Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menceritakan pengalamannya meniti karier di dua dunia yang berbeda, yakni akademisi dan eksekutif. Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk cara pandangnya dalam melihat pentingnya riset sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Hal itu disampaikan Pratikno dalam acara Kick Off Meeting Forum Komunikasi Riset dan Inovasi di Gedung BRIN, Jakarta Pusat, Senin (19/1).
"Ini pengalaman pribadi saya, saya ini termasuk manusia amfibi, pernah di dunia akademisi, riset, dan pernah di eksekutif," kata Pratikno.
Ia menggambarkan suasana kerja di ranah eksekutif yang sarat dengan tuntutan kecepatan dan ketepatan.
"Di eksekutif kita semua merasakan kemendesakan, rush. Keputusan harus dibuat, masalah harus segera dicarikan solusinya. Kemudian tuntutan publik harus segera dijawab. Semuanya harus, semuanya eksekusi. Kalau bahasanya Pak Presiden, enggak bisa hanya omong-omong saja. Eksekusi," ucapnya.
Namun, Pratikno mengingatkan bahwa situasi serba cepat tersebut juga menyimpan risiko jika tidak dibarengi dengan panduan yang tepat.
"Suasana rush itu yang kita rasakan di eksekutif karena memang kita lembaga eksekutif. Tetapi suasana rush itu sendiri bisa berisiko kalau tidak dipandu. Kenapa? Karena kalau kita melakukan sesuatu saat ini, berarti kita sebetulnya akan menyelesaikan masalah atau membawa masalah di masa depan," tutur dia.
Karena itu, ia menegaskan peran krusial data dan riset dalam proses pengambilan keputusan.
"Data dan riset adalah menyinari yang gelap bagi kami di eksekutif menjadi terang. Memprediksi masa depan, tadi disampaikan oleh Pak Bambang. Sesuatu yang kita lakukan hari ini sebetulnya akan menyelesaikan masalah masa depan, bukan hanya sekadar masalah masa ini," pungkas Pratikno.




