Trump dan Ancaman Disrupsi Global di Davos

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews-Davos, Swiss

Presiden AS memicu ketegangan diplomatik terkait ambisi teritorial atas Greenland di tengah pertemuan elit ekonomi dunia.

Pegunungan Alpen Swiss yang berselimut salju pekan ini menjadi pusat perhatian dunia, namun suasana di balik pintu tertutup World Economic Forum (WEF) terasa jauh dari tenang. 

Kehadiran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membawa bayang-bayang disrupsi global yang masif, mengubah forum kerja sama multilateral ini menjadi panggung unjuk kekuatan ekonomi satu arah.

Davos, yang terletak di pegunungan Alpen Swiss, Lokasi digelarnya World Economic Forum 2026

Tahun ini, Davos mencatatkan rekor partisipasi terbesar sepanjang sejarah. Namun, agenda hijau dan pembangunan berkelanjutan yang biasanya mendominasi, kini tergeser oleh ketegangan geopolitik. 

Fokus utama tertuju pada ambisi luar biasa Trump terkait klaim teritorial atas Greenland sebuah isu yang memicu kecemasan mendalam di kalangan pemimpin Eropa.

Disrupsi sebagai Kebijakan Utama

Dalam laporannya untuk BBC News, Faisal Islam menyoroti kontradiksi kehadiran Trump di forum yang secara historis dibenci oleh basis pendukung "MAGA" (Make America Great Again). 

Meski Gubernur Florida Ron DeSantis sebelumnya menyatakan bahwa "agenda Davos telah mati," Trump justru memilih hadir sebagai "Disruptor-in-Chief."

Setahun lalu, Trump memberikan pesan tegas dari Gedung Putih kepada para eksekutif Eropa: bangun pabrik di AS atau hadapi tarif triliunan dolar. 

"Terserah Anda (Your prerogative)," ujarnya kala itu dengan senyum yang menyembunyikan ancaman serius. 

Kini, ia hadir secara langsung dengan membawa lima anggota kabinet dan delegasi bisnis elit, termasuk Satya Nadella dari Microsoft dan Jensen Huang dari Nvidia.

Visi yang Bertolak Belakang

Kontras antara visi Amerika Serikat dan sekutu Barat lainnya terlihat jelas di koridor Davos. Saat Trump mendorong agenda "USA House" dan tekanan ekonomi, Perdana Menteri Kanada Mark Carney muncul sebagai simbol multilateralisme yang dirindukan Eropa.

"Carney telah melewati setahun kekacauan perdagangan AS dengan ekonomi yang terus tumbuh, menggantikan posisi AS dengan mitra dagang lain," tulis Faisal Islam dalam analisisnya. Carney bahkan baru-baru ini terlihat memperkuat tatanan dunia baru bersama Presiden China, Xi Jinping.

Bayang-bayang Dominasi China

Di tengah retorika AS, delegasi China yang hadir di level menteri keuangan tampil dengan sikap tenang namun mengancam secara teknologi. 

Sebagai eksportir mobil terbesar di dunia, China seolah hanya "mengetuk jam tangan mereka," menunggu waktu untuk supremasi ekonomi dan teknologi yang tak terelakkan.

Pelajaran dari Davos tahun lalu masih membekas, di mana triumfalisme AS mendadak redup oleh kemunculan teknologi AI China yang inovatif. Fenomena ini mempertegas bahwa di sudut-sudut Davos yang paling terang, masa depan sedang dibentuk, seringkali melalui disrupsi yang tidak terduga.

Meskipun banyak pihak mengkritik eksklusivitas Davos, dinamika tahun ini membuktikan bahwa forum ini tetap menjadi titik temu krusial. Di sinilah persimpangan antara ambisi kedaulatan, kekuatan korporasi, dan pergeseran tatanan global benar-benar diuji.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jelang Sidang Perdana, Eks Wamenaker Noel Ungkap Ada Partai dan Ormas Terlibat
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemeriksaan Lanjutan Richard Lee Sebagai Tersangka Tiba-tiba Batal, Alasannya...
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Diskon 50 Persen Iuran Jaminan Kerja bagi Ojek-Sopir hingga Maret 2027
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
HUT ke-37 Yastroki: Stroke Bukan Takdir, Tapi Bencana yang Bisa Dicegah dari Rumah
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Hari Ini Mantan Wamenaker Noel Jalani Sidang Pertama Kasus Pemerasan Sertifikasi K3
• 11 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.