Jakarta, ERANASIONAL.COM – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) memberikan penjelasan terkait penunjukan Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal sebagai Noe, vokalis grup band Letto, sebagai salah satu Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Penunjukan tersebut sempat menarik perhatian publik mengingat latar belakang Noe yang dikenal sebagai musisi.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Sirait, menyampaikan bahwa Noe dilantik dalam kapasitas Tenaga Ahli Madya di lingkungan DPN. Penugasan tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan profesional sesuai kebutuhan organisasi.
“Yang bersangkutan akan menjalankan tugas seperti memberikan masukan, kajian, serta rekomendasi strategis sesuai dengan bidang keahliannya,” ujar Rico melansir Tempo.co, Minggu (18/1/2026).
Rico menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan tugasnya, Noe akan bekerja mengikuti mekanisme dan tata kerja yang berlaku di Dewan Pertahanan Nasional. Setiap masukan dan rekomendasi yang disampaikan akan menjadi bahan pertimbangan bagi pimpinan DPN, termasuk Menteri Pertahanan selaku Ketua Harian DPN.
Menurut Rico, kontribusi para tenaga ahli, termasuk Noe, diarahkan sepenuhnya untuk mendukung proses perumusan kebijakan strategis di bidang pertahanan negara. Oleh karena itu, seluruh penugasan bersifat institusional dan profesional.
“Penugasan yang diberikan tidak dikaitkan dengan latar belakang personal di luar kapasitas jabatan yang diemban,” tegas Rico.
Noe Letto diketahui merupakan putra dari budayawan dan cendekiawan muslim terkemuka Muhammad Ainun Nadjib atau Cak Nun. Ia dilantik sebagai Tenaga Ahli DPN bersama 11 orang lainnya berdasarkan Keputusan Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional Nomor KEP/3/KH/X/2025, yang ditetapkan pada Kamis, 15 Januari 2026.
Rico menambahkan, ke-12 tenaga ahli tersebut akan mengisi sejumlah posisi strategis, baik sebagai Tenaga Ahli Madya maupun Tenaga Ahli Muda, yang ditempatkan pada kedeputian-kedeputian di lingkungan DPN. Bidang yang diisi meliputi Geoekonomi, Geopolitik, dan Geostrategi, yang merupakan sektor krusial dalam perumusan kebijakan pertahanan nasional.
“Kehadiran tenaga ahli ini diharapkan dapat memperkuat analisis dan rekomendasi strategis DPN dalam menghadapi tantangan pertahanan yang semakin kompleks,” ujarnya.
Dalam laporan resmi yang dimuat di situs web Kementerian Pertahanan, disebutkan bahwa pengangkatan 12 figur Tenaga Ahli DPN merupakan bagian dari langkah konkret Kemenhan dalam mengintegrasikan keahlian akademis dan pengalaman praktis dari berbagai latar belakang. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas-tugas DPN sebagai lembaga strategis negara.
Kemenhan menegaskan bahwa Dewan Pertahanan Nasional membutuhkan pandangan multidisipliner dalam menyusun rekomendasi kebijakan, mengingat dinamika lingkungan strategis global, regional, dan nasional yang terus berkembang. Oleh sebab itu, latar belakang profesional para tenaga ahli menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi dan pengangkatan.
Penunjukan Noe sebagai Tenaga Ahli DPN diharapkan dapat memberikan perspektif baru dan kontribusi konstruktif dalam kerangka pemikiran strategis pertahanan negara, sejalan dengan tujuan DPN untuk memperkuat sistem pertahanan nasional secara menyeluruh.




