsung menghasut, mendorong, dan mendukung para penggerak aksi protes, serta menuduh AS berupaya “menelan” Iran dengan menciptakan destabilisasi dari dalam negeri.
Akar Krisis dan Dampak KerusuhanProtes dimulai di Teheran pada akhir Desember 2025 dan dengan cepat menyebar ke berbagai kota, dipicu oleh krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang nasional, rial.
Puncak kekerasan terjadi pada 8 Januari 2026, setelah putra mantan Raja Iran dari pengasingan di AS menyerukan protes besar-besaran.
Kerusuhan mengakibatkan ratusan korban, terutama di wilayah barat Iran, serta kerusakan pada ratusan fasilitas publik seperti kantor pemerintah, kantor polisi, toko, bank, dan sekitar 250 masjid.
Kerugian akibat kerusuhan ditaksir mencapai ratusan juta dolar AS.
Pihak keamanan Iran menyatakan bahwa demonstrasi damai telah dibajak oleh kelompok perusuh yang disebut-sebut mendapat dukungan dari intelijen AS dan Israel.
Penegakan Hukum dan Respons PemerintahKhamenei menegaskan bahwa para pelaku kekacauan telah dilatih oleh AS dan Israel untuk menciptakan ketidakstabilan nasional.
"Sebagian besar dari mereka sudah ditangkap, dan tindakan kami bertujuan mencegah kekacauan lebih lanjut, bukan memulai perang," ungkapnya.
Khamenei juga mengakui kondisi ekonomi rakyat yang sangat berat dan mendesak pemerintah untuk memperbaiki distribusi pangan, menyediakan pakan ternak, menjaga pasokan kebutuhan pokok, serta memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri.
Tanggapan Internasional dan Ketegangan GeopolitikPresiden Trump sebelumnya mengklaim bahwa eksekusi terhadap para pengunjuk rasa telah dihentikan.
Namun, pengadilan Iran membantah klaim tersebut dengan menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun demonstran yang dijatuhi hukuman mati.
Situasi ini mempertegas ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, dan menegaskan bahwa konflik internal Iran semakin menjadi ajang tarik menarik kepentingan geopolitik global.

