Sebelum Hilang Kontak, Pesawat IAT PK-THT dan Awak Dinyatakan Laik Terbang

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

BALIKPAPAN, KOMPAS – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memastikan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dengan registrasi PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, dalam kondisi laik terbang. Selain armada, seluruh awak pesawat yang bertugas juga dinyatakan dalam kondisi kesehatan prima atau fit.

Kemenhub mencatat, berdasarkan data pengawasan, pesawat PK-THT menjalani pemeriksaan kelaikudaraan terakhir melalui ramp check pada 19 November 2025 di Manado. Selain itu, Indonesia Air Transport (IAT) sebagai operator telah melaksanakan inspeksi perawatan terakhir pada 25 Desember 2025 pada total waktu terbang 24.959,62 jam.

Selanjutnya, Inspeksi Perpanjangan Sertifikat Kelaikudaraan (Certificate of Airworthiness/C of A) pada pesawat dilaksanakan pada 3 September 2025. 

"Data menunjukkan bahwa pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin serta pengawasan kelaikudaraan secara berkala dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, dalam keterangan resminya, Senin (19/1/2026).

Jumlah orang di dalam pesawat yang hilang kontak tercatat sebanyak 10 orang. Sebanyak 7 orang di antaranya adalah awak pesawat dan 3 sisanya adalah penumpang. Menurut data Kemenhub, awak pesawat yang bertugas memiliki sertifikat kesehatan (MEDEX) yang masih berlaku sesuai standar Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 67.

Captain Andy Dahananto selaku Pilot in Command tercatat memiliki sertifikat medis Kelas 1 yang berlaku hingga 31 Januari 2026. Yudha Mahardika (First Officer) memiliki sertifikat kesehatan Kelas 1, dengan hasil pemeriksaan medis terakhir pada 15 Agustus 2025, dinyatakan fit dan berlaku hingga 15 Februari 2026.

Baca JugaPesawat Air Transport ATR 42-500 Hilang Kontak di TN Bantimurung-Bulusaraung

Selanjutnya, Hariadi sebagai Flight Operations Officer (FOO) memiliki sertifikat kesehatan Kelas 3, dengan hasil pemeriksaan medis terakhir pada 12 Juli 2024, dinyatakan fit dan berlaku hingga 12 Juli 2026.

Florencia Lolita sebagai Flight Attendant memiliki sertifikat kesehatan Kelas 2, dengan hasil pemeriksaan medis terakhir pada tanggal 31 Januari 2025. Ia dinyatakan fit dan berlaku hingga 31 Januari 2026.

Adapun Esther Aprilita Pinarsinta Sianipar (Flight Attendant) memiliki sertifikat kesehatan Kelas 2. Hasil pemeriksaan medis terakhir Esther pada 24 September 2024. Ia dinyatakan Fit dan berlaku hingga 24 September 2026.

"Berdasarkan data Medical Examination terakhir, seluruh awak pesawat yang bertugas dinyatakan FIT dan telah memenuhi standar kesehatan penerbangan," ucap Lukman.

Kronologi

Pesawat ATR 42-500 hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut terdaftar dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034.

Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, secara resmi mengonfirmasi bahwa pesawat tersebut sedang dalam misi dinas di bawah Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.

Dalam manifes penerbangan, dipastikan terdapat tiga orang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang berada di dalam pesawat tersebut.

Baca JugaMenteri KKP: Tiga Pegawai di Pesawat Hilang Kontak Sedang Jalankan Misi Pengawasan Laut RI

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyebutkan, berdasarkan bukti yang ada, bisa dipastikan bahwa pesawat ATR 42-500 ini mengalami kecelakaan dengan menabrak area Gunung Bulusaraung di Sulsel. Meski begitu, penyebab kecelakaan belum bisa dipastikan.

”Kalau bukti yang ada, 1.000 persen dipastikan pesawatnya menabrak gunung. Fokus kami pada penemuan korban dan pengumpulan informasi yang ada. Termasuk terkait kotak hitam yang ada di bagian ekor pesawat,” ujar Soerjanto (Kompas.id, 18/1/2026).

Investigasi KNKT

Hingga Minggu, 18 Januari 2026, tim gabungan telah menemukan serpihan besar berupa badan dan ekor pesawat di koordinat Gunung Bulusaraung. Operasi yang melibatkan drone dan helikopter TNI AU tersebut juga melaporkan penemuan satu jasad berjenis kelamin laki-laki pada pukul 11.59 Wita.

Mengenai penyebab pasti kecelakaan, Lukman meminta masyarakat untuk bersabar dan menunggu hasil penyelidikan resmi.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan bahwa pada tahap ini belum berada dalam posisi untuk menyimpulkan penyebab kejadian. Seluruh aspek investigasi sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi," kata Lukman.

Saat ini, proses evakuasi masih berlangsung dengan dukungan penuh dari Basarnas, TNI, Polri, dan masyarakat setempat melalui Posko Topo Bulu. Ditjen Hubud mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi mengenai penyebab kecelakaan hingga hasil investigasi KNKT diumumkan secara resmi.

Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayor Jenderal Bangun Nawoko mengatakan, koordinat lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 menjadi fokus pencarian dan evakuasi. Tim darat dan udara telah bertemu di lokasi awal penemuan bagian pesawat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kecelakaan Maut Elf Tabrak Motor di Jalur Cirebon-Bandung, Kakek dan 2 Cucu Tewas
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Wall Street Pekan Ini, Musim Laporan Keuangan hingga Independesi The Fed Jadi Sorotan
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Uni Eropa Siapkan Bazoka Dagang untuk Balas Tarif Trump
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Korban Kedua ATR 42-500 Ditemukan Tewas di Jurang 500 Meter
• 4 jam lalucelebesmedia.id
thumb
kumparan Ulang Tahun ke-9, teman kumparan Kirim Harapan Terbaik
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.