Ketika Kasih Sayang Tidak Melindungi Anak Perempuan

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak perempuan. Namun dalam banyak kasus, rumah justru menjadi ruang pertama yang mengajarkan diam, takut, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Di balik dinding yang mestinya melindungi, tidak sedikit anak perempuan tumbuh dengan beban emosional yang pelan-pelan menggerogoti jiwanya.

Kasih sayang tidak selalu hadir sebagai perlindungan. Ia bisa menjelma menjadi kontrol, tekanan, atau bahkan pengabaian yang dibungkus niat baik. Ketika perhatian hanya hadir saat anak berhasil—tetapi berubah menjadi kemarahan saat ia gagal—anak perempuan belajar satu hal yang berbahaya: bahwa dirinya hanya layak dicintai jika memenuhi ekspektasi.

Situasi inilah yang kerap membuat anak perempuan mencari rasa aman dan validasi di luar rumah. Sayangnya, dunia di luar tidak selalu ramah. Tanpa bekal emosi yang utuh, relasi yang tampak penuh perhatian justru bisa menjadi pintu masuk bagi eksploitasi, manipulasi, dan luka baru.

Refleksi ini mengemuka kembali ketika publik membaca Broken Strings—buku karya Aurelie Moeremans—yang membuka percakapan tentang luka batin, relasi keluarga, dan dampaknya pada kehidupan seorang perempuan.

Persoalan ini bukan sekadar cerita personal, melainkan juga cermin sosial. Ia mengajak kita meninjau ulang satu pertanyaan mendasar: Sudahkah rumah benar-benar menjadi ruang aman bagi anak perempuan, atau justru menjadi sumber luka yang kelak membentuk pilihan-pilihan hidupnya?

Anak Perempuan dan Kerentanan yang Kerap Diabaikan

Anak perempuan lahir dengan hak yang sama seperti anak laki-laki: hak untuk mendapatkan perhatian, pendidikan, dan perlindungan. Namun, menyamakan perlakuan tanpa memahami kerentanan justru berpotensi menciptakan ketidakadilan baru.

Anak perempuan secara sosial dan biologis lebih rentan terhadap tekanan emosional, gangguan mental, hingga kekerasan fisik dan seksual—terutama ketika mereka tumbuh tanpa pendampingan emosional yang memadai.

Kerentanan ini bukan kelemahan, melainkan realitas sosial. Ketika orang tua dan masyarakat gagal memahami hal ini, anak perempuan dipaksa menghadapi dunia yang keras tanpa bekal mental dan emosional yang cukup. Akibatnya, mereka belajar bertahan bukan karena kesiapan, melainkan karena terpaksa.

Karena itu, pendidikan dan perlindungan anak perempuan membutuhkan pendekatan yang lebih empatik, sadar risiko, dan berpihak pada keselamatan jangka panjang mereka.

Rumah sebagai Ruang Aman dan Sekolah Emosional Pertama

Rumah adalah ruang pertama tempat anak belajar mengenal cinta, kepercayaan, dan rasa aman. Di sanalah anak membangun cara pandangnya terhadap diri sendiri dan dunia. Orang tua—sadar atau tidak—menjadi fondasi utama kesehatan mental anak.

Namun, tidak sedikit rumah yang gagal menjadi ruang aman, bukan karena kekerasan fisik, melainkan karena tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus dan dianggap wajar.

Banyak orang tua merasa telah mencintai anaknya, tetapi lupa bahwa cinta juga harus hadir dalam bentuk rasa aman, kehangatan, dan komunikasi yang sehat. Anak perempuan yang tumbuh dalam rumah penuh tuntutan, minim empati, dan kering apresiasi perlahan menyimpan luka batin.

Luka ini mungkin tidak langsung tampak, tetapi akan muncul dalam bentuk kecemasan, rasa tidak berharga, atau ketakutan berlebihan dalam relasi sosial di kemudian hari.

Kasih Sayang, Apresiasi, dan Peran Ayah dalam Membentuk Ketahanan Mental

Salah satu pola keliru yang sering terjadi dalam mendidik anak perempuan adalah sikap terhadap keberhasilan dan kegagalan. Ketika anak berhasil setelah berjuang keras, pencapaiannya kerap dianggap biasa. Namun, saat gagal, ia justru dimarahi, disalahkan, dan ditekan. Pola ini menanamkan pesan berbahaya: anak merasa dirinya hanya layak dihargai jika sempurna.

Dalam konteks ini, peran ayah sering kali luput disorot. Padahal, kehadiran emosional ayah memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental anak perempuan. Ayah bukan sekadar pencari nafkah atau figur otoritas, melainkan juga sebagai sumber validasi, rasa aman, dan penghargaan diri.

Anak perempuan yang “tangki cintanya” terisi penuh di rumah tidak mudah mencari pengakuan di luar. Ia lebih mampu berkata tidak, lebih tegas menjaga batas diri, dan tidak mudah terjebak dalam relasi yang merugikan.

Pelajaran dari Sejarah: Anak Perempuan dan Lahirnya Generasi Hebat

Sejarah menunjukkan bahwa perhatian terhadap pendidikan anak perempuan berbanding lurus dengan lahirnya generasi dan peradaban besar. Aisyah RA tumbuh dalam lingkungan yang mendorong keberanian berpikir dan belajar, hingga menjadi salah satu rujukan keilmuan penting dalam sejarah Islam.

Dalam tradisi Tiongkok klasik, kisah Ibu Mencius dikenal sebagai teladan bagaimana lingkungan moral keluarga mampu membentuk karakter dan intelektualitas seorang filsuf besar.

Di Indonesia, Kartini tumbuh dalam keluarga yang memberinya akses pendidikan dan ruang berpikir, sehingga gagasan-gagasannya melampaui zamannya. Benang merah dari berbagai kisah ini jelas: ketika anak perempuan dididik dengan kasih sayang, apresiasi, dan kepercayaan, dampaknya tidak hanya bersifat personal, tetapi juga membentuk masa depan masyarakat dan peradaban.

Luka Psikis, Pencarian Validasi, dan Risiko Eksploitasi

Anak perempuan yang tumbuh tanpa apresiasi yang sehat akan merespons luka dengan cara yang berbeda. Ada yang tumbuh menjadi pribadi keras, mandiri, dan perfeksionis—terus memaksa diri untuk berprestasi demi pengakuan. Dari luar tampak kuat, tetapi di dalam menyimpan kelelahan batin dan ketakutan akan kegagalan.

Namun, ada pula yang tidak memiliki ketahanan mental sekuat itu. Mereka lebih rentan mengalami stres berat, depresi, mental breakdown, bahkan berpikir untuk mengakhiri hidup.

Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat pulang yang aman, anak perempuan akan mencari validasi di luar. Dalam kondisi lapar perhatian, mereka menjadi lebih rentan terhadap manipulasi emosional, relasi toksik, dan eksploitasi yang sering kali dibungkus dengan kasih sayang palsu.

Rumah Aman, Anak Perempuan Tangguh

Mendidik anak perempuan tidak cukup dengan kasih sayang semata. Ia membutuhkan apresiasi, kehadiran emosional, dan ruang aman untuk tumbuh, gagal, serta bercerita tanpa takut dihakimi. Anak perempuan tidak seharusnya belajar menjadi kuat karena luka, tetapi tumbuh tangguh karena dicintai dan dihargai.

Broken Strings mengingatkan kita bahwa luka yang lahir di rumah akan dibawa ke ruang publik. Jika keluarga gagal melindungi, dunia luar akan dengan mudah melukai.

Sudah saatnya rumah benar-benar menjadi tempat paling aman bagi anak perempuan—karena dari sanalah masa depan, bahkan peradaban, dibentuk.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Esai Foto: Ketika Kucing Jalanan Menemukan Tempat Aman di Bekasi
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Menjaga Harapan Korban Kecelakaan, Perlindungan Diberikan Jasa Raharja Sepanjang 2025
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Seorang Pemuda Tewas Usai Terseret Banjir saat Hujan Deras di Cakung, Jaktim
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Jatim Revitalisasi 22 Sekolah Negeri dan Swasta, Alokasikan Rp23,71 Miliar
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jembatan Nyaris Tuntas, Desa Lubuk Sidup Aceh di Ambang Kebebasan dari Isolasi
• 22 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.