Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada minggu ketiga Januari 2026 masih cenderung menurun dan stabil meskipun menjelang bulan Ramadan 1447 H.
IPH merupakan indikator awal inflasi yang fokus pada perkembangan harga 20 komoditas pangan penting. Kenaikan IPH belum terlihat pada bulan ini, sebab Ramadan diperkirakan dimulai pada 18 Februari 2026 atau minggu ketiga Februari.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan tren inflasi pada Ramadan bervariasi karena tergantung pada kapan dimulainya bulan suci tersebut, apakah awal atau pertengahan bulan.
"Secara historis kita bisa lihat di sini bahwa pada awal Ramadan itu selalu terjadi inflasi dan tingkat inflasinya itu lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya," katanya saat Rapat Koordinasi, Senin (19/1).
Pudji mencontohkan pada tahun 2025 Ramadan jatuh pada 1 Maret, sehingga tren inflasi terjadi pada sebulan penuh, yakni 1,65 persen sekaligus menjadi inflasi tertinggi selama 5 tahun terakhir. Sementara jika Ramadan jatuh pada pertengahan bulan, biasanya puncak inflasi terjadi pada bulan setelahnya.
Secara historis pada 2021-2025, kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu memberikan andil terbesar terhadap inflasi pada awal Ramadan, diikuti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
Sementara pada minggu ketiga Januari 2026, BPS mencatat mayoritas daerah di Indonesia mengalami penurunan IPH. Terdapat 25 provinsi yang menurun, 12 provinsi meningkat, dan 1 provinsi dengan IPH stabil.
"Sebagian besar sudah didominasi oleh warna hijau, terutama Sumatera, dan sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, serta Jawa. Ini salah satunya karena memang Desember kemarin cukup tinggi kenaikan IPH-nya, sehingga di minggu ketiga Januari ini terlihat seolah-olah mengalami penurunannya," jelas Pudji.
Pudji memaparkan provinsi yang mengalami kenaikan IPH tertinggi adalah Maluku Utara sekitar 1,65 persen, diikuti oleh DKI Jakarta, dan Kalimantan Barat, dan Papua, Papua Barat.
Sementara provinsi yang mengalami penurunan IPH terdalam yakni Bali sebesar minus 4,44 persen, kemudian diikuti ke Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, serta Sumatra Barat.
Jika dilihat berdasarkan Kabupaten/Kota, terdapat 251 Kabupaten Kota yang mengalami penurunan IPH, sementara 99 sisanya mengalami penurunan. Kenaikan IPH tertinggi terjadi di Bener Meriah, sebesar 12,16 persen, diikuti Banggai Kepulauan, Maluku Barat Daya, Biak Numfor, dan Halmahera Selatan.
"Sementara untuk 10 Kabupaten Kota yang mengalami penurunan IPH terdalam pertama adalah Kabupaten Solok Selatan di Sumatera Barat dengan penurunan IPH minus 7,62 persen, kemudian diikuti oleh Kabupaten Nias, Kabupaten Blitar, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Solok, dan seterusnya," tutur Pudji.
Pudji melanjutkan, komoditas penyumbang utama IPH menurut wilayah yakni di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa didominasi oleh daging ayam ras dan bawang merah. Sementara luar Pulau Jawa dan Sumatera yakni daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.
"Matrix level harga dikaitkan dengan perubahan IPH, terlihat bahwa yang mengalami perubahan IPH sedang dengan level harga sedang ada bawang putih, sementara minyak goreng adalah komoditas dengan perubahan IPH rendah, tetapi level harganya tinggi," jelasnya.
Dia menambahkan, secara historis, BPS melihat daging ayam dan bawang merah sebagai salah satu komoditas penyumbang utama inflasi pada awal Ramadan sepanjang 2021-2025.
Pada awal Ramadan 2021, komoditas penyumbang inflasi meliputi daging ayam ras, anggur, jeruk, dan minyak goreng. Kemudian pada 2022 yakni minyak goreng, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Lalu pada Maret 2023 meliputi beras, cabai rawit, bawang putih, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Selanjutnya pada 2024 yakni telur ayam ras, daging ayam ras, beras, cabai rawit, dan bawang putih. Sementara pada 2025 meliputi bawang merah, ikan segar, cabai rawit, daging ayam ras, dan beras.
"Sehingga secara umum komoditas yang memberikan andil inflasi pada momen awal Ramadan itu adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Ini komoditas-komoditas ini mungkin dapat segera kita antisipasi karena kita sudah mulai masuk atau memasuki bulan Ramadan di bulan depan," ungkap Pudji.
Di sisi lain, Pudji menyebutkan, komoditas yang biasanya memberikan andil deflasi pada momen terjadinya awal Ramadan yakni seperti cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471353/original/054574800_1768284168-John_Herdman_-9.jpg)