BRIN-swasta kembangkan malapari, perkuat ketahanan energi nasional

antaranews.com
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng perusahaan swasta dalam mengembangkan tanaman malapari (Pongamia pinnata) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional.

"Malapari kini semakin dilirik sebagai sumber energi hijau masa depan. Selain berpotensi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, tanaman ini juga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon," kata Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN Budi Leksono melalui keterangan di Jakarta, Senin.

Budi menjelaskan biji malapari menghasilkan minyak non-pangan (non-edible oil) yang sangat potensial sebagai bahan baku biodiesel dan bioavtur.

Minyak non-pangan ini, lanjut dia, dinilai strategis karena tidak bersaing dengan kebutuhan pangan serta sejalan dengan kebijakan internasional di sektor penerbangan yang mensyaratkan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.

"Secara alami, rendemen minyak malapari berada pada kisaran 20-28 persen, dan melalui seleksi genetik serta optimalisasi metode ekstraksi, dapat ditingkatkan hingga sekitar 44 persen," ujarnya.

Budi menambahkan riset pemuliaan tanaman yang dilakukan BRIN diarahkan untuk menghasilkan pohon unggul yang cepat berbuah, memiliki tingkat produktivitas tinggi, serta memiliki rendemen minyak optimal.

Di sisi lain, malapari juga memiliki keunggulan ekologis sebagai tanaman legum yang mampu mengikat nitrogen dari udara melalui bintil akar, sehingga relatif tidak memerlukan pupuk nitrogen.

"Karakter tersebut menjadikan malapari sangat adaptif pada lahan marginal dan wilayah dengan kondisi kering ekstrem, seperti di Indonesia bagian timur, termasuk Lembata," katanya.

Sebagai tindak lanjut, Budi menekankan pengembangan malapari di Lembata kini diintegrasikan dengan sistem agroforestri berbasis masyarakat. Melalui pendekatan ini, ia menilai masyarakat tetap dapat menanam tanaman pangan dan komoditas lain seperti kopi, kakao, maupun tanaman semusim di bawah tegakan malapari.

Lebih jauh, pengembangan malapari tidak hanya ditujukan untuk produksi bioenergi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim. Ia optimistis penanaman malapari dalam skala luas berpotensi mendukung pencapaian target penurunan emisi karbon nasional sekaligus membuka peluang perdagangan karbon yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

"Pada tahun ini, keterlibatan riset BRIN akan difokuskan pada penyiapan sumber benih malapari yang tersertifikasi serta pengembangan benih unggul malapari asli Lembata. Ke depan, sinergi lintas kementerian, pemerintah daerah, lembaga riset, sektor swasta, dan media melalui pendekatan pentaheliks diharapkan mampu mempercepat pengembangan malapari sebagai komoditas strategis nasional yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis potensi lokal," tutur Budi Leksono.

Baca juga: Riset BRIN: Faktor emisi karbon Jawa-Sumatra tertinggi di Indonesia

Baca juga: BRIN: Kenaikan dana riset diarahkan ke pangan, energi hingga industri

Baca juga: Investasi pangan dan energi, pilar ketahanan ekonomi


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
2 KA di Daop 9 Jember Beroperasi Normal Usai Terdampak Banjir di Jakarta dan Pekalongan
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Uni Eropa Pertimbangkan Tarif Balasan 93 Miliar Euro terhadap AS, Respons Ancaman Trump soal Greenland
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Punya Lisensi UEFA Sejak Usia 20, John Herdman ungkap Alasan Tertarik Melatih Timnas Indonesia
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Viral di TikTok, Juru Parkir Non Resmi di Jalan Tunjungan Diserahkan ke Polisi
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prakiraan Cuaca 19 Januari 2026: Puluhan Kecamatan di Sulsel Masuk Zona Waspada Hujan Lebat
• 14 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.