Moms, Anda punya anak usia remaja? Bagaimana usaha mengobrol dengan mereka sejauh ini?
Jika Anda merasa kesulitan, itu wajar, kok! Anda tidak sendirian, karena banyak orang tua lain yang juga sedang mengalaminya. Rasa-rasanya, lebih menantang ketimbang ngobrol dengan toddler yang belum pandai berbicara. Salah nada sedikit, mereka langsung menutup diri. Padahal, di usia ini, mereka justru sedang butuh ruang aman untuk bercerita.
Nah menariknya, cara ngobrol dengan remaja perempuan dan laki-laki ternyata punya pendekatan yang agak berbeda, Moms!
Yuk simak tips dari psikolog anak dan keluarga yang juga founder Ruang Tumbuh, Irma Gustiana, M.Psi, Psikolog.
Cara Ngobrol dengan Remaja Laki-laki“Anak laki-laki punya kecenderungan awkward dengan lawan jenis, even itu adalah maminya sendiri,” ujar Irma yang akrab disapa Ayank ini dalam Kajian Parenting Islami yang diselenggarakan iWise Edu, Rabu (16/1).
Nah karena itu, beberapa pendekatan yang bisa dicoba, seperti:
Duduk berdampingan, side by side atau letter L. Hindari posisi berhadapan langsung, karena bisa terasa seperti sedang diinterogasi.
Jangan terlalu jauh. Usahakan jarak cukup dekat agar Anda bisa menyentuh tangannya atau badannya secara natural.
Sentuhan langsung (skin to skin contact). Misalnya di tangan atau bahu, bukan di area yang tertutup pakaian. Sentuhan kecil sering bikin anak merasa lebih aman.
Hindari pertanyaan template. Ketimbang “Gimana sekolah?” coba yang lebih spesifik, misalnya “Kamu kalau istirahat masih sering makan bareng si X nggak?”
Tak perlu baper kalau anak menolak jawab. Kadang mereka memang belum siap. Mundur sedikit, lalu coba lagi di waktu lain.
Sebagai orang tua, kita perlu terus belajar menghadapi anak, menyesuaikan usianya. Kadang, obrolan paling jujur justru muncul saat kita sedang bersantai nonton TV atau di perjalanan.
Cara Ngobrol dengan Remaja PerempuanBerbeda dengan anak laki-laki, anak perempuan biasanya lebih nyaman ngobrol secara langsung.
Duduk berhadapan. Kontak mata membantu mereka merasa didengar.
Sentuhan lembut. Pegang tangan atau usap bahunya saat bicara.
Nada hangat, jangan menghakimi. Dengarkan dulu penjelasannya sampai selesai.
Perhatikan gesturnya. Kalau terlihat canggung saat cerita, bisa jadi sedang naksir seseorang.
“Anak perempuan kalau (duduk) depan-depanan, sisi emosinya lebih mudah disentuh,” ujar Ayank.
Anak perempuan terkadang hanya ingin didengar, bukan langsung diberi solusi. Kadang cukup bilang, “Oh, jadi kamu ngerasanya begitu ya,” itu saja sudah bikin mereka lega.
Hadir secara Emosional adalah KunciApa pun jenis kelamin anak dan berapa pun usianya, yang paling penting adalah kehadiran kita secara emosional, Moms. Bukan cuma ada di rumah, tapi benar-benar hadir saat mereka butuh didengar.
Mendengarkan penjelasan anak membantu kita memahami sudut pandangnya. Dari situ, kalau ada yang kurang tepat, kita jadi tahu cara meluruskannya tanpa menggurui.
Sebagai sesama orang tua, saya percaya hubungan yang hangat dan terbuka itu dibangun dari hal-hal kecil: duduk berdampingan, menatap mata, menyentuh tangan, dan—yang paling penting—mendengarkan dengan hati.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5414733/original/056595300_1763347294-Ivar_Jenner_Timnas_U-22-5.jpg)