CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Meski telah memangkas tingkat suku bunga acuan secara signifikan, tiga kali berturut-turut hingga Desember 2025, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) masih diharapkan untuk menurunkannya lagi.
Wakil Ketua Bidang Pengawasan The Federal Reserve (The Fed) Michelle Bowman memberikan sinyal kuat kebijakan moneter AS saat ini masih bersifat membatasi.
Ia mendesak otoritas moneter tersebut untuk siap menurunkan suku bunga lebih lanjut guna mencegah kerusakan yang lebih dalam pada pasar tenaga kerja.
Dalam pidatonya di New England Economic Forum, Foxborough, Bowman menekankan para pejabat The Fed tidak boleh terburu-buru memberikan sinyal untuk menghentikan pemotongan suku bunga.
Menurut pandangannya, risiko pelemahan lapangan kerja masih sangat nyata. "Tanpa perbaikan kondisi pasar tenaga kerja yang jelas dan berkelanjutan, kita harus tetap siap menyesuaikan kebijakan agar suku bunga bisa mendekati level netral," ujar Michelle Bowman dalam naskah pidatonya seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (17/1/2026).
Berbeda dengan rekan-rekannya di The Fed yang mulai menyuarakan jeda pemotongan suku bunga, Bowman justru memperingatkan agar bank sentral tidak bersikap pasif.
Ia menilai, menyatakan jeda tanpa adanya perubahan kondisi ekonomi yang signifikan akan menunjukkan The Fed tidak responsif terhadap dinamika pasar kerja.
"Pandangan saya adalah kita harus terus fokus pada risiko mandat ketenagakerjaan dan secara proaktif menstabilkan serta mendukung kondisi pasar tenaga kerja," tambahnya.
Mengenai inflasi, Bowman melihat tekanan harga mulai mereda, terbantu oleh berkurangnya dampak tarif perdagangan.
Bulan lalu, The Fed telah memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Akan tetapi, untuk pertemuan pada 27-28 Januari mendatang, banyak investor memprediksi suku bunga akan dipertahankan karena inflasi yang dianggap masih bandel.
Data terbaru menunjukkan pemberi kerja di AS menambah lebih sedikit lapangan kerja daripada yang diperkirakan pada bulan Desember lalu.
Kondisi ini menutup tren perlambatan pasar kerja sepanjang tahun yang ditandai dengan perekrutan yang sangat hati-hati, meskipun tingkat pengangguran sedikit turun ke angka 4,4%.
The Fed memiliki tugas utama yang dikenal sebagai dual mandate, yaitu menjaga stabilitas harga alias inflasi AS serta memaksimalkan tingkat penyerapan tenaga kerja.
Sepanjang 2025, bank sentral AS ini dihadapkan pada tantangan besar. Mereka harus menyeimbangkan suku bunga tinggi untuk memerangi inflasi tanpa menyebabkan resesi atau lonjakan pengangguran.
Pernyataan Michelle Bowman mencerminkan kekhawatiran kebijakan moneter yang terlalu ketat dalam waktu lama dapat memicu "pendaratan keras" (hard landing) bagi ekonomi AS.
Di tengah transisi kepemimpinan politik dan kebijakan tarif baru, arah kebijakan suku bunga The Fed pada awal 2026 ini menjadi kompas utama bagi pasar keuangan dunia untuk memprediksi stabilitas ekonomi global setahun kedepan.




