Napas Jantung Kota tidak selalu bicara tentang deru mesin atau hiruk-pikuk di pasar. Di Kediri, napas itu sering kali muncul dari hembusan pelan asap rokok di pojok-pojok warung kopi (warkop), di mana waktu seolah melambat dan jemari mulai menari di atas batang tembakau.
Di sana, ampas kopi bukan lagi limbah, melainkan tinta kehidupan yang kita kenal sebagai Cethe.
Secara teknis, nyethe adalah aktivitas mengoleskan ampas kopi ke batang rokok. Namun secara kultural, ini adalah sebuah diplomasi kesabaran dan eksperimen rasa yang mendalam.
Ruang Privat di Warung KopiSaya teringat suatu sore di sebuah warkop dekat pasar. Di hadapan saya, seorang pria paruh baya bernama Pak Darmo duduk dengan punggung sedikit membungkuk, menciptakan ruang privatnya sendiri di tengah riuh pengunjung lain.
Di tangan kanannya ada tusuk gigi, dan di tangan kirinya sebatang rokok yang permukaannya sudah menghitam oleh ampas kopi.
Dengan gerakan yang lebih luwes dari seorang perajin batik, tusuk gigi itu menggores lapisan ampas, menyisakan pola sulur-sulur kecil yang rumit. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Setiap goresan adalah keputusan yang pasti.
"Pak, kok betah gambar selembut itu? Nanti kan juga habis jadi abu?" tanya saya, mencoba memecah konsentrasinya.
Beliau terkekeh, tidak langsung menjawab, melainkan menyesap kopi hitamnya terlebih dahulu. "Mas, nyethe itu dudu soal gambare, tapi soal ngenteni ademe ati," ujarnya pelan. Bukan soal gambarnya, tapi soal menunggu dinginnya hati.
Jawaban Pak Darmo adalah kunci untuk memahami cethe.
Di dunia urban yang serba instan, di mana informasi berlarian di layar ponsel dan tuntutan kerja tidak ada habisnya, nyethe adalah bentuk meditasi. Ia adalah "jeda" yang memberi ruang bagi jiwa agar bisa mengejar raga yang kelelahan.
Simfoni Rasa dan AromaBagi orang luar kota, pertanyaan yang muncul biasanya bersifat praktis: Apakah ini hanya hiasan atau memengaruhi rasa? Jawabannya adalah sebuah simfoni sensorik.
Cethe bukan sekadar seni visual yang memanjakan mata; ia adalah rekayasa rasa. Ketika lapisan ampas kopi yang bercampur sedikit susu kental manis itu terbakar, terjadi proses karamelisasi yang unik.
Hasilnya? Aroma kopi bakar yang harum seketika merebak, menggantikan bau tajam asap tembakau biasa.
Secara teknis, lapisan ini membuat rokok terbakar lebih lambat, memberikan tarikan yang lebih "mantap" dan berat. Ada sensasi gurih dan manis samar yang tertinggal di bibir—sebuah perpaduan rasa yang mustahil didapatkan dari rokok biasa.
Di sinilah letak ujiannya: jika racikan ampas terlalu basah, rokok akan sering mati; jika terlalu tebal, rasanya akan "sengak". Nyethe adalah mencari harmoni antara keindahan motif dan kenikmatan hisapan.
Puisi KetidakkekalanAda sesuatu yang puitis sekaligus tragis dalam sebatang cethe. Bayangkan, seorang seniman warkop bisa menghabiskan waktu hingga satu jam untuk melukis motif batik parang yang rumit di atas kertas papir.
Namun, karya itu hanya akan bertahan selama 10-15 menit saja sebelum habis menjadi abu. Di sinilah cethe bersentuhan dengan isu universal yang paling mendasar: Ketidakkekalan.
Cethe mengajarkan kita tentang cara menikmati proses tanpa terlalu terobsesi pada hasil akhir yang abadi. Seperti kehidupan, seindah apa pun pola yang kita bentuk, pada akhirnya kita semua akan menjadi abu. Namun, harum aroma yang ditinggalkan selama proses "terbakar" itulah yang memberi makna.
Diplomasi Warung KopiDi Kediri, cethe adalah pengencer suasana yang membumi. Di meja warkop yang kayunya sudah mulai lapuk dan berminyak, tidak ada perbedaan kasta yang berarti. Seorang tukang becak bisa duduk berdampingan dengan mahasiswa atau pegawai kantoran.
Saat jemari mereka sibuk mengoles ampas hitam, sekat-sekat sosial itu meluruh. Cethe menciptakan frekuensi yang sama; sebuah ruang di mana setiap orang memiliki hak untuk diam dalam seninya sendiri, atau bicara dalam komunitasnya.
Menemukan "Cethe" dalam KeseharianMungkin tidak semua dari kita merokok, dan bisa menikmati pahitnya kopi. Namun, pada dasarnya kita semua membutuhkan "nyethe" dalam hidup kita.
Kita butuh sesuatu yang memaksa kita berhenti sejenak, fokus pada hal detail, dan tidak terburu-buru mengejar garis finis.
Aktivitas tersebut adalah sesuatu yang kita lakukan bukan untuk uang, bukan untuk pengakuan di media sosial, melainkan murni untuk menenangkan diri. Aktivitas yang membuat kita sadar bahwa ampas pun bisa berubah menjadi berharga jika disentuh dengan rasa sabar.
Itulah "cethe" sebagai ruang meditasi modern—sebuah upaya untuk tetap waras dan tetap menjadi manusia.
Cethe mengingatkan kita bahwa kepuasan sejati sering kali ditemukan dalam ketelatenan, dan kesediaan untuk membiarkan keindahan itu hilang setelah tuntas dinikmati.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa lama karya itu bertahan, melainkan seberapa dalam ia telah menemani kita dalam perjalanan "mendinginkan hati" di tengah panasnya dunia.

