Kisah Kakek Firman: 40 Tahun Setia Jadi Loper Koran di Ibu Kota

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di bawah terik matahari dan riuh klakson kendaraan, Firman berdiri di perempatan Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat.

Usianya sudah 70 tahun lebih. Punggungnya sudah tampak sedikit membungkuk, langkahnya tak lagi secepat dulu. Namun setiap hari, ia masih setia menjajakan koran, pekerjaan yang telah dijalaninya lebih dari empat dekade.

Firman bukan sekadar penjual koran. Ia adalah saksi hidup perubahan zaman, dari era ketika kabar ditunggu keesokan hari, hingga hari ini ketika berita tiba hanya dalam hitungan detik lewat layar ponsel.

“Saya jualan koran, Mah, kalau itungan ini sudah tahun 70 ini. Ini sudah 40 tahun lebih saya jualan koran. Dari zamannya HI sampai Kuningan dibuka, jalan Kuningan zaman Ali Sadikin, hahaha,” ujarnya sambil tertawa ketika ditemui di perempatan jalan tempatnya menjajakan koran, pada Senin (19/1/2026).

Hari Firman dimulai sejak pagi. Koran-koran yang ia jual didapatkan dan diantar oleh agen. Namun perjuangan sesungguhnya dimulai saat ia mulai berkeliling dengan berjalan kaki.

“Kalau keliling mah, kalau sampai sini mah kadang setengah 8, jam 8 baru mulai. Ntar jam setengah 12, jam 12 kurang istirahat. Salat dulu. Ntar jam 1 lewat baru mulai lagi. Ntar jam 3 lewat, ashar pulang. Kelar, hehe,” tuturnya.

Rutenya tak jauh. Ia berputar di sekitar lampu merah HOS Cokroaminoto, dari mobil ke mobil, dan kendaraan yang berlalu lalang, dari satu langkah ke langkah lainnya.

“Dari sini aja, lampu merah ini aja, berapa mobil, berapa mobil,” katanya singkat.

Jarak tempuhnya tak pernah ia hitung. Baginya, ukuran kerja bukan kilometer, melainkan langkah yang dilaluinya.

“Kalau itungan begitu, kan lihat langkahnya kita aja. Kita nggak bisa bilang sekian,” ujarnya.

Setiap hari, Firman membawa sekitar 30 eksemplar koran. Jumlah yang jauh berkurang dibanding masa lalu. Dan ia memilih berkata jujur apa adanya.

“Kalau sekarang, Mah, hitungannya ya partai sekitar 30 lebih lah. Kita mah ngomong apa adanya aja, bu,” katanya.

Harga koran bervariasi. Ada yang Rp 4.000, Rp 5.000, hingga Rp 14.000. Majalah mingguan bahkan bisa mencapai Rp 60.000.

Pembelinya beragam, mulai dari pengendara yang kebetulan melintas, pelanggan yang sudah biasa membaca koran, ataupun anak sekolah, hingga mahasiswa yang kebanyakan membeli koran untuk kepentingan tugas.

“Anak sekolah, kadang-kadang orang kuliah. Yang kuliah ini kan, kadang-kadang kalau lagi ada perlunya baru beli. Beritanya yang bagus, dibeli ama dia, ada yang diambil buat kliping, haha,” ucapnya.

Jika koran tak laku, ia akan mengumpulkan dan menjualnya kiloan.

“Disimpan di kilo. Nah, itungannya begitu bu, majalah nggak bisa kembali, semuanya nggak bisa kembali. Sudah hitung uang, setor,” katanya masih dengan tawa khasnya.

Firman paham betul bahwa hari ini berita lebih banyak dibaca lewat telepon genggam. Ia tidak menampik kenyataan itu.

“Iya, ngerti. Kalau orang biasa main handphone, ya handphone. Kalau ada yang biasa baca koran ya koran,” katanya.

Namun, bagi Firman, koran bukan sekadar barang dagangan. Ini adalah kebiasaan, perjalanan hidup, dan cara ia bertahan.

“ Ya, setiap hari lah jalan kaki. Namanya jualan, kan, perjuangan,” ujarnya.

Ketika ditanya soal penghasilan, Firman memilih untuk menjawab dengan candaan.

“Kalau penghasilan saya nggak bisa bilang sekian-sekian. Ibu bisa nebak sendiri lah penghasilan saya bagaimana, nanti kalau saya bilang sekian ah ngebohong,” katanya.

Ia juga tak pernah benar-benar terpikir untuk beralih profesi.

“Bukan masalah profesi itu, ya. Namanya orang udah keenakan. Kita jalanin aja apa adanya, bu. Itu kan menikmati yang penting,” ucapnya.

Menjelang sore, Firman bersiap pulang. Ia kembali ke Parung Panjang, Bogor Barat tempat ia kini menetap bersama keluarga.

“Asar pulang. Waktunya ya pulang,” katanya singkat.

Di usia senjanya, Firman telah merasakan manis dan pahit kehidupan jalanan.

“Dari manis sampe pahit kan, biasanya manis lagi, pahit lagi, kan udah ngerasainlah namanya di jalanan. Suka dukanya sudah biasa gitu,” ujarnya.

Tentang masa depan media cetak, Firman sadar bahwa koran kini kian sempit ruangnya, terutama di kawasan seperti Menteng.

“Di Menteng ini sudah kurang, ibu. Kecuali di pinggiran,” katanya.

Namun ia tetap bertahan. Bukan karena tak tahu perubahan zaman, melainkan karena ia telah lama hidup bersama koran Dan rutinitasnya itu.

“Zaman dulu kan kita itungannya koran, nunggu berita hari ini, besok baru masuk. Kalau sekarang hitungan detik sudah masuk berita. Yang penting sabar aja. Namanya usaha, ya kan,” pungkas Firman.

Di tengah derasnya arus digital, Firman masih setia berdiri di perempatan jalan, menjajakan lembaran kertas yang memuat kabar, juga menyimpan kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan pada profesinya yang perlahan tergerus zaman.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sri Mulyani Digaji Bill Gates Rp 5,5 Miliar per Tahun
• 21 jam lalurealita.co
thumb
Bocoran iPhone 18 Pro Makin Terungkap, Chip A20 Pro hingga Kamera 48MP Jadi Sorotan
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemilu Uganda: Museveni Memenangkan Masa Jabatan ke-7, Pemimpin Oposisi Menyebut Ia Sedang Bersembunyi
• 9 jam laluerabaru.net
thumb
Pertemuan Kilat Prabowo - Dasco di Halim! Terungkap Misi Besar Presiden Temui Raja Inggris
• 10 jam lalusuara.com
thumb
MK Perjelas Perlindungan Hukum Wartawan Dalam UU Pers
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.