Kegagalan adalah Hadiah Terbaik bagi Kaum Muda

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Saat baru saja selesai dari dinas militer, dia hanya berbekal ijazah SMA, tanpa keahlian khusus. Tak ada pilihan lain, dia bekerja di sebuah percetakan sebagai kurir pengantar barang.

Suatu hari, dia mengantarkan satu truk berisi sekitar empat puluh hingga lima puluh ikat buku ke sebuah kantor di lantai tujuh sebuah universitas. 

Ketika dia lebih dulu memanggul dua atau tiga ikat buku ke depan lift sambil menunggu, seorang satpam berusia lebih dari lima puluh tahun mendekat dan berkata :  “Lift ini hanya untuk profesor dan dosen. Selain itu, tidak boleh naik. Kamu harus lewat tangga.”

Pemuda itu mencoba menjelaskan :  “Saya bukan mahasiswa. Saya kurir yang harus mengantar satu truk buku ke kantor lantai tujuh. Buku-buku ini pesanan kampus Anda.”

Namun satpam itu berkata dingin: “Tidak boleh tetap tidak boleh. Kamu bukan profesor atau dosen, tidak boleh naik lift.”

Mereka berdebat cukup lama di depan lift, tetapi satpam itu tetap tidak memberi izin. Pemuda itu membayangkan, satu truk buku ini harus diangkut naik-turun tujuh lantai—lebih dari dua puluh kali naik tangga. Itu benar-benar melelahkan.

Akhirnya, dia tak sanggup menahan perlakuan yang dianggapnya tidak masuk akal dan merendahkan. Dengan tekad bulat, dia menaruh seluruh ikatan buku di sudut lobi, lalu pergi begitu saja.

Kemudian, dia menjelaskan kejadian itu kepada pemilik percetakan. Dia memang mendapat pengertian, tetapi dia juga mengundurkan diri. 

Setelah itu, dia langsung pergi ke toko buku, membeli satu set lengkap buku pelajaran dan buku referensi SMA. 

Dengan mata berkaca-kaca, dia bersumpah pada dirinya sendiri:  “Aku harus bangkit dan berjuang. Aku harus masuk universitas. Aku tidak akan membiarkan orang lain meremehkanku lagi.”

Dalam enam bulan menjelang ujian masuk perguruan tinggi, dia mengurung diri dan belajar empat belas jam setiap hari. Dia tahu waktunya tidak banyak dan tak ada jalan mundur. Setiap kali dia merasa malas atau lelah, bayangan satpam yang melarangnya naik lift—rasa dipermalukan dan didiskriminasi—kembali muncul, dan itu membuatnya bangkit serta belajar lebih keras.

Akhirnya, dia berhasil diterima di fakultas kedokteran sebuah universitas. Dua puluh tahun lebih telah berlalu. Kini dia adalah seorang dokter paruh baya yang membuka klinik sendiri. Saat merenung, dia menyadari bahwa jika bukan karena perlakuan tidak adil dan diskriminatif sang satpam, bagaimana mungkin dia mampu menghapus air mata, bangkit dengan berani, dan mengubah hidupnya? Bukankah satpam yang dulu ia benci itu justru menjadi dermawan besar dalam hidupnya?

Kisah ini mengingatkanku pada masa SMA. Di kelasku ada seorang siswa laki-laki yang cukup nakal, prestasinya biasa saja. Suatu hari, guru fisika memberikan soal pekerjaan rumah yang sangat sulit. Keesokan harinya, hampir tak ada siswa yang bisa mengerjakannya—kecuali si Chen yang nakal itu.

Guru bertanya dengan nada curiga : “Chen, jujur saja, tugas ini pasti dikerjakan kakakmu, kan? Aku tahu fisika kakakmu sangat hebat. Tahun lalu aku mengajarnya…”

“Itu saya kerjakan sendiri! Pak, bagaimana Bapak bisa menuduh saya?” jawab Chen.

“Sudahlah, jangan bohong! Kalau bukan kamu yang mengerjakan, kenapa berani mengaku-ngaku? Tidak tahu malu!” Guru itu lalu mengejek dari depan kelas.
“Aduh, jangan mempermalukan diri sendiri. Kemampuanmu aku tahu betul. Tidak usah menipuku!”

Aku menoleh dan melihat Chen menunduk, bibirnya terkatup, matanya berkaca-kaca. Dia tidak membalas sepatah kata pun—hanya pura-pura membaca buku, sementara air matanya menetes satu per satu ke halaman.

Saat hasil ujian diumumkan, Chen yang gigih itu lulus masuk jurusan Fisika Universitas Nasional Taiwan. Setelah wajib militer, dia melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan kini telah meraih gelar doktor fisika, lalu kembali ke tanah air.

Aku tak akan pernah lupa kalimat yang pernah dia ucapkan padaku saat SMA: “Soal itu jelas-jelas aku kerjakan sendiri. Mengapa dia (guru fisika) tidak percaya, malah mempermalukanku di depan umum?  Suatu hari nanti, fisikaku harus lebih hebat daripada dia.”

Bapak Chiang Ching-kuo pernah berkata : “Saat terpuruk, kita perlu bersabar; saat berjaya, kita perlu rendah hati.”

Benar, setiap orang pasti mengalami masa sulit dan kegagalan. Namun aku semakin yakin bahwa:“Kegagalan adalah hadiah terbaik bagi kaum muda.”

Hanya ketika seseorang mengalami pukulan, dipersulit, didiskriminasi, dan diejek, dia benar-benar bisa tersadar, terbangun oleh tamparan keras kenyataan. Bukankah itu hadiah paling berharga dalam hidup?

Karena itu, jika penderitaan hari ini dapat menghadirkan kebahagiaan di masa depan, terimalah dan bertahanlah.

“Setiap rintangan, setiap luka, dan setiap pukulan dalam hidup—semuanya memiliki makna.”

Renungan Redaksi

Niat baik bisa menjadi dorongan, niat buruk bisa menjadi pemacu. Dorongan bisa membuat orang maju, tetapi juga bisa membuat terlena dan sombong. Pemacu bisa membangkitkan semangat juang, namun juga bisa menjatuhkan seseorang hingga tak bangkit lagi.

Apa pun bentuknya, bila kita mampu mengelola sikap dan mental dengan tepat, semuanya dapat mengantarkan kita menuju jalan kesuksesan. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Akan Jalani Ramadan Pertama Bareng Raissa Ramadhani, Arbani Yasiz Deg-degan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Pria Tanpa Identitas di Surabaya Ditemukan Tewas Bersimbah Darah, Polisi Usut
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Purbaya Sebut Juda Agung Wamenkeu, Thomas Djiwandono jadi Deputi Gubernur BI
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Ormas Gerakan Rakyat Resmi Bertransformasi Jadi Partai Politik
• 18 jam lalurealita.co
thumb
Polisi Buru Pelaku Pembacok Seorang Pria di Wonokusumo Surabaya, Diduga Ada Lima Orang
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.