Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan lembaganya tengah menyiapkan future technology forecasts sebagai salah satu acuan utama arah industrialisasi Indonesia ke depan agar pembangunan industri nasional tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi global.
Hal itu disampaikan Arif dalam acara Kick Off Meeting Forum Komunikasi Riset dan Inovasi di Gedung BRIN, Jakarta Pusat, Senin (19/1).
"Selain itu kami juga sedang mempersiapkan bagaimana kita harus hadir dengan future technology forecasts, memproyeksikan teknologi-teknologi masa depan. Karena ini bisa menjadi salah satu acuan bagi arah industrialisasi kita ke depan. Jangan sampai industrialisasi kita ke depan dirancang dengan kondisi teknologi hari ini, yang pada lima tahun, sepuluh tahun mendatang teknologi tersebut sudah dianggap tidak relevan lagi," kata Arif.
Menurut Arif, proyeksi teknologi yang akurat akan membantu pemerintah dan industri menyiapkan riset serta investasi secara lebih tepat sasaran.
"Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan relevansi kerangka industrialisasi kita ke depan, maka proyeksi teknologi ke depan ini harus benar-benar diidentifikasi dengan cermat. Kita bisa menggunakan berbagai instrumen AI dan banyak hal yang bisa kita mobilisasi sehingga kita punya kerangka 2030, 2035 teknologi-teknologi apa yang akan dominan," terangnya.
Selain itu, Arif menjelaskan, BRIN saat ini memiliki sejumlah program strategis untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional.
"BRIN memiliki beberapa program penting. Salah satunya adalah bagaimana kita ini membangun Rumah Inovasi Indonesia. Ini sebuah konsep platform agar proses hilirisasi inovasi ini bisa dipercepat," ucapnya.
Melalui Rumah Inovasi Indonesia, Arief menjelaskan BRIN ingin mempermudah akses data dan informasi inovasi yang dibutuhkan berbagai pihak.
"Melalui Rumah Inovasi Indonesia, berbagai informasi data terkait dengan inovasi yang diperlukan, baik oleh pemerintah kementerian KL maupun oleh industri maupun UMKM, bisa didapatkan dengan lebih mudah, baik secara digital maupun secara fisik. Inilah yang kemudian mendorong kami untuk terus mendekatkan riset-riset kita dengan realitas yang ada," tandas dia.



