Nilai tukar rupiah semakin terperosok mendekati level 17.000 per dolar AS pada perdagangan awal pekan ini, Senin (19/1). Tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai arah, mulai dari memanasnya tensi geopolitik, perlambatan pemulihan ekonomi domestik, hingga meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi Bank Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,4% ke level 16.954 per dolar AS pada penutupan sore ini. Rupiah paling loyo di antara mata uang Asia lainnya.
Peso Filipina melemah 0,19%, won Korea Selatan 0,16%, rupee India 0,04%, dan dolar Hong Kong 0,01%. Sebaliknya, yen Jepang justru menguat 0,06%, dolar Singapura 0,23%, yuan Cina 0,1%, ringgit Malaysia 0,07%, dan baht Thailand 0,65%.
Apa saja sebenarnya faktor yang membuat rupiah tertekan hingga mendekati 17.000 per dolar AS?
Tekanan Gepolitik Memanas: Greenland hingga Intervensi AS di IranPengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menjelaskan, tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya, tekanan geopolitik yang memanas terkai Greenland hingga intervensi AS di Iran. Kondisi ini membuat posisi dolar AS sebagai salah satu aset aman semakin menguat
Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan rencana tarif impor tambahan sebesar 10% untuk negara yang menghalangi niat AS menguasai Greenland. Ia menyatakan akan memberlakukan tarif tersebut ke delapan negara Eropa, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris Raya mulai 1 Februari 2026.
Trump telah berulang kali menegaskan bahwa ia tidak akan menerima apa pun selain kepemilikan Greenland, yang saat ini menjadi wilayah otonom Denmark. Namun, Para pemimpin Denmark dan Greenland telah menegaskan bahwa pulau itu tidak untuk dijual dan tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Merespons ancaman Trump, Uni Eropa tengah mempertimbangkan untuk mengenakan tarif balasan senilai €93 miliar atau setara Rp 1.827 triliun (asumsi kurs Rp 19.654 per euro) kepada AS hingga membatasi perusahaan Amerika dari pasar di blok tersebut.
Mengutip Financial Times, para pejabat yang mengetahui persoalan ini mengatakan, langkah-langkah pembalasan sedang dirancang untuk memberikan para pemimpin Eropa pengaruh saat melakukan pertemuan penting dengan Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos yang akan berlangsung pada pekan ini. Mereka berupaya berkompromi untuk menghindari keretakan besar dalam aliansi militer Barat tersebut.
Selain akibat masalah Greenland, tekanan geopolitik juga memanas seiring sikap Trump yang tengah mempertimbangkan intervensi terhadap situasi di Iran. Negara ini tengah dilanda unjuk rasa antipemerintah besar-besaran yang diwarnai kerusuhan.
Defisit Fiskal hingga Kondisi Ekonomi RIAriston menilai, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum bisa mencapai 6% meskipun sudah diberikan banyak stimulus oleh pemerintah dan BI juga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terharap rupiah juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi defisit fiskal yang mendekati batas maksimal dalam UU Keuangan Negara sebesar 3% terhadap PDB.
Para analis pun khawatir defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui batas hukum 3%, seiring upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah lemahnya penerimaan pajak.
Kabar Thomas Djiwandono Masuk BI dan Ancaman Independensi Bank SentralAriston tak bisa mengkonfirmasi apakah rencana masuknya Thomas Djiwandono turut memberikan sentimen negatif terhadap rupiah hari ini. Namun, menurut dia, masuknya Thomas ke bank sentral memang menimbulkan kekhawati adanya intevensi pemerintah terhadap kewenangan BI.
"Yang menimbulkan kekhawatiran menurunkan kemandirian BI dalam mengatur kebijakan moneter," ujar Ariston.
Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan Surat Presiden atau Surpres yang berisi tiga usulan nama calon Deputi Gubernur Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat. “Ada beberapa nama yang dikirimkan, salah satunya memang betul ada nama yang kami usulkan adalah Pak Wakil Menteri Keuangan atas nama Pak Tommy Djiwandono,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada wartawan di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (19/1).
Menurut Prasetyo Hadi, Surpres terkait usulan nama calon deputi BI dikirimkan menindaklanjuti pengunduran diri yang telah diajukan Deputi Gubernur BI Juda Agung. DPR akan menindaklanjuti Surpres tersebut dengan menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap para calon sebelum memberikan persetujuan.
“Bapak Presiden atau pemerintah mengirimkan Surpres ke DPR karena memang proses pemilihannya ada di DPR melalui uji kompetensi atau fit and proper test,” ujarnya.
Kabar pengajuan nama Thomas sebelumnya diberitakan Reuters berdasarkan dua sumber anonim. Rencana ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan independensi Bank Indonesia seiring ambisi pemerintah mengejar target pertumbuhan ekonomi.
Para investor khawatir Bank Indonesia kemungkinan berada di bawah tekanan seiring target ambisius pertumbuhan ekonomi Prabowo yang mencapai 8% pada tahun 2029, dari sekitar 5% saat ini. Kekhawatiran ini meningkat, terutama setelah Bank Indonesia meluncurkan kesepakatan pembagian beban baru pada tahun lalu untuk mendanai beberapa program pemerintah.
Thomas sempat menghadiri setidaknya satu tinjauan kebijakan moneter bank sentral sebagai perwakilan menteri keuangan, tetapi tidak memiliki hak suara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.


