Kisah Haru Tanti, Pegawai MBG: Makasih Pak Prabowo Sudah Buka Lapangan Kerja

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tak mudah bagi Tanti Suhermayani untuk mendapatkan pekerjaan. Sebab, usianya sudah menginjak 55 tahun, sehingga kerap dianggap sudah tidak produktif. Tapi ia harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

Pintu harapan terbuka ketika pemerintah yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto menginisiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Seorang kawan mengajak Tanti ikut mendaftar menjadi relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseban, Jakarta Pusat.

Meski ragu karena usianya yang tak lagi muda, Tanti akhirnya mendaftarkan diri dan ternyata diterima. Setelah bekerja di SPPG Paseban selama tiga bulan, Tanti meyakini program MBG tak sekadar memberi makan gratis, tapi juga membuka kesempatan kerja bagi semua kalangan.

Karena itu, Tanti menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo agar program MBG terus dilanjutkan. Menurutnya, program MBG membawa banyak berkah dan manfaat untuk masyarakat.

"Buat Bapak Prabowo, terima kasih Pak, sudah membuat saya kerja di MBG. Sudah membuka lapangan kerja buat kita semua. Sudah memberikan makan sehat yang bergizi, gratis. Harapan saya semoga MBG terus dilanjutkan, jangan sampai berhenti," ujar Tanti dengan mata berkaca-kaca dalam wawancara “Sinergi Indonesia” Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Senin (19/1).

Tanti bercerita awal bergabung ia bekerja di bagian cuci ompreng. Kini Tanti ikut membantu memasak makanan di SPPG Paseban. Ia menuturkan saat ini ada sekitar 43 pekerja di SPPG Paseban yang merupakan warga sekitar. Adik hingga teman Tanti juga bekerja di SPPG Paseban.

"Teman saya sebelum kerja di situ, dia kondisi ekonominya enggak bagus. Dia senang banget sampai cerita sama saya. Katanya, ‘Alhamdulillah bisa memperbaiki ekonomi gue. Enak, betah kerjanya’. Adik saya juga begitu. Walaupun anaknya sudah pada kerja, cuma dia (adik saya) enggak mau mengandalkan anaknya," ucapnya.

Menurut Tanti, manfaat MBG dirasakan rakyat seperti dirinya. Anak-anak sekolah hingga ibu hamil dan menyusui mendapatkan makanan sehat gratis.

"Saya ingin (program MBG) dilanjut terus karena banyak manfaatnya. Buka lapangan kerja, (makanan sehat) buat anak-anak sekolah, buat balita, ibu hamil, ibu menyusui. Itu kan semuanya dapat dari MBG. Sampai cucu saya dapat (MBG). Itu yang saya rasakan, itu anugerah. Berkah deh," ucapnya.

Melihat besarnya manfaat program MBG, Tanti pun merasa bangga menjadi bagian dari program unggulan Presiden ini. "Saya bangga. Bangga karena saya sudah jadi bagian dari programnya Pak Prabowo. Walaupun istilahnya saya cuma nyuci ompreng ya, tapi saya bangga bisa ikut serta jadi bagian program ini," tutupnya.

Cerita Haru Tanti Bujuk Orang Tua yang Tolak MBG untuk Anak

Tanti tahu ia hanya pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Paseban, Jakarta Pusat, yang kesehariannya mencuci ompreng (wadah makan) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia tak tega melihat ada sejumlah siswa, yang juga merupakan teman sekolah anaknya, Amel, tidak ikut menikmati makan siang gratis karena kekhawatiran orang tua mereka.

Tanti, yang akrab disapa Mama Amel, pun membujuk orang tua siswa tersebut agar mengizinkan anaknya menyantap MBG. Selain tidak, si anak pun meminta tolong secara langsung kepadanya agar berbicara ke orang tuanya.

“Waktu saya ke sekolahan tuh, anak-anak saya tuh semua pada makan ya. Terus ada tiga orang anak di luar. Terus saya tanya, ‘kenapa nggak masuk, nggak ikut makan?’ Terus anaknya geleng kepala. Katanya, ‘saya nggak boleh sama mama,’” ucap Tanti.

Tanti mengaku peristiwa itu membuat hatinya terenyuh. Salah satu anak bahkan menangis dan memeluknya erat, meminta agar Tanti menyampaikan kepada orang tuanya supaya ia diperbolehkan ikut menyantap MBG bersama teman-temannya.

“Dia bilang, ‘tolong Mama Amel, saya pengin banget makan MBG.’ Terus dia nangis di pelukan saya,” ujar Tanti.

Keesokan harinya, Tanti berusaha menemui orang tua siswa tersebut. Upaya itu tidak langsung berhasil. Ia bahkan sempat menyampaikan kegundahannya kepada guru di sekolah. Dari sana, Tanti mengetahui bahwa larangan tersebut berasal dari kekhawatiran orang tua terhadap keamanan makanan MBG.

Tak menyerah, Tanti akhirnya bertemu langsung dengan salah satu orang tua. Ia berbicara dengan tenang dan menjelaskan proses masak hingga distribusi MBG, termasuk soal kebersihan, kandungan gizi, serta berbagai faktor yang kerap disalahpahami sebagai penyebab keracunan makanan.

“Saya coba jelasin kalau kejadian keracunan itu banyak faktornya. Ya, memang sih bisa dari makanan. Tapi kan bisa juga dari wadah omprengnya, mungkin dicucinya nggak bersih atau nggak kering. Kalau basah, makanan bisa terkontaminasi bakteri,” jelasnya.

Sebagai pegawai SPPG yang tidak hanya terlibat dalam pencucian ompreng, Tanti juga ikut andil dalam proses memasak dan pengantaran makanan. Karena itu, ia yakin proses penyajian MBG selalu dilakukan dengan standar kesehatan dan kebersihan yang terukur sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).

Pendekatan personal tersebut akhirnya membuahkan hasil. Keesokan harinya, anak tersebut diizinkan makan paket MBG di sekolah. Anak itu bahkan menghampiri Tanti dan mengucapkan terima kasih.

“Dia bilang, ‘Mama Amel, makasih.’ Saya terharu banget,” katanya.

Bagi Tanti, kejadian tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Meski bekerja di balik layar program MBG, ia merasa terpanggil untuk memastikan tidak ada anak yang merasa tersisih hanya karena kekhawatiran yang belum terjawab.

Bangga Ikut Terlibat di Program MBG

Ia tak kuasa menahan kegembiraan dan kebanggaan di hatinya karena bisa ikut terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto. Ia yang kini bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseban, Jakarta Pusat, meyakini MBG tak hanya memberikan makan gratis untuk anak-anak Indonesia, tapi juga menjadi motor dalam membuka lapangan kerja.

“Saya tuh bangga. Bangga kenapa, karena saya udah jadi bagian dari programnya Pak Prabowo. Walaupun istilahnya saya cuma nyuci ompreng ya, tapi saya bangga saja gitu. Bisa ikut serta jadi ikut dari bagian program ini,” ujar Tanti.

Di usianya yang sudah lebih dari 50 tahun, Tanti mengaku tidak percaya bisa diterima bekerja sebagai pencuci ompreng di SPPG. Ia bersyukur faktor usia bukan menjadi halangan baginya bekerja dan berkontribusi untuk program MBG.

“Saya benar nggak percaya, nggak yakin gitu, kok saya bisa diterima. Sedangkan saya kan umur saya kan udah lebih 50 tahun,” tuturnya.

Tanti mengaku merasa nyaman selama tiga bulan bekerja di SPPG Paseban. Apalagi, kata dia, sejak awal ia tak dipersulit untuk mengikuti proses rekrutmen. Banyak pihak yang membantunya seperti membuat SKCK hingga membuka rekening tabungan.

“Alhamdulilah. Saya benar-benar bersyukur di situ diterima di MBG. Apalagi sekarang saya sudah nyaman, sudah enak gitu,” ucapnya.

Menurut Tanti, MBG merupakan anugerah dan berkah bagi rakyat seperti dirinya. Apalagi, MBG bukan cuma dinikmati anak-anak sekolah, melainkan juga ibu hamil dan menyusui. Ia pun berharap program MBG terus dilanjutkan.

"Saya ingin (program MBG) dilanjut terus karena banyak manfaatnya. Buka lapangan kerja, (makanan sehat) buat anak-anak sekolah, buat balita, ibu hamil, ibu menyusui. Itu kan semuanya dapat dari MBG. Sampai cucu saya dapat (MBG). Itu yang saya rasakan, itu anugerah. Berkah deh," ucapnya.

Jelaskan Proses Masak

Tanti sudah tiga bulan bekerja di Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseban, Jakarta Pusat. Awalnya, ia hanya mencuci ompreng atau wadah paket Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, kini ia mulai memasak dan kerap memperhatikan proses pembuatan MBG mulai dari persiapan bahan baku hingga distribusi. Ia menjelaskan semua bahan baku yang masuk ke dapur SPPG melalui proses pemeriksaan ketat sebelum diolah. Tanti menegaskan standar kualitas menjadi perhatian utama sejak bahan pangan tiba di lokasi.

“Begitu bahan baku datang, itu dicek dulu bagus atau enggak, segar atau enggak, layak dimasak atau tidak. Kalau memang sudah layak dan bagus, baru kami terima,” ujar Tanti.

Ia memaparkan alur kerja di dapur MBG berjalan berlapis dan sistematis. Setelah bahan baku dinyatakan layak, proses dilanjutkan ke tahap pemotongan. Setelah itu, bahan yang sudah langsung dimasak, dibagi sesuai porsi, dan disusun ke dalam ompreng.

“Selesai porsian, ompreng disusun sepuluh-sepuluh lalu langsung dikirim ke sekolah-sekolah,” katanya.

Tanti mengatakan semua bekerja sesuai prosedur operasional standar atau SOP. Para pekerja di dapur memakai masker dan sarung tangan. Ia yakin SPPG Paseban menjalani proses pembuatan hingga distribusi MBG sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).

“Semua pakai masker, pakai alat kerja. Saya lihat sendiri karena terjun langsung, jadi enggak perlu diragukan,” tuturnya.

Pengalaman bekerja di SPPG Paseban juga membuat Tanti memahami langsung manfaat program MBG. Salah satu hal yang dirasakannya secara pribadi yaitu program MBG telah membuka lapangan kerja.

Tanti yang sudah berusia di atas 50 tahun mengaku begitu bersyukur bisa kerja di dapur SPPG Paseban. Prosesnya juga tak dipersulit.

“Saya benar nggak percaya, nggak yakin gitu, kok saya bisa diterima. Sedangkan saya kan umur saya kan udah lebih 50 tahun,” kata dia.

Selain itu, ia melihat antusiasme anak-anak sekolah saat menerima makanan bergizi. Anak hingga cucunya yang masih balita juga dapat MBG.

“Saya senang lihat anak-anak makan di sekolah. Anak saya juga dapat MBG, senang banget,” ujar Tanti.

Bertalian dengan itu, Tanti pun kerap mengadvokasi soal MBG ke orang-orang terdekat, terutama ke orang tua yang menolak MBG karena isu soal keamanan makanan. Ia pun berharap program MBG terus berlanjut.

“Harapan saya semoga saja MBG dilanjutin terus,” kata Tanti.

“Yang saya rasakan tuh kayak anugerah. Dari saya kenal, saya terjun di MBG. Anugerah, itu yang saya rasain,” ucapnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
John Herdman Ternyata Sudah Berkomunikasi dengan Beckham Putra, Ini yang Ditanyakan
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Sinergi Brantas Abipraya dan Kementerian PU Perkuat Pemulihan Sumbar Pascabencana
• 9 jam lalusuara.com
thumb
Gelar OTT, KPK Amankan Walikota Madiun-Sita Ratusan Juta terkait Fee Proyek
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Menhub Pastikan Beri Pendampingan dan Layanan yang Dibutuhkan terkait Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Kemenekraf bekerja sama dengan KOCCA untuk tingkatkan ekonomi kreatif
• 15 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.