Pariwisata kerap dipromosikan sebagai sektor unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kawah Ijen adalah pariwisata alam yang melalui fenomena blue fire menarik lonjakan wisatawan domestik dan mancanegara. Namun, di balik ramainya jalur pendakian dan masifnya aktivitas wisata, Kawah Ijen bukan semata ruang rekreasi.
Kawasan ini juga merupakan ruang hidup dan ruang kerja bagi penambang belerang yang selama puluhan tahun menggantungkan penghidupan pada aktivitas berisiko tinggi. Ketika pengembangan pariwisata lebih berorientasi pada jumlah kunjungan tanpa pengelolaan yang adil dan berkelanjutan, kepentingan wisata kerap menggeser keselamatan pekerja dan kelestarian lingkungan. Kondisi ini menimbulkan persoalan overtourism di Kawah Ijen, yang menuntut perhatian lebih dari sekadar kebanggaan atas popularitas destinasi.
Kawah Ijen di Jawa Timur dikenal luas karena fenomena Blue Fire, api biru yang langka dan menakjubkan. Keunikan ini menjadikan Kawah Ijen destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama pada dini hari saat blue fire muncul dan memikat mata. Popularitasnya yang tinggi membuat jumlah pengunjung terus meningkat dari tahun ke tahun, hingga kadang melebihi kapasitas kawasan.
Pembahasan dan Analisis
Fenomena blue fire api biru yang terlihat di dasar kawah akibat pembakaran gas belerang yang unik secara geologi. Kawah Ijen telah menjadi salah satu destinasi wisata alam paling populer di Indonesia. Data kunjungan menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2020, total kunjungan ke Kawah Ijen tercatat sebanyak 25.660 wisatawan, kemudian meningkat hampir empat kali lipat menjadi 102.356 pengunjung pada 2024. Ini mencerminkan rebound kuat pariwisata pascapandemi serta kenaikan minat wisata domestik dan internasional. Lonjakan kunjungan kian terasa pada periode liburan tertentu.
Selama libur Natal 2023 hingga Tahun Baru 2024, Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen mencatat sekitar 15.000 pengunjung dalam 10 hari, atau rata-rata 1.500 orang per hari, meningkat hingga 800% dibandingkan aktivitas wisatawan di akhir pekan biasa. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Kawah Ijen sudah mengalami overtourism, kondisi ketika jumlah wisatawan melebihi kapasitas daya dukung fisik dan sosial kawasan.
Dalam teori carrying capacity pariwisata, setiap destinasi memiliki batas maksimum jumlah kunjungan yang dapat ditampung tanpa menyebabkan degradasi lingkungan atau konflik sosial. Ketika batas itu dilampaui, muncul efek negatif seperti kerumunan, tekanan pada fasilitas, hingga konflik penggunaan ruang. Kawah Ijen saat ini memperlihatkan karakteristik ini dengan jelas.
Overtourism dan Dampaknya bagi Penambang Tradisonal
Kelompok yang paling merasakan dampak langsung dari overtourism di Kawah Ijen adalah penambang belerang tradisional. Aktivitas penambangan belerang di dasar kawah merupakan pekerjaan fisik yang berat dan berisiko tinggi, penambang menuruni kawah yang curam dan beracun, mengambil bongkahan belerang, lalu membawa beban berat kembali ke permukaan. Dalam catatan National Geographic, beban yang diangkut para penambang bisa mencapai 75-90 kilogram per trip dengan kondisi lingkungan yang sangat berbahaya akibat gas belerang dan medan sulit.
Meski menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap Kawah Ijen, penambang tradisional mendapatkan manfaat ekonomi yang jauh lebih kecil dibandingkan pelaku bisnis pariwisata. Berdasarkan data akademik, rata‑rata penghasilan penambang belerang tradisional jauh di bawah pendapatan pelaku jasa wisata seperti operator trolly untuk wisatawan, yang kini jauh lebih menguntungkan secara finansial. Dalam beberapa kasus, banyak penambang beralih profesi karena perbedaan potensi pendapatan yang sangat mencolok ini.
Lebih jauh, overtourism juga mengubah fungsi ruang kerja mereka. Jalur pendakian yang dulu relatif sepi dan hanya digunakan oleh penambang kini dipenuhi wisatawan yang bergerak untuk melihat blue fire di tengah malam hingga pagi dini hari. Ini menimbulkan gangguan terhadap ritme kerja, serta potensi risiko keselamatan yang lebih besar untuk penambang yang harus berbagi jalur dengan arus manusia yang padat.
Teori overtourism juga menjelaskan bahwa ketika pariwisata bertindak tanpa memperhatikan aspek sosial dan budaya lokal, destinasi bukan saja kehilangan kualitas pengalaman wisata, tetapi juga menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi. Dalam konteks Kawah Ijen, hal ini terlihat dari prioritas pengembangan fasilitas wisata seperti rencana pembangunan sky‑way cable car untuk mempermudah akses pengunjung yang berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat lokal yang hidup dari kawah tersebut.
Interaksi antara wisatawan dan penambang juga sering menimbulkan dimensi sosial yang kompleks. Beberapa wisatawan mencatat bahwa penambang belerang sering diminta untuk menjadi latar foto atau objek yang memikat perhatian, tetapi mendapatkan imbalan yang tidak sebanding dengan usaha fisik yang mereka lakukan.
Fenomena seperti ini kerap disebut dalam kajian budaya sebagai bentuk poverty tourism, di mana penderitaan atau kehidupan keras masyarakat lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung tanpa adanya perubahan signifikan terhadap kesejahteraan komunitas tersebut. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara pengalaman wisata yang dicari pengunjung dan realitas kehidupan masyarakat lokal. Tanpa pengelolaan yang serius, tren seperti ini berpotensi memperkuat stereotip negatif, mengabaikan hak‑hak masyarakat lokal, sekaligus memperparah tekanan sosial ekonomi.
Kerangka Teoretis
Artikel ini menggunakan konsep keberlanjutan atau sustainability, yang difasilitasi oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO) bukan sekadar istilah tapi prinsip penting untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi, lingkungan, dan manusia. Dalam pariwisata, konsep ini menuntut agar aktivitas wisata tidak hanya mendatangkan keuntungan, tetapi juga melindungi alam dan menjaga kesejahteraan masyarakat lokal.
Kawah Ijen adalah contoh nyata di mana konsep ini diuji dengan popularitas blue fire menarik ribuan wisatawan, namun bagi penambang belerang, lonjakan kunjungan justru mempersempit ruang kerja dan meningkatkan risiko. Melalui lensa keberlanjutan, masalah overtourism di Kawah Ijen dapat dipahami bukan sekadar soal jumlah pengunjung, tetapi soal keadilan, keselamatan, dan kelestarian yang harus dijaga agar pariwisata benar-benar memberi manfaat bagi semua pihak.
Dalam kajian pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism), prinsip utamanya adalah menyeimbangkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial sehingga destinasi dapat dinikmati oleh generasi masa depan tanpa merusak ekosistem atau kesejahteraan masyarakat lokal. Studi terkini menyebutkan bahwa pengelolaan wisata Kawah Ijen perlu mempertimbangkan keterlibatan masyarakat lokal, konservasi alam, dan edukasi pengunjung agar terjadi harmoni antara manfaat ekonomi dan kelestarian kawasan.
TWA Kawah Ijen idealnya hanya mampu mengakomodasi sekitar 165.600 wisatawan per tahun tanpa mengorbankan fungsi sebagai kawasan konservasi alam. Hal ini menggarisbawahi fakta bahwa kunjungan yang jauh melebihi angka tersebut dapat mengakibatkan tekanan lingkungan dan sosial yang signifikan jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
Rekomendasi dan Penutup
Untuk menjadikan Kawah Ijen sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan, adil, dan aman bagi semua pihak, kita berangkat dari rekomendasi strategis yang akan membawa perkembangan:
Pembatasan Jumlah Pengunjung, kawasan perlu menerapkan kuota harian pengunjung yang berdasarkan pada kapasitas daya dukung fisik dan sosial kawasan. Pembatasan ini dapat membantu mengurangi kepadatan pada jalur pendakian serta memberi ruang lebih aman bagi penambang tradisional untuk bekerja. Zonasi Fasilitas dan Jalur Terpisah, menetapkan jalur yang berbeda antara wisatawan dan aktivitas penambang agar kedua pihak bisa beraktivitas tanpa saling mengganggu.
Zonasi ini juga dapat mengurangi risiko kecelakaan dan konflik ruang. Pemberdayaan dan Keterlibatan Masyarakat Lokal, Pemerintah dan pengelola wisata perlu mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan pemandu lokal, kemitraan usaha wisata, atau insentif ekonomi yang memberi manfaat lebih besar bagi penambang dan keluarga mereka.
Kebijakan Pariwisata Berkelanjutan, pengelolaan Kawah Ijen harus mempertimbangkan perlindungan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan nilai budaya lokal secara seimbang. Hal ini termasuk investasi dalam edukasi pengunjung dan penghargaan terhadap kehidupan tradisional lokal. Edukasi Wisatawan, edukasi tentang dampak sosial-ekonomi dan ekologis perlu disosialisasikan kepada para pengunjung melalui signage, brosur, atau pemandu wisata, sehingga wisatawan lebih sadar dan bertanggung jawab selama berada di kawasan.





