Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari chatbot yang menawarkan teman bicara hingga algoritma yang menentukan konten apa saja yang muncul di layar smartphone kita.
Namun, seiring teknologi AI generatif (genAI) menjadi semakin komunikatif, imersif, dan tampak responsif secara emosional, muncul pertanyaan serius di kalangan klinisi kesehatan mental tentang apakah genAI berpotensi memperburuk, atau bahkan memicu, psikosis pada individu yang rentan?
Large languange model (LLM) dan chatbot saat ini sangat mudah diakses publik, bahkan sering diposisikan sebagai alat yang suportif, empatik, atau menyerupai terapi. Bagi sebagian besar pengguna, sistem ini memang membantu, atau setidaknya tidak menimbulkan dampak berarti.
Meski begitu, belakangan banyak individu yang mengalami gejala psikotik, di mana interaksi dengan ChatGPT dan sistem AI serupa disebut berperan cukup berpengaruh.
Bagi kelompok kecil yakni mereka yang memiliki gangguan psikotik atau berisiko tinggi mengalaminya, interaksi dengan genAI bisa menjadi jauh lebih kompleks dan berbahaya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendesak bagi dunia medis dan kesehatan mental.
Ketika AI Masuk ke Dalam Sistem Keyakinan DelusionalIstilah “AI psychosis” bukanlah diagnosis psikiatri resmi. Ini lebih merupakan istilah singkat yang mulai digunakan klinisi dan peneliti untuk menggambarkan gejala psikotik yang dibentuk, diperkuat, atau terstruktur melalui interaksi dengan sistem AI.
Alexandre Hudon, psikiater medis dan peneliti klinis sekaligus asisten profesor klinis di Departemen Psikiatri dan Adiktologi Universite de Montreal, menjelaskan psikosis ditandai dengan terputusnya kontak dengan realitas bersama. Halusinasi, delusi, serta pola pikir yang tidak terorganisir menjadi ciri utamanya. Dalam praktiknya, delusi kerap mengambil bahan dari konteks budaya termasuk agama, teknologi, atau kekuasaan politik untuk memberi makna pada pengalaman batin seseorang.
Sebagian pasien melaporkan keyakinan bahwa genAI memiliki kesadaran, menyampaikan kebenaran rahasia, mengendalikan pikiran mereka, atau bekerja sama dalam sebuah misi khusus. Pola ini sejatinya bukan hal baru dalam psikosis, tetapi AI menambahkan unsur interaktivitas dan penguatan yang tidak dimiliki teknologi sebelumnya.
Risiko Validasi Tanpa Koreksi RealitasHudon menjelaskan, psikosis sangat berkaitan dengan fenomena aberrant salience, yakni kecenderungan memberi makna berlebihan pada peristiwa yang sebenarnya netral. Sistem chatbot AI, secara desain, menghasilkan bahasa yang responsif, koheren, dan relevan dengan konteks. Bagi seseorang yang sedang mengalami gejala psikosis awal, respons ini bisa terasa sangat memvalidasi.
Riset menunjukkan bahwa konfirmasi dan personalisasi dapat memperkuat sistem keyakinan delusional. GenAI dirancang untuk mempertahankan percakapan, mencerminkan bahasa pengguna, serta menyesuaikan respons dengan maksud yang terdeteksi.
Bagi kebanyakan orang, hal ini tidak berbahaya. Namun, bagi individu dengan kemampuan uji realitas yang terganggu, yakni kemampuan membedakan pikiran dan imajinasi internal dengan realitas objektif, interaksi ini berpotensi memperkuat tafsir yang menyimpang.
Di sisi lain, isolasi sosial dan kesepian juga diketahui meningkatkan risiko psikosis. Kehadiran teman AI mungkin mengurangi rasa sepi dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi menggantikan relasi manusia yang nyata.
Fenomena ini terutama berisiko bagi individu yang sudah menarik diri dari lingkungan sosial. Meski memiliki kemiripan dengan kekhawatiran lama soal penggunaan internet berlebihan dan kesehatan mental, kedalaman percakapan genAI modern menghadirkan tantangan yang berbeda secara kualitas.
Apa Kata Riset dan Apa yang Masih Menjadi Tanda Tanya?Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa AI secara langsung menyebabkan psikosis.
“Gangguan psikotik bersifat multifaktorial, melibatkan kerentanan genetik, faktor perkembangan saraf, trauma, hingga penggunaan zat tertentu. Namun, ada kekhawatiran klinis bahwa AI dapat menjadi faktor pemicu atau pemelihara gejala pada individu yang rentan,” papar Hudon dalam The Conversation.
Laporan kasus dan studi kualitatif tentang media digital dan psikosis menunjukkan bahwa tema teknologi kerap terintegrasi dalam delusi, terutama pada episode psikosis pertama.
Riset tentang algoritma media sosial juga telah membuktikan bagaimana sistem otomatis dapat memperkuat keyakinan ekstrem melalui mekanisme pengulangan. Sistem chatbot AI berpotensi menghadirkan risiko serupa jika pengaman (guardrails) yang diterapkan tidak memadai.
Perlu dicatat, sebagian besar pengembang AI tidak merancang sistem mereka dengan mempertimbangkan pengguna dengan gangguan mental berat. Mekanisme keamanan umumnya berfokus pada pencegahan bunuh diri atau kekerasan, bukan psikosis. Di sinilah terlihat jurang antara pengetahuan kesehatan mental dan penerapan teknologi AI.
Pertanyaan Etis dan Implikasi KlinisDari sudut pandang kesehatan mental, tantangannya bukanlah menstigma atau mendemonisasi AI, melainkan memahami bahwa setiap individu memiliki tingkat kerentanan yang berbeda.
Sebagaimana obat atau zat tertentu lebih berisiko bagi penderita gangguan psikotik, bentuk interaksi AI tertentu juga mungkin memerlukan kehati-hatian khusus.
Para klinisi mulai menemukan konten terkait AI dalam delusi pasien, tetapi panduan klinis tentang cara menilai dan menanganinya masih sangat terbatas. Apakah penggunaan genAI perlu ditanyakan layaknya penggunaan zat adiktif? Haruskah sistem AI dirancang untuk mendeteksi dan meredam ideasi psikotik, alih-alih menanggapinya begitu saja?
Pertanyaan etis juga mengemuka bagi para pengembang. Jika sebuah sistem AI tampil empatik dan otoritatif, apakah ia memikul tanggung jawab tertentu? Dan siapa yang bertanggung jawab ketika sebuah sistem tanpa sengaja memperkuat delusi pengguna?
Menjembatani Desain AI dan Perawatan Kesehatan MentalAI tidak akan pergi dari kehidupan manusia. Tantangan ke depan adalah mengintegrasikan keahlian kesehatan mental dalam desain AI, meningkatkan literasi klinis tentang pengalaman terkait AI, serta memastikan pengguna yang rentan tidak mengalami dampak yang tidak diinginkan.
“Upaya ini menuntut kolaborasi lintas bidang—antara klinisi, peneliti, ahli etika, dan teknolog. Selain itu, diperlukan sikap kritis terhadap narasi berlebihan, baik yang terlalu utopis maupun distopis, demi diskusi yang berbasis bukti,” jelas Hudon.
Ketika AI semakin menyerupai manusia, pertanyaan besarnya adalah, bagaimana melindungi mereka yang paling rentan terhadap pengaruhnya?
Hudon bilang, psikosis selalu beradaptasi dengan alat budaya pada masanya. AI hanyalah cermin terbaru yang digunakan pikiran manusia untuk memahami dirinya sendiri. Tanggung jawab kolektif kita adalah memastikan cermin ini tidak semakin mendistorsi realitas bagi mereka yang paling sulit mengoreksinya.





