SEBUAH temuan ilmiah terbaru dari University of California, San Diego (UCSD) pada awal 2026 mengungkap ancaman serius tersembunyi di bawah lapisan es Greenland. Para peneliti menemukan adanya lapisan sedimen lunak yang luas di bawah gletser, yang berperan sebagai “tumit Achilles” atau titik lemah utama pemicu kenaikan permukaan laut global.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Geology dan dilaporkan oleh Earth.com ini menunjukkan bahwa sedimen lunak tersebut secara signifikan mempercepat aliran es Greenland ke laut, jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan model iklim sebelumnya.
Bukti Seismik Ungkap Kondisi Dasar Es GreenlandMengutip laporan GeoscienceWorld (Januari 2026), tim peneliti menggunakan teknologi pemindaian seismik untuk memetakan struktur di bawah Greenland Ice Sheet (GrIS). Hasilnya mengejutkan, karena area yang selama ini diyakini berupa batuan keras ternyata didominasi sedimen basah, lunak, dan licin.
Baca juga : Serat Optik Bawah Laut Ungkap Proses Runtuhnya Gletser Greenland
Penelitian ini berfokus pada Gletser Jakobshavn Isbræ serta beberapa aliran es utama lainnya. Lapisan sedimen tersebut bekerja layaknya pelumas alami, memungkinkan gletser raksasa meluncur lebih cepat ke arah samudra. Ketika suhu global meningkat dan dasar es mencair, kecepatan aliran es pun meningkat secara drastis.
Dampak Serius terhadap Kenaikan Permukaan LautLaporan dari Indian Defence Review menegaskan bahwa temuan ini mengubah cara ilmuwan memprediksi masa depan wilayah pesisir dunia. Beberapa dampak utama yang disoroti antara lain:
- Pencairan Es Lebih Cepat: Sedimen lunak mempercepat hilangnya massa es Greenland, melampaui prediksi model iklim lama.
- Lonjakan Permukaan Air Laut: Greenland menyimpan cukup es untuk menaikkan permukaan laut global hingga 7 meter jika mencair sepenuhnya. Dengan adanya lapisan sedimen ini, kontribusi Greenland terhadap kenaikan air laut tahunan diperkirakan akan melonjak tajam dalam beberapa dekade ke depan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa dunia mungkin telah mendekati titik kritis (tipping point), di mana aliran es tidak lagi dapat diperlambat karena gesekan di dasar es telah berkurang secara signifikan.
Ancaman Global bagi Wilayah Pesisir dan Negara KepulauanStudi yang dirilis luas pada 17-18 Januari 2026 ini menjadi alarm keras bagi kota-kota pesisir dan negara kepulauan. Selama ini, banyak model iklim hanya memperhitungkan pencairan es dari permukaan akibat suhu udara, tanpa memasukkan faktor mekanis di bagian bawah lapisan es.
Keberadaan sedimen lunak di bawah es Greenland membuat sistem es ini jauh lebih sensitif terhadap pemanasan global. Akibatnya, kenaikan permukaan laut dapat terjadi lebih cepat dari perkiraan, mengancam infrastruktur pesisir, populasi manusia, serta ekosistem laut dalam waktu yang relatif singkat. (Earth.com/ Jurnal Geology (GeoscienceWorld)/ Indian Defence Review/Z-10)





