Mearsault menepi ke Bandung, kota yang dia impikan sejak masa kecilnya saat sering mendengar kisah Sangkuriang, cerita rakyat dari tanah Sunda yang melegenda di seluruh Indonesia.
Mearsault membayangkan bahwa semua perempuan di tanah Sunda seperti Dayang Sumbi, cantik jelita yang hanya mengkonsumsi tanaman mentah. Cerita tersebut tertanam kuat di alam bawah sadarnya, bahkan ketika menyadari bahwa begitu banyak artis nasional yang berasal dari Jawa Barat.
Mearsault sangat menggandrungi buku Albert Camus karena memberikan validasi pada dirinya yang menjalani hidup dalam absurditas, meragukan semua hal, dan menganggap mengejar nilai-nilai moral kehidupan adalah kekonyolan belaka.
Daripada menghabiskan energi untuk mencoba menemukan hikmah dalam kehidupan ini, lebih baik menjalani dengan riang gembira seperti yang dilakukan oleh Sisifus ketika menjalani rutinitas hukum yang tiada akhir.
Dalam pengantar bukunya Caligula, Albert Camus menulis dengan sangat provokatif: "Umur 20an tahun adalah masa ketika seseorang meragukan segala sesuatu kecuali dirinya sendiri."
Ya, kita merasa menjadi poros kehidupan di usia remaja, tidak tersisa ketakutan yang menghancurkan eksistensi. Bahkan, dalam hal yang paling berbahaya sekalipun, semua akan diterjang.
Maka, pelanggaran terhadap hal-hal yang berbau norma di tengah masyarakat hanyalah karena ketaatan berlebihan terhadap kebenaran yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang seniman; benar bahwa dalam dunia seni, tidak ada batasan norma yang mengekang. Nilai hanya tergantung pada sudut pandang yang sangat subjektif.
Meursault menjumpainya duduk termangu di sudut bangku kosong pada sore menjelang gelap. Sambil menatap riuh pengunjung di sepanjang jalan Asia Afrika, dia duduk dengan anggun sambil menikmati jajanan yang dibungkus plastik bening. Dia mengenakan baju kaus warna hitam dengan gambar band metal, rambutnya dibiarkan terurai, seperti membiarkan angin menyerap ke popi-pori kulit kepalanya yang remuk dihantam badai.
Sore seperti ini, kawasan Braga memang sedang sesak-sesaknya. Tumpah ruang anak muda menemukan eksistensinya di sini, memotret diri membelakangi sunset, kemudian diposting di instagram dengan berbagai caption yang patuh pada suasana hati.
Wajahnya lusuh, tapi tetap menyisakan pesona yang menarik, tidak terlalu putih dengan wajah khas perempuan Sunda, jelita nan menawan.
Seorang perempuan yang sedang menunggu sesuatu, diri yang telah menghilang menjadi diri yang liyan. Dia benar-benar termangu dalam kesepian, tapi tidak dalam kesendirian.
Setiap dia mengubah posisi duduknya, bangku trotoar yang sudah mulai lapuk ikut berderik. Seolah mengeluh menahan beban usia dan kesepian.
Mearsault menyadari bahwa dia menemukan dirinya pada perempuan itu. Terkesan tenang, tapi sedang bergulat dengan riuh di kepala tentang perdebatan panjang dalam dirinya yang tak kunjung usai. Perempuan itu menggugat semua, bahkan pada eksistensi sang Maha Kuasa.
“Kau sedang bercakap dengan Tuhan?” tanya Meursault.
Aku percaya pada apa yang ada di kepalaku, tentang kesadaran yang harus selalu diperjuangkan. Sejak aku duduk di sini selama tujuh jam, mungkin hanya sekitar sepuluh menit diriku sadar, selebihnya hanya ilusi.
“Bukankah sebagian besar hidup memang begitu?”
Perempuan itu menunjukkan mata yang berbinar, mengangkat dagu dan mulai menatap Mearsault, lalu memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang melumat kesadaran Mearsault.
Ketika kau sedang bertanya "Apa yang ada dipikiranku?" apakah kau menyadari semua yang kau tanyakan? Atau bahkan hanya basa-basi sosial, kosong agar manusia tidak saling merasa asing?
Aku akan mengotbahkan alegori manusia gua Plato. Bayangkan kita semua terikat di dalam gua sejak lahir. “Punggung kita menghadap pintu keluar. Yang kita lihat hanya bayangan di dinding, gerak semu, pantulan cahaya, ilusi. Namun, kita menyebutnya kenyataan.
Kesadaran palsu, kata Marx.
Selebihnya hanyalah pertimbangan sosial. Kau seperti orang yang tersesat di tengah padang pasir, terus bertanya arah; bukan karena percaya kau benar-benar ingin mengetahui jalan keluar, melainkan karena takut pada kesunyian.
Pertanyaan menjadi oasis palsu. Kita minum darinya, meski tahu itu hanya fatamorgana.
Setelah ini, kita akan pulang ke kos masing-masing. Menerima bahwa hidup memang adalah cara semesta menyiksa kita. Namun dari setiap penyiksaan, kita punya pilihan:
Menjadi Sisifus atau memilih memberontak terhadap kehidupan yang absurd.




