Mengurai Kemacetan di Bali, Menjaga Destinasi Wisata Terbaik Dunia 2026

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Penobatan Bali sebagai destinasi wisata terbaik dunia dalam ajang “Travellers’ Choice Awards Best of the Best Destination 2026 menurut platform panduan perjalanan Tripadvisor harus diikuti dengan upaya pembenahan. Salah satu pekerjaan rumah yang krusial adalah mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di wilayah-wilayah utama tujuan wisata.

Kemacetan lalu lintas di Bali terjadi di kawasan metropolitan yang meliputi Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan (Sarbagita). Kawasan ini adalah pusat pariwisata danpertumbuhan ekonomi Provinsi Bali.

Beberapa jalan utama yang menjadi jalur penting kerap didera kemacetan parah seperti by pass Ngurah Rai, Jalan Gatot Soebroto, dan Jakn Imam Bonjol. Selain itu, kemacetan kerap dijumpai di akses jalan dari Mengwi menuju Denpasar serta akses menuju Nusa Dua.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali I Made Rai Ridharta mengatakan, kemacetan di jalan-jalan tersebut tidak berkurang dari waktu ke waktu. Pihaknya juga tidak melihat adanya upaya signifikan dari para pemangku kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Baca JugaBali Dinobatkan Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026, Tantangannya Banyak

“Hanya dilakukan beberapa rekayasa dan manajemen lalu lintas di wilayah Kuta, Canggu dan beberapa tempat yang belum memberikan hasil secara signifikan,” ujar Ridharta, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, kemacetan dipicu oleh volume kendaraan yang tinggi. Hal ini karena belum ada jalur alternatif yang menjamin perjalanan bisa dilakukan dengan baik, sesuai waktu yang diharapkan untuk sampai di lokasi tujuan.

Faktor lain ialah jalan-jalan di Bali yang kebanyakan tidak lebar. Kemacetan semakin diperparah oleh perilaku berkendara masyarakat yang kurang disiplin dalam menaati peraturan lalu lintas.

Rai Ridharta menambahkan, jaringan jalan di Bali juga kerap digunakan oleh masyarakat untuk kepentingan lain. Misalnya, tempat parkir kendaraan, tempat berjualan, hingga perluasan tempat kegiatan seperti upacara keagamaan. Penggunaan sebagian badan jalan itu menyebabkan jalan yang tersisa untuk lalu lintas kendaraan semakin sempit.

Kemacetan lalu lintas juga dijumpai di destinasi wisata seperti kawasan Bedugul. Beberapa jalan menjadi akses bersama masyarakat lokal dengan wisatawan seperti di Pura Ulun Danau Beratan.

Baca JugaKemacetan di Balik Isu Menurunnya Wisatawan Domestik ke Bali 

“Upaya strategis mengatasi kemacetan di Bali bisa dilakukan dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang,” kata Rai Ridharta.

Upaya strategis jangka pendek bisa dilakukan dengan optimalisasi jaringan jalan yang ada. Contohnya, tidak menggunakan badan jalan untuk area parkir kendaraan agar kapasitasnya tidak berkurang. Untuk mengimplementasikan upaya ini diperlukan tindakan tegas pemerintah daerah membersihan kantong-kantor parkir yang tidak pada tempatnya.

“Tentunya juga harus dibarengi dengan pengawasan secara ketat, tegas dan terus menerus agar tidak ada pihak-pihak yang kembali menggunakan badan jalan untuk area parkir kendaraan,” ucap Ridharta.

Selain itu, optimalisasi pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas yang berpotensi memicu kemacetan di jalan. Contohnya, pengendara motor dan mobil yang berhenti sembarangan, parkir sembarangan dan pengendara yang melawan arus lalu lintas.

Jika tidak dilakukan pengawasan dan penindakan secara tegas, pelanggaran-pelanggaran itu akan terus berulang dan semakin banyak yang melakukan karena masyarakat merasa tidak ada yang mengawasi.

Adapun upaya strategis jangka menengah bisa dilakukan oleh pemda dengan menambah layanan transportasi umum termasuk penambahan jumlah kendaraan dan memperluas rute yang dilaluinya. Seiring meluasnya rute transportasi publik, hubungan antara satu wilayah dengan wilayah lain akan semakin menguat.

Apabila antarwilayah sudah terhubung dengan baik, sedikit banyak akan menarik minat para pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah menggunakan transportasi publik. Alasannya, para pengguna memiliki kepastian perjalanan terutama waktu dan lokasi yang dituju.

Transportasi publik yang diupayakan sebaiknya berbasis jalan. Jenis kendaraan yang bisa dipilih adalah bus karena memiliki kapasitas penumpang yang banyak.

Sementara itu, upaya strategis jangka panjang yang bisa dilakukan pemerintah adalah membangun jalan lintas untuk melayani aktivitas lalu lintas yang menerus. Contohnya, truk-truk besar yang melintas dari barat ke timur seperti ke Pulau Lombok.

Tujuannya ialah kendaraan-kendaraan tersebut tidak melalui jalan utama seperti Jalan Gatot Soebroto dan jalan by pass Bandara Ngurah Rai sehingga memicu kemacetan menghambat lalu lintas ke jaringan jalan di sekitarnya. 

Masih terkait solusi jangka panjang, pemda harus pula memikirkan pembangunan sistem transportasi publik yang tidak berbasis jalan. Contohnya, sistem transportasi darat berbasis kereta seperti LRT (light rail transit) bahkan MRT (mass rapid transit) menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Dewan Penasehat MTI Pusat yang juga akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menambahkan, sistem transportasi di Bali sudah lama dibiarkan tidak berkembang dengan baik. Pengembangan sistem transportasi terutama transportasi massal harus didorong agar mengalami pemajuan signifikan.

Sudah saatnya Bali menyediakan sistem transportasi umum yang bisa mengakses berbagai destinasi wisata dan akomodasi pendukung seperti hotel atau penginapan. Dorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum dengan menyediakan transportasi yang aman, nyaman, tepat waktu dan berbiaya terjangkau.

Jangan terlena

Seperti diberitakan sebelumnya, untuk pertama kalinya, Bali resmi dinobatkan sebagai destinasi wisata terbaik dunia dalam ajang “Travellers’ Choice Awards Best of the Best Destination 2026 menurut platform panduan perjalanan Tripadvisor. Capaian itu tak lepas dari testimoni positif para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Dewata.

TripAdvisor menyoroti beberapa faktor utama yang membuat Bali berada di posisi teratas, yakni perpaduan yang sempurna antara keindahan alam (pantai pasir putih dan hutan rimbun), kekayaan budaya (pura dan tradisi), serta petualangan (Jeep Gunung Batur dan snorkling di Nusa Penida).

Selain itu, hospitality atau keramahtamahan masyarakat Bali yang tetap menjadi daya tarik utama bagi wisatawan internasional. Juga reputasi positif Bali yang dinilai konsisten meski sempat diterpa isu kemacetan, lingkungan, dan bencana alam. Volume ulasan positif wisatawan tetap sangat tinggi.

Peringkat pertama pada The Travelers’ Choice Awards Best of the Best Destination List 2026 adalah posisi tertinggi yang pernah diraih Bali dalam sejarah penilaian TripAdvisor. Sebelumnya, Bali konsisten masuk dalam jajaran Top 10, namun belum pernah menempati peringkat pertama.

Penghargaan ini disusun berdasarkan ulasan dan penilaian wisatawan global terhadap destinasi terbaik dunia sepanjang 2025. Dalam daftar tersebut, Bali berhasil mengungguli berbagai destinasi ikonik dunia seperti London (pemenang 2024), Dubai, Hanoi, Paris, dan Roma.

Selain dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia, Bali juga meraih sejumlah penghargaan bergengsi lainnya, yakni peringkat pertama Destinasi Bulan Madu Terbaik (Honeymoon Destination), Top 10 Destinasi Budaya Terbaik (Cultural Destination), Top 10 Destinasi Wisata Solo Terbaik (Solo Travel Destination), serta Top 20 Kota Paling Tren di Dunia (Trending Cities).

Pelaku pariwisata Bali yang juga Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya mengatakan, pihaknya bersyukur Bali masih diakui oleh dunia bahkan mampu mengalahkan destinasi terbaik di kancah internasional.

“Ini sungguh prestasi yang luar biasa. Ini merupakan surprised bagi kita karena selama ini ‘dibombardir’ berbagai isu negatif seperti kemacetan, infrastruktur, sampah dan lingkungan, banjir, hingga masalah keamanan,” ujar Rai Suryawijaya, Sabtu (17/1/2026).

Namun, Rai Suryawijaya mengingatkan bahwa menyikapi prestasi internasional itu, Bali tidak boleh terlena apalagi menjadi jumawa (sombong). Sebaliknya, Bali butuh langkah untuk memperbaiki berbagai persoalan yang menjadi tantangan saat ini seperti masalah sampah, kemacetan hingga keamanan.

Alasannya, wisatawan yang datang ke Bali pasti ingin menikmati Pulau Dewata yang benar-benar bersih, aman, lestari dan indah (BALI). Apalagi, Bali sudah dikenal luas sebagai destinasi dengan pesona yang sempurna yakni memiliki keindahan alam, keberagaman budaya, petualangan yang menantang serta keramahtamahan masyarakatnya.

Dengan mengatasi masalah kemacetan di Bali diharapkan bisa menambah kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Dewata. Pada akhirnya, citra positif Bali pun semakin menguat di mata dunia.  

Baca JugaBenarkah Bali Sepi Kunjungan Wisatawan Saat Libur Natal dan Tahun Baru?

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Biddokkes Polda Sulsel Kirim 3 Tim DVI untuk Identifikasi Korban Pesawat ATR 400
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mensesneg: Presiden Prabowo Pastikan Sistem Pemilu Tetap Utamakan Suara Rakyat
• 4 jam lalumatamata.com
thumb
Xiaomi Siap Bawa Redmi Buds 8 Lite dan Mijia Smart Audio Glasses ke RI
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Pratikno: Mohon BRIN Dukung Eksekutif, Terangi Gelap dan Jalan Berliku
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Nanda Candra Rilis Single Setara, Lagu tentang Keberanian dan Harga Diri
• 5 jam laluintipseleb.com
Berhasil disimpan.