Dalam beberapa tahun terakhir, pengangguran di kalangan berpendidikan tinggi meningkat. Meski hampir separuh warga Indonesia usia kuliah kini sudah terdaftar di perguruan tinggi, banyak yang masih kesulitan mendapat pekerjaan setelah lulus.
Bagi Sophie Azzahra (22), lulus dari kampus ternama bukan jaminan mendapat kerja. Ia sudah lulus dari Universitas Indonesia sejak September 2024, tetapi sampai saat ini ia cuma bisa mengisi posisi karyawan magang.
”Rencana awalku setelah sidang skripsi adalah mencari magang sambil mencari posisi karyawan. Namun, dari setelah wisuda sampai sekarang, aku masih menjalani magang,” kata warga Jakarta itu.
Sophie tidak menyesali kondisinya sekarang. Ia tetap bisa menambah pengalaman dan uang saku dengan menjadi anak magang. Namun, posisi itu tentu tidak ideal. Sophie pun masih aktif mencari posisi karyawan penuh waktu meski tidak mudah.
”Setelah wisuda, aku sudah beberapa kali mengikuti interview untuk posisi full-time. Tidak jarang sampai tahap wawancara dengan pengguna atau manajer perekrutan. Namun, cukup sering juga aku mengalami ghosting,” katanya.
Sophie pantang menyerah. Saban hari, ia aktif menggunakan LinkedIn serta beberapa laman lowongan pekerjaan lainnya. Pendekatan lebih personal juga ia tempuh. Salah satunya, mencoba menghubungi langsung bagian sumber daya manusia (SDM) dari perusahaan yang ia incar.
”Lewat pesan langsung di LinkedIn ataupun mengirim e-mail ke perusahaan atau rekruternya. Tetapi, memang tidak semua dibalas,” katanya.
Di tengah kesulitan mencari kerja, Fawwaz Abrial Saffa (23) memilih untuk fleksibel. ”Saya akhirnya mempertimbangkan kerja kontrak atau proyek-proyek lepas sebagai langkah bertahan sambil menunggu peluang yang lebih stabil,” kata warga Jakarta itu.
Ia juga tetap menggencarkan strategi mencari kerja dengan cara melamar secara daring, aktif membangun jejaring profesional, sembari mengikuti pelatihan yang bisa memperbarui keterampilannya agar tetap relevan di pasar kerja.
”Mencari pekerjaan saat ini untuk lulusan baru perguruan tinggi memang cukup sulit. Lowongan kelihatannya banyak, tapi persaingan sangat ketat,” ucap Fawwaz.
Kesempatan semakin terbatas karena lulusan baru mesti bersaing pula dengan pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Setiap posisi bisa diikuti ratusan hingga ribuan pelamar dengan latar pendidikan dan pengalaman nyaris serupa.
”Proses seleksi juga sering berhenti tanpa kejelasan meski sudah melewati beberapa tahapan,” katanya.
Fawwaz juga cukup khawatir dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang ikut mengubah peta kebutuhan tenaga kerja. ”Pekerjaan administratif dan analitis sekarang bisa digantikan sistem otomatis, peluang kerja semakin menyempit,” ucapnya.
Kesulitan mencari kerja tidak hanya dirasakan para lulusan baru perguruan tinggi bergelar sarjana, tetapi juga magister atau pascasarjana (S-2). Salah satunya, Rio (33), warga Lampung yang baru saja lulus dari program pascasarjana pada Desember 2025.
Rio sudah mengirimkan sejumlah lamaran, tetapi ia belum mendapat balasan atau tawaran yang diharapkan. Setiap hari, ia mengecek lowongan kerja lewat Jobstreet dan LinkedIn. Ia juga memperluas relasi untuk menambah peluang mendapat kerja.
”Sesekali enggak cuma lewat digital saja, tetapi ketemu banyak orang yang kira-kira berpotensi untuk menerima saya, jalin relasi,” katanya.
Menurut Rio, mencari kerja masih lebih mudah dengan berbekal ijazah sarjana dulu. Apalagi, sebelum pandemi Covid-19. Ia merasa lowongan kerja saat itu masih lebih banyak karena kondisi finansial sebagian besar perusahaan masih baik-baik saja.
Berbeda dengan saat ini. Lowongan pekerjaan semakin sedikit, sementara peminat kian banyak dan kompetitif.
”Dengan (berbekal) S-2 ini, ya, secara umum untung-untungan juga, atau mesti berdasarkan relasi dengan orang yang dikenal alias orang dalam. Memang kurang fair secara umum, tetapi (dengan bekal orang dalam) bisa lebih mempercepat (proses),” tuturnya.
Berlian (32) bernasib sama. Meski bukan lulusan baru lagi, ia juga merasakan sulitnya mencari pekerjaan yang layak akhir-akhir ini.
Kondisi industri media yang semakin tidak stabil sejak era pandemi membuat Berlian memilih keluar dan mencari pekerjaan di sektor lain yang lebih stabil. Namun, sudah sejak 2021, ia tak kunjung menemukan pekerjaan yang tepat.
”Saya sudah beberapa kali melamar pekerjaan, bahkan sempat dapat tawaran dan sudah negosiasi gaji, tapi saya memilih mundur karena kondisi di bidang yang sama masih belum membaik,” katanya.
Menurut dia, upaya mencari kerja semakin sulit sejak 2023. Bahkan, untuk sekadar mendapat kesempatan tes tertulis pun semakin jarang. ”Saya juga merasa faktor usia dan pengalaman kerja dengan posisi yang relatif stagnan membuat peluang saya semakin terbatas,” ucap Berlian.



