MBisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah disebut berpotensi menembus level Rp17.100 per dolar AS pada pekan depan. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor global.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) pada Kamis ditutup pada level Rp16.896 per dolar AS. Apabila rupiah menguat, maka support pertama berada di Rp16.876, dan support kedua secara mingguan di Rp16.840 per dolar AS.
“Sebaliknya, apabila rupiah melemah, resistance pertama berada di Rp16.920, dengan potensi pelemahan lanjutan secara mingguan menuju Rp17.100 per dolar AS,” tutur Ibrahim, Minggu (18/1/2026).
Menurut Ibrahim, tekanan eksternal yang kuat membuat rupiah rentan melemah, bahkan berpotensi menuju Rp17.100 per dolar AS dalam waktu dekat.
“Ke depan, ketidakpastian geopolitik, dinamika politik AS, serta arah kebijakan bank sentral global berpotensi terus menekan rupiah, dengan risiko pelemahan lebih lanjut hingga Rp17.500 per dolar AS dalam tahun ini apabila tekanan eksternal berlanjut,” ucapnya.
Ibrahim menjelaskan sejumlah faktor yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah adalah perang dagang global, dengan ketegangan yang kembali meningkat setelah Uni Eropa memberlakukan bea masuk antidumping terhadap produk alumina asal China sebesar 88,7%–110,6%. Langkah ini berpotensi memicu aksi balasan dari China dalam waktu dekat.
Baca Juga
- Triliunan Rupiah Masuk Garut, Kesenjangan Tenaga Kerja Tetap Menganga
- Pizza Hut (PZZA) Beberkan Strategi Hadapi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
- Nilai Tukar Rupiah Pekan Ini Melemah Beruntun, Menteri Rosan Bicara Dampaknya ke Investasi
Di sisi lain, Amerika Serikat juga berencana mengenakan tarif impor 20% terhadap Eropa, yang menambah eskalasi perang dagang global.
Faktor selanjutnya adalah ketegangan politik di AS turut meningkat seiring rencana pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell terkait isu pembangunan bank sentral, yang dinilai sarat kepentingan politik. Selain itu, pemanggilan sejumlah pejabat lain oleh otoritas AS berpotensi memperkeruh stabilitas politik AS.
Kemudian faktor lainnya adalah fokus ketegangan geopolitik berada di Timur Tengah dan Eropa. Konflik Rusia–Ukraina kembali memanas dengan intensitas serangan balasan yang meningkat.
Selain itu, ketegangan terkait Greenland turut melibatkan negara-negara NATO yang mulai mengerahkan pasukan. Di Timur Tengah, situasi Iran semakin memanas setelah penutupan wilayah udara dan meningkatnya eskalasi militer, yang mendorong kekhawatiran konflik terbuka.
Adapun yang terakhir, adalah kebijakan bank sentral AS. Menurut Ibrahim, meski data tenaga kerja AS menunjukkan perbaikan, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed masih tetap terbuka.
Sejumlah pejabat bank sentral AS menyatakan adanya ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan, terutama menjelang akhir masa jabatan Jerome Powell.




