Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengamanatkan petugas haji 2026 untuk memahami seluruh layanan atau tugas agar bisa membantu dan melayani jemaah haji 2026 di Tanah Suci. Misalnya, petugas konsumsi harus bisa memberikan informasi terkait lokasi hotel, petugas media pun harus bisa memberikan pertolongan dasar kesehatan.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak saat meninjau pelaksanaan pendidikan dan pelatihan atau Diklat Petugas Haji 1447 H/2026 M pekan kedua di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Pada pekan kedua diklat, petugas haji akan mempelajari tugas dan fungsi sesuai layanan masing-masing. Misalnya, petugas konsumsi akan memperdalam aspek teknis dan manajerial penyediaan makanan bagi jemaah, seperti porsi dan kandungan gizi, hingga proses distribusinya.
Namun demikian, Dahnil menekankan bahwa petugas haji juga harus memahami tugas dan fungsi lainnya, karena pada pelaksanaannya jemaah haji akan meminta bantuan kepada orang yang menggunakan seragam petugas haji, apapun tugas asalnya. Jika ada jemaah tersesat dan mereka melihat petugas yang sebenarnya bekerja di bidang konsumsi, jemaah akan tetap meminta bantuan petugas itu.
Apabila terdapat kejadian yang tidak diharapkan, misalnya jemaah haji pingsan atau sakit saat berada di luar, maka petugas haji yang ada di sana harus bisa membantu sang jemaah, meskipun dia bukan petugas kesehatan atau memiliki latar belakang medis.
"Oleh sebab itu, teman-teman harus memahami alur A sampai Z-nya, ya. Misalnya terkait dengan katering, bagaimana proses persiapan katering, kemudian akomodasi persiapan hotel, termasuk standarnya," ujar Dahnil pada Senin (19/1/2026).
Baca Juga
- Anggaran Konsumsi Jemaah Haji 2026 Rp180.000 per Hari
- Premi Asuransi Haji 2026 Naik Lima Kali Lipat, Jemaah Tidak Tanggung Biaya Tambahan
- Kemenhaj Imbau Jemaah Haji Jangan Kelelahan, Walimatus Safar Maksimal H-7 Keberangkatan
Dia juga menekankan bahwa para jurnalis dan seluruh petugas haji harus memiliki kesiapan penuh sebelum bertugas di Tanah Suci. Mereka harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai tanggung jawab petugas, bagaimana alur pelaksanaan ibadah haji, teknis pelayanan kepada jemaah, hingga cara menangani berbagai persoalan ibadah haji.
Tidak hanya itu, Dahnil juga berpesan agar para jemaah haji selalu mempersiapkan fisik sehingga selalu prima. Alasannya, menurut Dahnil, hampir 90% pelaksanaan ibadah haji adalah aktivitas fisik, sehingga memerlukan kondisi fisik yang mumpuni—apalagi bagi petugas haji yang melayani jemaah.
"Harus menjadi perhatian teman-teman terhadap pelayanan, terhadap jemaah. Yang paling krusial itu nanti di Armuzna, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Nah, harus dipastikan semuanya bekerja di bawah satu komando," ujar Dahnil.





