FAJAR.CO.ID, PANGKEP — Temuan sebuah kotak oranye di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 sempat diduga sebagai black box, perangkat paling dicari dalam setiap kecelakaan pesawat.
Kotak Hitam atau black box merupakan alat perekam yang dipasang di pesawat untuk membantu investigasi jika terjadi kecelakaan. Fungsinya menyimpan data penerbangan dan percakapan pilot.
Namun setelah diperiksa mendalam, benda tersebut ternyata bukan alat perekam yang dipasang di pesawat seperti yang diharapkan tim investigasi.
Kotak oranye yang sempat viral itu ternyata ELT atau Emergency Locator Transmitter yang merupakan alat pemancar sinyal darurat otomatis yang dipasang pada pesawat untuk membantu tim SAR menemukan lokasi pesawat jika terjadi kecelakaan.
Fungsi utama ELT adalah mengirim sinyal darurat ke satelit ketika terjadi benturan keras atau pesawat jatuh serta mempermudah dan mempercepat proses pencarian dan penyelamatan (SAR).
Adapun cara kerjanya, saat terjadi kecelakaan, ELT aktif otomatis (atau bisa diaktifkan manual). Alat ini memancarkan sinyal ke satelit sistem COSPAS–SARSAT. Satelit kemudian meneruskan lokasi perkiraan ke pusat koordinasi SAR. Selanjutnya tim penyelamat menuju lokasi berdasarkan sinyal tersebut.
Namun menurut dugaan sementara, perangkat tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya akibat kerusakan saat pesawat menghantam lereng Gunung Bulusaraung.
Yang membuat isu ini semakin ramai adalah adanya kesimpangsiuran informasi di lapangan.
Komandan Korem 141 Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, sempat menyampaikan kepada awak media bahwa temuan tersebut adalah black box.
Namun setelah pemeriksaan lanjutan, ia meralat pernyataan tersebut.
“Jadi apa yang dikonfirmasikan oleh saya harus diralat. Setelah dicek kembali, itu bukan black box, hanya warnanya sama. (Itu) ELT, pendeteksi radar. Berdasarkan penelitian lebih mendalam, itu bukan black box,” jelas Komandan Korem 141 Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, dikutip pada Senin (19/1).
Klarifikasi ini sekaligus menegaskan bahwa black box ATR 42-500 masih belum ditemukan.
Tim SAR dan KNKT masih melanjutkan pencarian di medan terjal.
Dengan harapan dua perangkat penting cockpit voice recorder dan flight data recorder segera ditemukan untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat.
Sementara itu, upaya evakuasi dan pengumpulan puing pesawat terus dilakukan.
Pesawat ATR 42-500 yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak ditemukan Basarnas di Puncak Bukit Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1). Basarnas juga menyatakan satu korban telah ditemukan.
Pesawat tersebut terbang dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1) membawa 10 penumpang. Pesawat lalu hilang kontak sekitar pukul 13.17 WITA. (Pram/fajar)



