Jakarta, VIVA – Sinetron terbaru berjudul Keluarga Yang Tak Dirindukan resmi tayang di MDTV dan langsung menyedot perhatian publik. Mengangkat realitas sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serial ini menempatkan Arbani Yasiz sebagai pemeran utama sekaligus pembawa pesan kuat tentang dinamika rumah tangga.
Bagi Arbani Yasiz, keterlibatannya dalam sinetron ini bukan sekadar proyek akting. Di tengah kebahagiaannya sebagai pengantin baru bersama Raissa Ramadhani, ia justru mengaku mendapat banyak pelajaran berharga tentang pernikahan dari cerita yang ia perankan. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Arbani secara terbuka menyampaikan bahwa Keluarga Yang Tak Dirindukan membuatnya merasa “tertampar”. Alur cerita yang sarat konflik keluarga itu mendorongnya untuk lebih reflektif terhadap kehidupan pribadinya.
"Series yang aku mainkan ini,menjadi ajang aku untuk bercermin dan belajar sih. Supaya kelak aku tidak mendapatkan keluarga yang seperti ini ya," kata Arbani Yasiz ketika ditemui di gedung MD Place, Setiabudi, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Ia mengakui, cerita dalam sinetron tersebut sempat membuatnya was-was. Namun di sisi lain, pengalaman itu justru menjadi bekal penting untuk membangun rumah tangga yang sehat dan penuh kesadaran.
Pesan yang diangkat dalam Keluarga Yang Tak Dirindukan turut memengaruhi cara pandang Arbani terhadap pernikahannya dengan Raissa. Ia menegaskan keinginannya untuk membangun keluarga yang harmonis dan saling bertanggung jawab.
“Sinetron ini aku mau banget rumah tangga ku harmonis. Aku ingin keluarga yang baik-baik saja. Tapi bagaimanapun itu kan tanggung jawab suami sama istri, gimana nge buildnya," ucap pria berusia 31 tahun ini.
Menurut Arbani, keharmonisan tidak hadir dengan sendirinya. Ia menilai komunikasi dan komitmen menjadi kunci utama agar rumah tangga tidak berubah menjadi “keluarga yang tidak dirindukan” di dunia nyata.
Kesibukan syuting striping tak membuat Arbani mengabaikan kehidupan pribadinya. Ia justru berusaha menjaga komunikasi intens dengan sang istri, meski harus berbagi waktu dengan pekerjaan.
"Komunikasi sudah pasti. Kadang aku juga kayak yang penting waktu sama dia. Misal dia lagi nggak ada waktu, ya aku nyamperin dia. Atau aku pulang cepat pun pasti nyamperin dia biar langsung ketemu," ujar Arbani Yasiz.




