FAJAR.CO.ID, PANGKEP — Seorang warga Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, bernama Arman (38), menceritakan detik-detik penemuan jasad yang diduga kuat sebagai korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung. Arman menjadi orang pertama yang menemukan jasad tersebut di medan ekstrem yang sulit dijangkau tim penyelamat.
Arman mengungkapkan, jasad korban ditemukan di dalam jurang dengan kedalaman ratusan meter dan kondisi medan yang sangat terjal. Lokasi penemuan berada jauh dari jalur pendakian umum, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk menjangkaunya.
“Saat ditemukan, posisinya tengkurap, laki-laki, masih utuh tapi pakaiannya sudah tidak ada saya lihat,” kata Arman sambil memperlihatkan foto korban kepada awak media di Posko AJU Desa Tompobulu, Minggu (18/1/2026).
Posko AJU Desa Tompobulu sendiri berada di kaki Gunung Bulusaraung, sekitar 73,3 kilometer dari jalur poros Pangkep–Barru. Dari posko tersebut, lokasi penemuan jasad berada jauh di dalam jurang yang sulit diakses oleh kendaraan maupun pejalan kaki biasa.
“Dalam jurangnya, mungkin ada sekitar 200 meter,” lanjut Arman menjelaskan kondisi lokasi penemuan.
Tak hanya menemukan jasad, Arman juga mengungkapkan adanya sejumlah barang dan dokumen yang diduga kuat milik korban. Barang-barang tersebut ditemukan tidak jauh dari posisi jasad berada.
“Ada KTP, pasport, ATM ada sekitar tiga. Ada hape juga tapi sudah hancur,” tutur Arman.
Menurut Arman, dirinya berhasil mencapai lokasi setelah ikut membantu tim SAR gabungan yang melakukan pencarian sejak pagi hari. Bersama dua warga lainnya, Arman berangkat lebih awal untuk menyisir area yang diduga menjadi titik jatuhnya korban.
“Saya naik tiga orang, sekitar jam 7 pagi saya berangkat. Dan tadi jam 2 saya temukan itu mayat,” ucapnya.
Setelah menemukan jasad tersebut, Arman segera melaporkan temuannya kepada tim SAR yang berada di sekitar lokasi pencarian. Informasi itu kemudian menjadi dasar bagi tim SAR gabungan untuk mengamankan lokasi dan menyiapkan proses evakuasi.
Sementara itu, Kasi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, yang ditemui di posko yang sama, menjelaskan bahwa proses evakuasi jenazah belum dapat dilakukan pada hari penemuan. Faktor cuaca dan kondisi medan menjadi kendala utama dalam upaya penyelamatan.
“Rencana besok pagi baru kita evakuasi. Sekitar jam 7 pagi lah,” kata Andi Sultan.
Ia menjelaskan, hujan deras yang disertai kabut tebal masih menyelimuti kawasan Gunung Bulusaraung, sehingga membahayakan keselamatan tim jika evakuasi dipaksakan dilakukan pada hari yang sama.
Selain faktor cuaca, kedalaman jurang dan medan berbatu yang licin juga menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, Basarnas memutuskan untuk menunda evakuasi hingga kondisi memungkinkan.
“Ada tujuh anggota SAR di sana. Posisi korban itu sekitar kedalaman 200 meter dalam jurang,” tandasnya.
Hingga kini, lokasi penemuan jasad telah diamankan dan dijaga oleh personel SAR gabungan. Proses evakuasi akan dilakukan dengan perhitungan matang untuk memastikan keselamatan seluruh tim, sekaligus menjaga kondisi jenazah sebelum dibawa ke posko utama untuk proses identifikasi lebih lanjut. (fajar)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471327/original/073309600_1768283647-John_Herdman_-4.jpg)


