REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ayat Kursi bukan sekadar ayat yang dihafal sejak kecil atau dibaca berulang kali sebagai wirid harian. Ia adalah benteng tauhid yang dibangun dengan kata-kata, mengunci celah ketakutan manusia, dan menegakkan kesadaran bahwa seluruh semesta berada dalam genggaman satu kekuasaan yang tak pernah lengah. Setiap kalimatnya seperti palu yang meruntuhkan ilusi tentang kekuatan selain Allah, sekaligus menenangkan hati yang lelah menghadapi dunia yang rapuh dan berubah-ubah.
Di balik kepopulerannya sebagai ayat perlindungan, tersimpan rahasia makna yang jauh lebih dalam: Ayat Kursi adalah peta akidah, ringkasan keimanan, dan deklarasi kemerdekaan ruhani manusia dari segala bentuk ketergantungan selain Allah. Para ulama tafsir besar menyelaminya bukan hanya sebagai teks suci, tetapi sebagai bangunan makna yang kokoh mengajarkan siapa Allah, siapa manusia, dan di mana posisi alam semesta dalam tatanan Ilahi.
- KPK Ungkap Perkara Dugaan Korupsi yang Berujung pada Penangkapan Bupati Pati Sudewo
- Indonesia Masters 2026 Resmi Dimulai, 17 Wakil Merah Putih Tampil di Istora Hari Ini
- Wapres Gibran ke Tasikmalaya, Kunjungi Pasar Rakyat hingga Pesantren Berbasis AI
Berikut ini adalah bunyi Ayat Kursi yang merupakan ayat ke-255 Surah al-Baqarah
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
.rec-desc {padding: 7px !important;}allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Rahasia Ayat KursiTafsir Mafātīḥ al-Ghaib (Tafsir al-Kabīr) Fakhruddin ar-Razi dan Tafsir ath-Thabari, menjelaskan kandungan ayat kursi sebagai berikut:
Ayat Kursi (QS. al-Baqarah: 255) menempati posisi istimewa dalam Alquran. Ia bukan sekadar ayat tentang keagungan Allah, melainkan ringkasan tauhid dalam bentuk paling padat, paling dalam, dan paling menyeluruh. Para ulama tafsir menyebutnya sebagai sayyidul ayāt—penghulu seluruh ayat—karena kandungannya mencakup fondasi akidah Islam secara utuh.
Asbābun Nuzūl Ayat KursiDalam Tafsir ath-Thabari, diriwayatkan bahwa Ayat Kursi turun sebagai penegasan tauhid murni di tengah tradisi keagamaan yang masih dipenuhi konsep perantara, sesembahan, dan kekuatan kosmik selain Allah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk mematahkan keyakinan Yahudi dan musyrikin Arab yang menganggap malaikat, nabi, atau makhluk tertentu memiliki otoritas ilahi atau kemampuan memberi syafaat tanpa izin Allah.


