Korban Bertambah, Seorang Perempuan Ngaku Rugi Rp1 M Terkait Dugaan Penipuan Trading Kripto Seret Nama Timothy Ronald

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kasus dugaan penipuan investasi kripto yang menyeret nama Timothy Ronald terus bergulir dan kini memasuki babak baru. Jumlah korban kembali bertambah.

Kali ini, seorang perempuan muda bernama Agnes Stefani (25) muncul ke permukaan, membawa kisah kerugian yang nilainya tak main-main, yaitu lebih dari Rp1 miliar. Didampingi penasihat hukumnya, Agnes mendatangi Polda Metro Jaya. Laporannya diterima, tercatat dengan nomor LP/B/483/1/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.

Baca Juga :
Inara Rusli Cabut Laporan, Insanul Fahmi Tetap Dipanggil Polisi Besok! Ada Apa?
Satu Orang Tewas Imbas Banjir di Jakarta Timur

Agnes bukan pendatang baru di dunia kripto. Selama lima tahun berkecimpung di industri tersebut, ia mengaku sudah terbiasa dengan risiko, volatilitas, dan naik-turun pasar. Justru karena pemahaman itulah, ia merasa cukup yakin ketika pertama kali mengenal Timothy Ronald melalui media sosial.

"Saya kenal dengan beliau tuh melalui Instagram," kata Agnes dikutip Selasa, 20 Januari 2026.

Keyakinan itu kemudian membawanya bergabung dengan Akademi Crypto pada periode 2023 hingga 2024. Komunitas tersebut dikemas sebagai platform edukasi kripto dengan layanan eksklusif, mulai dari diskusi mendalam hingga berbagi sinyal transaksi melalui Discord.

Namun seiring waktu, gambaran ideal yang ditawarkan di awal mulai retak. Visi dan misi yang dipaparkan, menurut Agnes, tak pernah benar-benar terwujud. Ketika pertanyaan dan keluhan mulai bermunculan, ruang komunikasi justru mendadak tertutup.

"Dan ada beberapa case seperti kita yang komplain dan kita di-kick dari grup atau di room chat-nya dimatiin seperti itu," katanya.

Janji yang disampaikan sejak awal terdengar menggiurkan. Tingkat kemenangan tinggi diklaim seolah hal lumrah di dunia kripto. Kenyataannya, pengalaman Agnes justru berbanding terbalik. Bukannya untung, saldo investasinya terus terkikis.

"Win rate yang ditawarkan pasti puluhan persen. Ya nyatanya tidak sesuai itu sih," ujar Agnes.

Kecurigaan Agnes mencapai puncaknya ketika salah satu koin yang dipromosikan, MANTA, mengalami kejatuhan harga. Di titik itu, ia mulai merasa ada yang tak beres. Ia tak lagi merasa sedang belajar, melainkan seperti menjadi bagian dari skema yang merugikan.

Meski demikian, Agnes menegaskan dirinya tidak pernah tergiur konten pamer kekayaan atau flexing yang marak di media sosial. Sejak awal, ia menganggap dunia maya penuh ilusi. Keputusan bergabung ke kelas tersebut murni didorong keinginan untuk belajar secara terstruktur, layaknya sekolah dengan pengajar yang kredibel.

Baca Juga :
Viral Mayat Mengambang Saat Banjir Bekasi, BPBD Ungkap Fakta Sebenarnya
Pemeriksaan Lanjutan Richard Lee Sebagai Tersangka Tiba-tiba Batal, Alasannya...
Pencarian Dipersempit, Tim SAR Fokus Cari Korban Pesawat ATR di Bulusaraung

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gubernur Pramono Persilakan Buruh Gugat UMP Jakarta ke PTUN: Ini Negara Demokrasi
• 9 jam lalusuara.com
thumb
Xiaomi Siap Bawa Redmi Buds 8 Lite dan Mijia Smart Audio Glasses ke RI
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Pin Prioritas LRT Jabodebek: Kriteria Penerima dan Cara Mendapatkan
• 10 jam laludetik.com
thumb
Damaskus terapkan gencatan senjata menyeluruh di Suriah utara
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Komentar Menohok Sule Atas Permohonan Teddy Pardiyana soal Ahli Waris
• 14 jam laluinsertlive.com
Berhasil disimpan.