Dalam Tekanan Global, Saham Lebih Atraktif Dibanding Obligasi

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan Indonesia menunjukkan dinamika beragam pada awal 2026. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan arah kebijakan moneter negara maju, pasar saham domestik mencatatkan kinerja kuat dan menarik arus dana asing, dibanding pasar obligasi dan nilai tukar rupiah.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan pekan lalu, Kamis (15/1/2026), kembali mencatatkan rekor tertinggi di level 9.075,4. Secara mingguan, IHSG menguat sekitar 1,6 persen dan didukung oleh akumulasi beli bersih (net buy) investor asing sekitar Rp 4,2 triliun.

IHSG menguat sekitar 1,6 persen dan didukung oleh akumulasi beli bersih (net buy) investor asing sekitar Rp 4,2 triliun.

Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pendorong utama penguatan indeks. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan IHSG sepanjang pekan.

Sementara itu, sejak awal 2026, kontributor terbesar terhadap penguatan indeks adalah saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Emiten ini menyumbang 48,6 poin terhadap IHSG, seiring kenaikan harga sahamnya sebesar 24,9 persen sejak awal tahun hingga penutupan bursa, Kamis (15/1).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi, dalam keterangannya, Senin (19/1), menilai, penguatan pasar saham domestik mencerminkan respons positif investor terhadap stabilitas fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Pasar global bergerak relatif positif di tengah data ekonomi Amerika Serikat yang stabil, meski dibayangi peningkatan risiko geopolitik dan perdagangan,” ujar Imam.

Inflasi di Amerika Serikat tercatat tetap terkendali. Inflasi pada Desember adalah 2,7 persen secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar. Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen harga bergejolak seperti pangan dan energi, bertahan di 2,6 persen secara tahunan, terendah sejak 2021.

Baca JugaTrump Tekan Iran melalui Tarif kepada Mitra Dagang

Sementara, indikator kegiatan ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Penjualan ritel tumbuh 3,3 persen secara tahunan pada November 2025. Producer Price Index (PPI), indikator harga di tingkat produsen, meningkat 3 persen dibanding 2024.

Kondisi pasar tenaga kerja juga tetap solid, tercermin dari klaim awal tunjangan pengangguran mingguan, yang turun menjadi 198.000 pada pekan yang berakhir 10 Januari.

Namun, sentimen global kembali terganggu oleh eskalasi risiko perdagangan. Hal ini menyusul Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan rencana pengenaan tarif impor terhadap barang dari sejumlah negara Eropa.

Kebijakan Trump menyasar negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO). Uni Eropa pun merepons keras kebijakan itu, termasuk kemungkinan mereka membatalkan kesepakatan dagang antara AS dan Uni Eropa.

Hingga kini, dasar hukum dan mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, sehingga menyebabkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Faktor ekonomi China juga dibaca pelaku pasar. Kondisi ekonomi di Negeri Tirai Bambu itu menunjukkan kontras antara sektor eksternal dan domestik. Sepanjang 2025, China mencatat surplus perdagangan senilai 1.189 triliun dolar AS. Ekspor tumbuh 5,5 persen secara tahunan. Sementara, impor relatif datar.

Di dalam negeri, kredit tumbuh lemah. Pertumbuhan total pinjaman yang masih beredar, bertahan di 6,4 persen secara tahunan, terendah sepanjang sejarah, meskipun ukuran jumlah uang beredar meningkat 8,5 persen secara tahunan.

Kondisi ini mendorong People’s Bank of China (PBOC) atau bank sentral China membuka ruang pelonggaran lanjutan, baik melalui suku bunga maupun GWM (giro wajib minimum).

Di Indonesia, perbedaan kinerja antarsegmen pasar keuangan semakin terlihat. Pada saat IHSG mencetak rekor, nilai tukar rupiah justru kembali terdepresiasi. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, kurs rupiah di Rp 16.855 per dolar AS. Sejalan dengan itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik ke kisaran 6,2–6,3 persen.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijaya, menilai pelemahan rupiah berkorelasi erat dengan kinerja pasar obligasi pemerintah di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global.

“Pelemahan rupiah berkorelasi dengan tekanan di pasar SBN, terutama karena meningkatnya persepsi risiko fiskal. Hal ini membuat porsi kepemilikan asing di SBN masih tertahan di kisaran 13–14 persen dan belum menunjukkan kenaikan yang berarti,” ujar Jessica.

Baca JugaPenetrasi ke Pasar Global Menguat, China Catatkan Rekor Surplus Perdagangan

Menurut Jessica, dalam kondisi tersebut, daya tarik pasar saham relatif lebih kuat dibandingkan pasar obligasi. Hal ini tercermin dari konsistennya aksi beli asing di pasar saham sejak awal tahun, yang juga didukung oleh meningkatnya aktivitas investor ritel domestik.

“Minat investor terhadap saham terlihat lebih kuat, seiring arus masuk asing yang berlanjut dan partisipasi investor ritel yang turut menopang penguatan IHSG,” katanya.

Sementara itu, di pasar obligasi, kenaikan imbal hasil mencerminkan proses penyesuaian harga di tengah sentimen global risk-off, yakni kecenderungan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memilih aset yang lebih aman.

Di luar dinamika pasar keuangan, fundamental ekonomi domestik dinilai tetap solid. Penjualan ritel Indonesia pada November 2025 tumbuh 6,3 persen secara tahunan, menjadi yang tercepat sejak Maret 2024. Dari sisi investasi, realisasi investasi sepanjang 2025 meningkat 12,7 persen secara tahunan menjadi Rp 1.931,2 triliun, melampaui target pemerintah, dengan lonjakan investasi domestik sebagai penopang utama.

Setiap satu persen pertumbuhan produk domestik bruto membutuhkan sekitar Rp 800 triliun investasi.

Jessica menekankan bahwa investasi domestik menjadi jangkar ketahanan pertumbuhan jangka pendek. Namun, untuk menjaga momentum hingga 2026, pemulihan investasi langsung asing tetap menjadi faktor kunci.

“Setiap satu persen pertumbuhan produk domestik bruto membutuhkan sekitar Rp 800 triliun investasi. Karena itu, pemulihan investasi asing, khususnya dari mitra utama seperti AS dan China, akan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, ekspor, dan pembiayaan valuta asing jangka panjang,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Skuad Vietnam U-23 Berapi-api untuk Kalahkan China dan Tampil di Final Piala Asia U-23 2026
• 14 jam lalubola.com
thumb
IHSG Cetak Rekor All Time High, Pelaku Pasar Antisipasi BI Rate
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
2 Macan Tutul Jawa Langka Tertangkap Kamera di TN Gunung Gede Pangrango
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Slank Sumbangkan Rp500 Juta dari Konser Bali untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Mahal dan Langka, Harga Gas 3 Kg di Toraja-Toraja Utara Tembus Rp50 Ribu Per Tabung
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.