Jakarta (ANTARA) - Kitab spiritual Ma Ha Is Ma Ya karya Sri Eko Sriyanto Galgendu lahir dari sebuah proses batin yang panjang. Kitab ini bukan disusun dari imajinasi, melainkan dari bahasa Bhumi, sejenis rapalan atau paritta, yang Sri Eko tangkap dari kehadiran dan laku hidup dari berbagai tokoh, salah satunya budayawan Jaya Suprana.
Bahasa Bhumi tersebut tidak ditulis secara harfiah sebagaimana bahasa lisan sehari-hari. Sri Eko menerjemahkannya ke dalam bentuk doa, syair, dan refleksi spiritual berdasarkan talenta batin yang ia miliki.
Dalam konteks ini, Jaya Suprana diposisikan bukan sekadar tokoh yang dipersembahkan, melainkan sumber energi nilai yang mengalir dan diterjemahkan ke dalam teks spiritual.
Sri Eko dikenal memiliki kemampuan khusus dalam membaca dan menafsirkan bahasa Bhumi, yakni bahasa simbolik yang diyakini memuat pesan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan tanah air.
Rapalan tersebut kemudian disusun menjadi Ayat-Ayat Bhuwana yang menjadi inti dari kitab Ma Ha Is Ma Ya.
Salah satu ayat kunci dalam kitab tersebut berbunyi "Aku Berbakti dan Mengabdi," yang menurut Sri Eko merupakan sari dari pesan Bhumi yang ia tangkap.
Pesan itu tidak dimaknai sebagai ritual semata, melainkan sebagai sikap hidup yang sederhana dan nyata: bekerja dengan jujur, mencintai tanah air, serta memberi tanpa pamrih.
Baca juga: Kitab MA HA IS MA YA Hadirkan Doa dan Syair Selama 20 Jam Non-Stop
Tanah air digambarkan sebagai tempat manusia berpijak dan bertumbuh. Indonesia diposisikan sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.
Dari kesadaran inilah, pengabdian menjadi jalan spiritual yang membumi, dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari.
Dalam kitab tersebut, sosok Jaya Suprana digambarkan sebagai pribadi pengabdi yang bekerja dalam diam.
Nilai-nilai yang terpancar darinya, cinta, kesetiaan pada kebudayaan, dan konsistensi berkarya, diterjemahkan oleh Sri Eko ke dalam bahasa spiritual Bhumi tanpa klaim kepemilikan pribadi.
Kitab Ma Ha Is Ma Ya juga membaca kegelisahan Jaya Suprana atas realitas sosial seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan.
Baca juga: Inilah keberagaman agama di Indonesia dan tempat ibadahnya
Doa-doa yang lahir dari kegelisahan itu diyakini memiliki kekuatan karena bersumber dari kejujuran dan empati terhadap penderitaan manusia.
Sri Eko menegaskan bahwa kelahiran seseorang di suatu bangsa adalah kehendak ilahi. Karena itu, pengabdian kepada tanah air menjadi bagian dari ibadah.
Jalan spiritual tidak selalu berada di ruang sunyi, tetapi hadir dalam tindakan sehari-hari yang merawat kehidupan bersama.
Di bagian akhir kitab, Sri Eko kembali menegaskan posisinya sebagai penerjemah, bukan pencipta nilai. Bahasa Bhumi, menurutnya, adalah milik semesta, sementara manusia hanya bertugas menangkap, merawat, dan menyampaikannya.
"Aku hanya menerjemahkan apa yang bumi bisikkan," tulis Sri Eko menutup perenungan dalam Ma Ha Is Ma Ya.
Baca juga: BAZNAS gandeng UNU Yogyakarta luncurkan penelitian kitab fiqih zakat
Bahasa Bhumi tersebut tidak ditulis secara harfiah sebagaimana bahasa lisan sehari-hari. Sri Eko menerjemahkannya ke dalam bentuk doa, syair, dan refleksi spiritual berdasarkan talenta batin yang ia miliki.
Dalam konteks ini, Jaya Suprana diposisikan bukan sekadar tokoh yang dipersembahkan, melainkan sumber energi nilai yang mengalir dan diterjemahkan ke dalam teks spiritual.
Sri Eko dikenal memiliki kemampuan khusus dalam membaca dan menafsirkan bahasa Bhumi, yakni bahasa simbolik yang diyakini memuat pesan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan tanah air.
Rapalan tersebut kemudian disusun menjadi Ayat-Ayat Bhuwana yang menjadi inti dari kitab Ma Ha Is Ma Ya.
Salah satu ayat kunci dalam kitab tersebut berbunyi "Aku Berbakti dan Mengabdi," yang menurut Sri Eko merupakan sari dari pesan Bhumi yang ia tangkap.
Pesan itu tidak dimaknai sebagai ritual semata, melainkan sebagai sikap hidup yang sederhana dan nyata: bekerja dengan jujur, mencintai tanah air, serta memberi tanpa pamrih.
Baca juga: Kitab MA HA IS MA YA Hadirkan Doa dan Syair Selama 20 Jam Non-Stop
Tanah air digambarkan sebagai tempat manusia berpijak dan bertumbuh. Indonesia diposisikan sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.
Dari kesadaran inilah, pengabdian menjadi jalan spiritual yang membumi, dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari.
Dalam kitab tersebut, sosok Jaya Suprana digambarkan sebagai pribadi pengabdi yang bekerja dalam diam.
Nilai-nilai yang terpancar darinya, cinta, kesetiaan pada kebudayaan, dan konsistensi berkarya, diterjemahkan oleh Sri Eko ke dalam bahasa spiritual Bhumi tanpa klaim kepemilikan pribadi.
Kitab Ma Ha Is Ma Ya juga membaca kegelisahan Jaya Suprana atas realitas sosial seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan.
Baca juga: Inilah keberagaman agama di Indonesia dan tempat ibadahnya
Doa-doa yang lahir dari kegelisahan itu diyakini memiliki kekuatan karena bersumber dari kejujuran dan empati terhadap penderitaan manusia.
Sri Eko menegaskan bahwa kelahiran seseorang di suatu bangsa adalah kehendak ilahi. Karena itu, pengabdian kepada tanah air menjadi bagian dari ibadah.
Jalan spiritual tidak selalu berada di ruang sunyi, tetapi hadir dalam tindakan sehari-hari yang merawat kehidupan bersama.
Di bagian akhir kitab, Sri Eko kembali menegaskan posisinya sebagai penerjemah, bukan pencipta nilai. Bahasa Bhumi, menurutnya, adalah milik semesta, sementara manusia hanya bertugas menangkap, merawat, dan menyampaikannya.
"Aku hanya menerjemahkan apa yang bumi bisikkan," tulis Sri Eko menutup perenungan dalam Ma Ha Is Ma Ya.
Baca juga: BAZNAS gandeng UNU Yogyakarta luncurkan penelitian kitab fiqih zakat



