REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Rendahnya literasi kesehatan dan stigma sosial menjadi hambatan utama dalam memulai pengobatan tuberkulosis (TBC). Hal ini disampaikan oleh Dr. Nastiti Kaswandani, dokter spesialis anak subspesialis respirologi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, saat diwawancarai di Jakarta, Senin.
Menurut Dr. Nastiti, banyak pasien atau orang tua dari pasien belum sepenuhnya sadar akan bahaya TBC, sehingga sering menyepelekan pengobatan. "TBC dapat menyebabkan kematian, kecacatan, dan pada anak-anak bisa mengganggu tumbuh kembang," ujarnya, menyoroti rendahnya pengetahuan masyarakat sebagai faktor utama.
Stigma juga menjadi penghalang signifikan. Banyak pasien merasa malu ketika terdiagnosis TBC, sehingga istilah "flek" sering digunakan oleh dokter meskipun istilah ini tidak ada dalam kamus medis. "Padahal yang sebenarnya terjadi adalah TBC," tambah Dr. Nastiti.
Ketakutan terhadap efek samping obat, seperti dampak pada liver, juga menjadi penghambat. Dr. Nastiti menjelaskan bahwa gangguan liver saat pengobatan TBC bersifat sementara dan dapat kembali normal dengan penyesuaian atau penghentian sementara obat.
Pengobatan TBC membutuhkan waktu minimal enam bulan. Kementerian Kesehatan berencana menambah anggaran khusus untuk mempercepat deteksi TBC pada 2026, dengan fokus pada perluasan akses layanan skrining dan diagnosis terutama di daerah dengan kasus tinggi.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476828/original/042193700_1768799843-WhatsApp_Image_2026-01-19_at_12.13.41.jpeg)

