FAJAR, SOPPENG — Bengkel Sastra DEMA JBSI FBS Universitas Negeri Makassar menampilkan karya teater bertajuk Akal Ilusi (AI) dalam ajang Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XIX yang digelar di Gedung Serbaguna La Patau, Jl Kesatria, Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Minggu, 18 Januari.
Pertunjukan ini mengangkat konflik realitas panggung yang dialami oleh seluruh unsur pementasan, baik aktor maupun penata, dengan menghadirkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai unsur terbaru dalam penyajiannya.
Akal Ilusi (AI) tidak hanya dimaknai sebagai singkatan dari Akal Ilusi, tetapi juga menjadi simbol kehadiran teknologi AI dalam proses dan peristiwa panggung. Melalui karya ini, Bengkel Sastra memotret benturan antara akal manusia, ilusi artistik, dan intervensi teknologi dalam kerja kolektif teater. Konflik dramatik muncul ketika realitas panggung tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali manusia, melainkan turut dipengaruhi oleh sistem dan logika kecerdasan buatan.
Dalam pementasan tersebut, aktor dan penata tidak sekadar menjalankan fungsi artistik, tetapi menjadi bagian dari konflik yang dibangun. Unsur tata cahaya, suara, visual, serta ritme pertunjukan dirancang untuk berinteraksi dengan AI, sehingga menghadirkan ketegangan antara kendali manusia dan respons teknologi di atas panggung.
Pimpinan Produksi FTMI XIX Bengkel Sastra DEMA JBSI FBS UNM, Ardisa menjelaskan, bahwa penggarapan Akal Ilusi (AI) melalui proses latihan yang dipandu oleh sutradara dalam garapan yang berkolaborasi dengan sesuatu hal baru yang melibatkan teknologi.
“Proses kreatif kami banyak diwarnai eksperimen, kegagalan, dan perdebatan. AI kami posisikan bukan sekadar alat bantu, tetapi sebagai ‘subjek’ yang memengaruhi keputusan artistik di panggung. Dari situlah konflik dan dinamika pertunjukan ini lahir,” ungkap Arsa, sapaannya. (uca)





